Kebon (6)

The New Subhanahu Wata’ala

Foto: Adin (Dok. Progress).

Salah satu sebab dan latar belakang kenapa saya kurang kritis secara moral kepada anak-anak muda Dipowinatan ini, mungkin karena saya sendiri bukan seorang pembelajar dan pelaku yang baik dari agama Islam. Sekitar 8-10 tahun sebelum terjun di budaya Dipowinatan, saya pernah nyantri di Pondok, tetapi sangat jauh dari mencukupi untuk menjadi benar-benar seorang santri.

2,5 tahun di Pondok tidak banyak yang saya pelajari dari hal-hal yang lazim disebut pengetahuan dan ilmu-ilmu Islam. Saya belajar membaca Al-Qur’an sampai bisa qira’ah juga di Menturo Jombang sebelumnya, dengan guru Ibu saya sendiri. Kemudian interaksi Islam dengan Ayah saya hanya di Langgar atau Mushalla dan dalam kehidupan sosial masyarakat desa.

Saya menjadi qari` di Gontor juga hasil dari proses kanak-kanak di Menturo. Qari’ internasional dari Mesir yang pernah saya dengar di Pondok hanya dua: Syekh Mahmud Al-Khusyairi (yang digelari Syaikhul-Qurra’, Syekhnya para pelantun Qur’an) dan Syekh Abdul Basith bin Muhammad Abdus Shamad, saya menyebutnya Perdana Menterinya qari’-qari’ dunia, karena jenis estetika qira’ahnya menjadi panutan mainstream para qari’ di seluruh dunia.

Maaf sekalian saja siapa tahu menjadi berkah pengetahuan ilmu bagi siapa saja yang memerlukan: beliau Syekh Mahmud Al-Khusyairi adalah suara adzannya sudah berpuluh tahun sangat familiar dan populer di kalangan ummat Islam tradisional terutama di Jawa Timur. Adzan “kung”. Suaranya berat, bersih, pitch-nya sempurna, jiwa lagunya murni, tidak ada kandungan “riya’”, tidak metoto-metoto, tidak dihebat-hebatkan, tidak pamer.

Kalau tidak salah adzan legandaris itu direkam di Lokananta Solo, satu album dengan ngaji surat Al-Hujurat dan Ar-Rahman serta “sholah-sholah”. Menurut keyakinan saya, kaset Syekh Mahmud Al-khusyairi itu paling viral dan best seller, dicari dan dibeli orang selama setengah abad lebih sampai sekarang. Tetapi karena adzan dan qira’ah oleh kebudayaan masyarakat modern tidak dianggap sebagai karya, tidak terdaftar dalam kreativitas seni, sehingga sedahsyat apapun larisnya, tidak pernah diingat orang bahwa itu best seller.

Jangankan adzan, sholah-sholah dan qira’ah yang memang tidak ada bunyi dari alat musiknya, wong sekian banyak album-album KiaiKanjeng yang riuh rendah oleh reharmoni musik Barat-Timur, reformulasi nada diatonis pentatonis, serta mengikhtiari sejumlah wilayah kreativitas lain – pun dianggap tidak pernah ada oleh kalangan kebudayaan masyarakat modern. Masyarakat dan ilmu modern rupanya adalah “The New Subhanahu Wata’ala”. Semacam Tuhan baru yang muncul beberapa abad belakangan.

Kalau Ummat Islam punya monumen nilai dengan peristiwa Hijrah Nabi dari Mekah ke Madinah, masyarakat modern juga monumen sejarah yang namanya Renaissance, yang mereka sebut Masa Pencerahan. Kalau pakai idiom Islam itu revolusi “minad-dhulumati ilan-nur”. Buku sejarah mencatatnya sebagai Revolusi Perancis, yang berlangsung dan teraplikasi juga di Italia dan semua negara-negara Eropa. Abad pertengahan Eropa adalah “Jaman Jahiliyah”, di mana kekuasaan gereja membuat manusia terpenjara dan akalnya membeku. Renaissance adalah pemberontakan terhadap kebekuan dan kejumudan itu. Itu menjadi momentum sejarah terbitnya matahari terang benderang ilmu dan pengetahuan, kemudian beranak pinak demokrasi dan teknologi, yang di abad 21 sekarang ini mencapai puncaknya.

Saya sendiri memahami Renaissance sebagai Masa Penggelapan di sisi jagat yang lain dari pengetahuan dan jiwa manusia. Mereka memberontak kepada Gereja, kebablasan memberontak kepada fenomena dan kosmos Agama itu sendiri. Sehingga yang diberontak, dinafikan, ditolak dan disingkirkan adalah hakekat “Din” itu sendiri dari jagat kejiwaan manusia dan masyarakat. Ranaissance di babak kesekian melahirkan, membesarkan dan meneguhkan Sekularisme, yakni suatu ideologi yang secara tegas memisahkan Gereja dari Negara. Kemudian tanpa bisa dikendalikan menjadi pemisahan antara Agama dengan Negara, antara Tuhan, Nabi, Malaikat, Kitab Suci, dengan Negara.

Dan sekarang ini, karena perencanaan kemerdekaan 1945 tidak melewati komprehensi berpikir dan kedalaman permenungan serta keluasan pengetahuan tentang manusia, bangsa dan hakikat kehidupan – maka sampai hari ini NKRI adalah “pemeluk teguh” produk-produk Renaissance, dari intelektualisme Barat hingga Globalisasi. NKRI memisahkan bumi dari langit. NKRI mengekor Barat dalam hampir semua hal. Dari filosofi kenegaraannya sampai hukum dan orientasi pembangunannya. NKRI sangat “istiqamah” sebagai buntut peradaban Barat. NKRI sangat bangga menjadi ekor dari Dajjal, dabbah raksasa yang namanya disamarkan menjadi Globalisasi.

Shaykh Hussary.
Photo by Zubairkhan1.

Implikasinya ke dunia estetika: tidak ada apresiasi dari masyarakat modern terhadap keagungan artistik adzan dan sholah-sholahnya Syekh Mahmud Al-Khusyairi. Tidak ada ketakjuban kepada prima-suara dan extra-octave Syekh Abdul Basyith bin Muhammad Abdus Shomad, padahal tidak ada produk kebudayaan modern yang mampu mencapai seperti itu.

Notasi dan cengkok ngaji “huwalladzi ja’ala lakumul ardla dzalulan famsyu fi manakibiha…” yang terdengar setiap menjelang Maghrib dari corong Masjid Gontor adalah “lagu pop” saya. Adalah bahan rengeng-rengeng saya di saat senggang atau menjelang tidur pukul 22.00 malam, sesudah nonstop menjalankan rundown disiplin Gontor sejak pukul 04.00 pagi. Saya terpukau oleh ini karena saya remaja dan anak muda. Tetapi jenis semangat rohani lagu yang seperti Khusyairi lah yang paling disukai oleh Kiai saya di Gontor dulu, KH Imam Zarkasyi, yang termuda di antara Trimurti Gontor yakni: KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani kemudian Pak Zarkasyi ini. Adzan  Syekh Mahmud Al-Khusyairi tidak nggaya, tidak pamer suara indah, cengkok aneh, oktaf tinggi atau fenomena notasi apapun. Adzannya sangat berwibawa, pas dan adzan seharusnya memang begitu menurut hati saya. Kelak kalau kita bareng-bareng di surga kita daulat agar beliau yang adzan, bergiliran dengan Sayidina Bilal bin Rabah.

Lainnya

Buku dan Merchandise