Kebon (139)

Total Delete Emha Dari Media

Foto dan Ilustrasi oleh Adin (Dok. Progress).

Dari era ke era dalam kehidupan pasti ada orang yang saya kagumi, sekilas-sekilas atau dalam hal-hal tertentu. Sekitar saya berusia 4 tahun di sisi Gerdu Etan Menturo ada seorang laki-laki bertapa. Posisi bersila, kedua tangan bersedekap seperti Budha, kedua mripatnya terpejam. Ketika saya bersama teman-teman sesama anak kecil melihatnya, si pertapa ini seluruh badannya dikerubungi semut. Ribuan. Mungkin puluhan ribu semut. Hitam maupun merah. Ketika itu pastilah saya tidak mampu merumuskan apa-apa, selain ada rasa kagum di dalam dada saya.

Di saat lain di Jalan Taitambung Menturo juga ada gelandangan perempuan buta, yang kelak saya ketahui bernama Gadri, berpakaian sangat kumuh, berjalan tertatih-tatih dalam keadaan perutnya hamil besar. Orang-orang di sekitar terdengar berbisik: “Ojo ngrèmèhno Rèk. Biasae ngéné iki anake mené-mene dadi Presiden, pokoké wong gedhé”.

Taburan dan perseliweran wacana nilai-nilai semacam itu yang membesarkan hati dan pikiran saya di desa. Apalagi di Menturo saya banyak sekali menjumpai kejadian-kejadian yang luar biasa. Impresi-impresi filosofis dari pengalaman masa kanak-kanak terbawa sampai usia tua saya sekarang. Terutama tradisi tiap malam tidur di Langgar dan para senior seperti Markesot, Guk Nuri, Guk Makin, Guk Khoiri dll menuturkan dongeng-dongeng sambil kami semua berbaring berjajar di tikar Langgar.

Kisah-kisah “Kasan-Kusèn”, “Andé-andé Lumut”, “Joko Kendhil”, “Thok-thok Kerot”, “Kinjeng Dom”, sangat membekas di dalam jiwa saya dan teman-teman sebagai ajaran, landasan dan pedoman moral, filosofi, ketenangan menghadapi curva nasib, berputarnya senang dan sedih, dan segala macam pengalaman yang sangat berguna menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.

Semua itu merupakan himpunan percikan-percikan atau tetes-tetes air kekaguman di padang pasir jiwa saya yang kering. Tetapi kalau per-manusia utuh, sejauh ini yang lulus, permanen dan makin mendalam saya kagumi hanyalah Kanjeng Nabi Muhammad Saw dan para Nabi Rasul lainnya. Itu pun karena Muhammad bukanlah ciptaan atau karya Muhammad sendiri, melainkan bikinan Allah, maka kekaguman kepada Kanjeng Nabi mengalir ke sumber asal-usulnya yakni Allah Swt itu sendiri.

Yang saya tidak pernah sangka adalah bahwa di usia tua saya sekarang, tatkala dunia dikuasai oleh teknologi Dunia Maya di abad 21 ini, ragam, jenis dan sasaran kekaguman saya bertambah. Dulu hanya An-Nabi dan para Anbiya`, sekarang bertambah. Bahkan yang terakhir itu jumlahnya tak bisa saya hitung. Mungkin ada miliaran Al-Musta’milul Antirnat dan Al-Mustakhdim Al-Antirnat, ada sekian juta atau ratusan ribu Al-Jaras Al-Antirnat dalam Al-Qadla As-Sybraniy.

Di sana sini, setiap hari, orang-orang sibuk berbuat baik satu sama lain, yang sebagian ini kerja rutinnya nyoloooong saja. Sementara orang-orang saling melindungi sesama manusia, yang sebagian ini nyopeeeeeet saja kerjanya. Sementara sekitarnya sibuk beribadah kepada Tuhan, sebagian orang yang saya kagumi ini kerjanya njambreeeeet saja. Njambret content-content ucapan, wajah dan nama, kemudian direkayasa, didramatisir, dibiaskan, dilunturkan, dipelekotho, dipermusuhkan dengan lainnya, diadudomba, atau minimal dipasarkan tanpa izin kepada empunya haknya.

Bagaimana mungkin saya tidak kagum. Tidak pernah saya sangka bahwa manusia bisa sejahat itu. Bisa setega itu hatinya mecelakakan orang lain. Setenang itu melanggar hal-hal yang bukan haknya. Setenteram dan terus-menerus mengerjakan kejahatan demi kejahatan dengan penuh ketelatenan dan kerajinan.

Ada  yang bekerja men”dakwah”kan suatu kepentingan kekuasaan melalui Al-Antirnat, untuk memperoleh upah permanen dan berkala, dari pemesannya maupun dari pasarnya. Ada yang sebatas Al-Ma’ilin, mencari nafkah penyambung hidup keluarganya. Tetapi tidak sedikit yang memang sengaja meng-Iblis-i kehidupan manusia, men-Setan-i masyarakat dan Negara, men-Dajjal-i bebrayan dengan  cara menginjak-injak dan menghancurkan paugeran kemanusiaan.

Semua itu saya sangat mengagumi sampai tingkat yang serius. Mereka adalah patriot-patriot yang pantang mundur dan tidak punya saraf takut untuk tak henti-hentinya menyebarkan hasil pencurian mereka, manipulasi dan eksploitasi, kebohongan, pendhaliman, penganiayaan terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Otomatis juga terhadap diri, wajah, suara dan narasi siapapun saja yang terkait dengan kebenaran yang dimanipulasi itu.

Mereka adalah jenis hewan pemakan segala. Semacam Fa`r Al-Majari, tikus got yang apapun saja dikrikiti asal menguntungkan baginya secara materiil atau politis. Bahkan barang-barang yang benar dan baik pun mereka makan dari hasil curian. Mereka adalah Syabakatus Sariqin. Jaringan Pencuri. Mereka adalah Jirdzan wa Jirdzun. Branding utama mereka adalah packaging yang antara lain berupa judul-judul unggahan yang bombastis, lebai, kampungan, penuh bara api nafsu dan pamrih.

Saya sendiri olah Jam’iyatus Sariqin itu tergambarkan sebagai orang yang nafsuuuuuu banget untuk berbicara dan berkomentar, cerewet, ceriwis, usil, nyinyir dan suka bertengkar. Setiap kali saya buka kanal paling msyhur dari Al-Antirnat itu, saya menemukan lebih 10 items kenyinyiran saya yang kemudian saya report ke Progress Kadipiro. Itu ukuran 1-2 jam. Kalau saya bukanya sehari sekali, bisa sampai 40-50 items yang memamerkan bahwa saya adalah orang yang sok tahu, sok pinter, sok alim. Padahal jelas saya kurang berpendidikan dan saya sendiri tidak punya pos gardu di aplikasi-aplikasi internet.

Karena saya sendiri awam Twitter, Facebook atau Instagram dll, maka kekaguman saya menjadi berlipat-lipat. Setiap kali membukanya, kekaguman saya membara-bara dan dari mulut saya selalu langsung terucap:

رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Tuhan Maha Pemomong kami, sungguh tidak sia-sia semua ini Engkau ciptakan. Maha Suci Engkau, maka hamba mohon hindarkan kami dari adzab neraka”.

Para Rasul dan Nabi pasti tidak masuk neraka. Tetapi orang-orang di dunia online itu sama sekali tidak takut kepada neraka. Betapa mungkin saya tidak kagum. Mereka tidak ngeri kepada adzab Allah. Mereka sangat yakin tidak akan kuwalat. Mungkin karena mereka sangat kuat imannya kepada Rahman Rahim-Nya. Sangat bersangka baik kapada ampunan dan kedermawanan-Nya.

Bahkan kelihatannya mereka sangat yakin bahwa mereka berbuat baik untuk dunia, untuk ummat manusia, untuk nilai-nilai kehidupan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمۡ لَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ قَالُوٓاْ إِنَّمَا نَحۡنُ مُصۡلِحُونَ

Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan”.

Mereka tidak sekadar dinarasikan oleh Allah berdasarkan pembacaan kepada mereka:  dengan “inna nahnu mushlihun”, melainkan “innama nahnu mushlihun”. Bukan sekadar mereka berbuat baik. Melainkan diperteguh dengan “niscaya” atau “hanya” berbuat baik. Maka tidak secuil pun orang-orang yang sangat saya kagumi itu merasa keder terhadap pernyataan Allah swt:

فَمَا جَزَآءُ مَن يَفۡعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمۡ إِلَّا خِزۡيٞ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۖ
وَيَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰٓ أَشَدِّ ٱلۡعَذَابِۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعۡمَلُونَ

“Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat”.

وَإِذَا قِيلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتۡهُ ٱلۡعِزَّةُ بِٱلۡإِثۡمِۚ فَحَسۡبُهُۥ جَهَنَّمُۖ وَلَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ

Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah balasannya neraka Jahannam. Dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.

Kelihatannya bagi mereka tidak ada yang perlu dicemaskan dari ayat Allah itu. Neraka Jahannam kan besok-besok urusannya. Bahkan toh Neraka belum tentu ada.

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوۡمٖ لَّا رَيۡبَ فِيهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk menerima pembalasan pada hari yang tak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji”.

Ah, kiamat belum tentu ada. Bisa jadi itu hanya angan-angan dan khayalan untuk menakut-nakuti kita. Bukankah tokoh nomor satu yang memerdekakan Negara kita, punya putri yang memang pernah mengatakan demikian?

لَّيۡسَ بِأَمَانِيِّكُمۡ وَلَآ أَمَانِيِّ أَهۡلِ ٱلۡكِتَٰبِۗ مَن يَعۡمَلۡ سُوٓءٗا يُجۡزَ بِهِۦ
وَلَا يَجِدۡ لَهُۥ مِن دُونِ ٱللَّهِ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا

“Balasan dari Allah itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah”.

Ah, jangan-jangan itu ayat hoax. Mana bukti metodologisnya bahwa itu benar-benar pernyataan Allah? Buktinya sampai era milenial ini beribu-ribu kejahatan lancar-lancar saja. Faktanya kedhaliman, kebohongan, manipulasi, eksploitasi, berlangsung aman-aman saja sampai hari ini.

Ketika di sebuah hotel di Jakarta dalam rangka menemani teman-teman Turki yang terancam nasibnya oleh kebrutalan Presiden Teyeb Erdogan, saya menemui sejumlah tamu dari Amerika Serikat, salah satunya seorang Lawyer yang petugas intelijen yang ketika saya datang ia tersenyum kepada saya. Kemudian ketika bersalaman ia mengatakan “Saya sangat tahu siapa Anda setelah lama saya telusuri”. Salah satu wilayah yang ia maksud adalah dunia Internet dan Youtube.

Saya sangat sedih oleh pertemuan itu, karena saya sungguh menginginkan di Internet atau Youtube dan rumah-rumah apa saja di dalamnya, tak ada lagi nama saya, wajah saya, suara saya, atau apapun yang terkait dengan saya. Saya sangat memohon kepada Allah agar saya dihapus total dari media. Karena “nranyak”, tidak realistis dan berlebihan kalau yang saya mintakan kepada Allah adalah penghapusan media, atau penghancuran internet, atau peniadaan dunia maya. Kalau yang saya mohonkan adalah “Hapus Emha”, syukur sampai “Total Delete Emha”, kan posisinya tidak memudlaratkan yang selain saya.

Lainnya