Kebon (59)

Mendakwa(hi) Pemerintah

Dok. Progress

Dalam urusan keniscayaan sunnatullah bahwa hidup itu dakwah, andaikan saya ditanya oleh sesama manusia apa gunanya ada saya, Maiyah, KiaiKanjeng, Dinasti, Perdikan atau komunitas Dipowinatan dulu, saya pasti menjawab “Tidak ada gunanya”.

Sebab sebagai makhluk hidup divisi manusia saya dibatasi oleh rasa pergaulan, subasita budaya, etika komunikasi, tawadlu’ dan tidak riya`.

Apa peran Maiyah pada masyarakat dan negara? Harus saya jawab “Tidak ada”. Kalau begitu, untuk apa ada?

Apa boleh buat: “Kami tidak pernah berniat untuk ada, bahkan sedetik sebelum ada, kami sama sekali tidak ada. Jadi kepada siapa untuk apa itu ditanyakan?”.

Kalau yang bertanya berasal dari masyarakat Jin, saya menjawab: “TST lah… Kita berposisi sama. Tidak perlu saling menggoda atau ngerjain. Saya juga bisa menanyakan hal yang sama persis kepada Sampeyan…”.

Tapi andaikan Malaikat yang bertanya, saya harus jawab: “Wallahu a’lamu bis-shawab”.

Sebab setahu-tahu kami, tidaklah benar-benar kami tahu atas diri kami sendiri. Semengerti-mengerti kami, tidaklah sungguh-sungguh mengerti apa manfaat dan mudharat hidup kami.

Allah yang bikin gara-gara semua ini. Allah dengan kemahalembutan-Nya lah yang mengetahui secara sangat jernih, detail, dan presisi tinggi sejatinya kami ini berguna atau tidak.

Andaikanpun kami tahu, maka puncak pengetahuan kami adalah ketidaktahuan. Meskipun Allah berbaik hati menghibur manusia dengan:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

Tetapi Allah juga menegaskan:

وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.

Pengetahuan manusia atas dirinya sendiri saja pun amat sedikit. Apalagi atas orang lain. Terlebih lagi atas orang banyak. Belum lagi atas pemerintah dalam negara, umpamanya. Itu pun relatif atau nisbi. Kami tidak bisa menjalani hidup dengan prinsip “benarnya sendiri”, “pentingnya sendiri” atau “menangnya sendiri”.

Kalau ternyata hakikat kewajiban setiap manusia adalah berdakwah, dengan tingkat-tingkat, bentuk-bentuk dan skala-skalanya yang berbeda-beda, maka dengan ilmu yang menurut Tuhan amat atau hanya sedikit — sama sekali tidaklah mudah menerapkannya dalam urusan negara dan pemerintahannya.

Kalau berdakwah adalah melakukan perubahan, memperjuangkan setiap dhulumat agar menjadi nur. Mengubah kelaliman menjadi kasih sayang. Mengubah otoritarianisme menjadi kebersamaan. Mengubah egosentrisme menjadi kebijaksanaan.

Maka sama sekali bukan hal gampang untuk menyelenggarakan perubahan dalam hal kekuasaan dan kepemerintahan.

Saya pernah mengalami G.30.S 1965, Reformasi 1998, kemudian sampai hari ini memasuki keadaan bernegara yang semakin ruwet dan susah diidentifikasi dan dipetakan.

Karena kedhaliman tampil sebagai kesantunan. Diktatorisme dilunakkan menjadi topeng kemesraan. Kekejaman struktural dieliminasi dengan metode kemunafikan. Serta penindasan sistemik disamarkan menjadi seakan kebijaksanaan.

Ilmu saya pasti sangat sedikit dan pengetahuan saya amat terbatas. Tetapi tidak terlalu sukar untuk menemukan landasan nilai untuk melakukan perlawanan, bahkan sampai tingkat pengambrukan dan pemusnahan.

Rasulullah Muhammad Saw memberi terminologi dakwah tentang jalan perubahan:

عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ :
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ

Barangsiapa melihat kemungkaran, maha hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, kalau tidak bisa maka dengan lisannya, kalau juga tidak bisa maka dengan hatinya. Dan itu selemah-lemah iman.

Apa yang saya lakukan bersama Maiyah, KiaiKanjeng beserta lingkaran-lingkaran di sekitar saya untuk mengubah keadaan negara yang sumber kerusakannya adalah pemerintah demi pemerintah?

Kalau pakai metode “bil-yadi”, dengan “tangan”, perwujudannya adalah dengan tindakan, perlawanan sampai tingkat fisik, revolusi, kudeta penggantian penguasa.

Dan untuk melaksanakan itu semua yang bersama saya harus berlatih menjadi prajurit, mempelajari segala hal mengenai kemiliteran. Cara berperang, brubuh maupun gerilya. Mengenali berbagai macam alat penghancur, dari pisau, pedang, tombak, panah, hingga bedil dan bom.

Sampai pun mempelajari habitat-habitat peperangan, cuaca, medan tempur, peta dan titik-titik strategis menuju kemungkinan kemenangan.

Karena kalau benar-benar terjadi benturan dengan penguasa yang punya pasukan kekerasan lengkap darat laut udara dan intelijen, maka kita harus sudah menyiapkan diri sejak awal memilih bentuk perlawanan.

Adapun saya, KiaiKanjeng dan Maiyah memilih dan melakukan opsi keberapa dari Kanjeng Nabi? Saya putar-putar mengelilingi jagat besar jagat kecil dan menemukan bahwa Negeri ini hanya bisa berubah melalui opsi pertama.

Tetapi karena “wama utitum minal ‘ilmi illa qalila”, saya menemukan bahwa pilihan itu memproduksi “mudharatnya lebih besar dibanding manfaatnya”, apalagi saya tidak mampu menjamin keadaan akan menjadi lebih baik setelah pilihan pertama itu dilaksanakan.

Tetapi juga mustahil kalau pilihan saya adalah “bilqalbi”, sebab faktanya saya, Maiyah dan KiaiKanjeng dikenal orang meskipun hanya sangat sedikit. Pilihan “dakwah dengan hati” tidak memungkinkan orang lain mendengar dan menjadi tahu saya.

Kalau tidak siap “bilyadi” dan sudah terlanjur tidak “bilqalbi”, “fa in lam yastathi’”, kata Kanjeng Nabi, ”fabilisanihi”. Kalau tidak punya kesiapan tempur fisik dan militeristik, ya melakukan perlawanan dengan lisan, kalam, wacana, ucapan, retorika, diplomasi, dan dialog.

Contohnya demikianlah dulu Pak Harto diproses “bilisanihi” menjadi lila-legawa untuk mengundurkan diri dari jabatan Presiden. Demikianlah pula melalui multi-dialog dengan kepala PPP dan Golkar serta Pak Harto, Gus Dur menjadi Presiden.

Dan begitu Gus Dur naik singgasana, saya sudah menyatakan pamit kepada beliau saya tidak akan nongol selama beliau menjadi Presiden, karena khawatir merepotkannya sebab menyangka saya minta menjadi Menteri atau jabatan lainnya.

Sampai akhirnya Gus Dur tertimpa impeachment dan jatuh dari kursinya, saya tidak melakukan apa-apa karena sejak awal saya yakin beliau adalah waliyullah.

Sedangkan Allah sesumbar tentang wali-wali-Nya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَلاَ يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَلَئِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيْذَنَّهُ

Dari Abu Hurairah, semoga Allah meridhainya, ia berkata: Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Aku umumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dibandingkan ia melakukan hal yang Aku wajibkan terhadapnya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah (nafilah) kecuali Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Aku adalah (yang menolong) pendengarannya saat ia mendengar, penglihatannya saat ia melihat, tangannya saat ia memukul, dan kakinya saat ia melangkah. Jika ia meminta kepada-Ku, sungguh Aku akan memberikannya. Jika ia memohon perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya”. (Rowahu Imam Bukhari).

Gus Dur orang besar. Wong agung. Saya kerdil dan “no one”. Kalau saya melakukan sesuatu untuk beliau, kata orang Jombang “ngko diguyu tengu”. Tengu itu jauh lebih kecil dan lemah dibanding cebong atau kadal. Saya tidak mau menjadi bahan tertawaan seekor tengu.

Lainnya