10 Revolusi Jokowi dalam Berbagai Pemahaman (2)

Pengantar Redaksi:

Kami sampaikan terima kasih kepada teman-teman yang telah merespons Fastabiqul Khairat 10 Revolusi Jokowi dengan mengirimkan tulisan yang menarasikan 10 Revolusi Jokowi dalam bahasa, penangkapan, dan pemahaman teman-teman. Secara otentik, apa adanya dan utuh, berikut ini kami tayangkan secara berkala tulisan-tulisan tersebut. Nama lengkap dan email tidak ditampilkan.


Respon 11

BM
Selasa, 22 Sept 2020 19:18 WIB

Sejarah memang tidak bisa diulang, tapi tidak menutup kemungkinan polanya berulang-ulang.

Setiap peradaban manusia pasti mengalami sebuah siklus kehancuran dan kebangkitan.

Atas ungkapan mbah nun tentang 10 revolusi jokowi bagi pribadi saya adalah sebuah seruan, solusi sekaligus sindiran kepada jokowi untuk apa yang sedang terjadi di negri ini.

Point 1. Merubah jajaran kabinetnya karena kondisi negara sudah dalam fase “WAR” terhadap pendemi. Para pemain lama sudah jelas tidak peka terhadap fase ini. Era baru juga harus dihadapi dengan pemain dan strategi yang baru pula.

Point 2. Benar-benar memanfaatkan daya tempur masyarakat indonesia yang luar biasa kreatif dalam berbagai cara bertahan hidup yang selama ini belum ada pergerakan ke arah yang lebih signifikan.

Point 3. Tidak hanya berfikir soal ekonomi saja. Tetapi juga berfikir soal persatuan dan kesatuan masyarakat yang saat ini sedang dalam perpecahan di segala lini. Kembali menyerukan sumpah amukti pallapa serta kesaktian pancasila nya.

Point 4. Fokus terhadap kekayaan etnis suku dan budaya serta mendayagunakan kekayaan terminologi-terminologi bernegara tinggalan para leluhur bangsa ini.

Point 5. Tegas terhadap kebijakan-nya, serta menggunakan “Sabda Pandhita” nya guna mengembalikan mental bangsa dari keterpurukan berabad-abad ini.

Point 6. Memanfaatkan moment corona ini sebagai langkah yang tepat bagi negara ini untuk benar-benar berdaulat atas segala kebijakan global dan atas segala kekayaan-nya dan membuktikan kepada dunia bahwa indonesia adalah negara produsen bukan negara konsumen. Dan saat inilah “Golden Moment” nya indonesia bisa lepas dari cengkraman bangsa lain.

Point 7. Menengok kebelakang untuk maju ke depan. Belajar dari masa lampau untuk melangkah di masa yang akan datang. Kalau dalam ilmu jawa “weruh sa’durunge winarah” kembali menggali semua apa yang sudah di wariskan leluhur kepada bangsa yang adi luhung ini.

Point 8. Kembali kepada hakikat trah nusantara, kembali ke jati diri bangsanya. Merevolusi mental bangsa nya untuk bersaing dikancah dunia dalam segala bidang. Serta meng-outputkan “Memayu hayuning bawono” kepada dunia karena memang bangsa inilah yang digariskan UIuntuk “hamengku bawono”.

Point 9. Sekaranglah waktu untuk menunjuk kan bahwa dialah “kesatria” yang diharapkan mampu menyelamatkan negri ini dari jurang kehancuran. dan benar-benar menjalankan amanah titah yang jatuh pada dirinya.

Point 10. Seruan sudah saat nya bangsa ini lepas dari segala bentuk pembodohan dan penjajahan. Sudah tidak ada waktu lagi selain sekarang untuk segera kembali berdaulat atas segala kekayaan SDA maupun SDM nya. 2024 belum tentu adalah kesempatan emas, semua kembali kepada para pemegang amanat menyongsong nusantara esok hari. Jatuh kejurang kehancuran atau bangkit ke era kejayaan.

Respon 12

SH
Selasa, 22 Sept 2020 21:43 WIB

IQRA : 10 REVOLUSI JOKOWI

Sebelum masuk kepada 10 point Revolusi jokowi, penulis kembali teringat pada salah satu dari sekian ratus Vidio Mbah Nun yang kebetulan sering di ikuti melalui media YouTube. Jamaah youtuber begitulah sekiranya kami menyebut diri karna keterbatasan jarak dan waktu sehingga tak mudah menghadiri secara langsung acara-acara sinau bareng Mbah Nun, ataupun duduk melingkar bersama simpul-simpul Maiyah yang ada.

Dalam tayangan Vidio di salah satu acara sinau tersebut, Mbah Nun mengajak Jama’ah maiyah Sinau (Belajar) membaca situasi yang terjadi, dimana peradaban modern saat ini dengan kapitalisme, dan dominasi negara-negara luar dengan segala modus yang dijadikan topeng untuk menutupi penjajahan gaya baru, telahpun memberi dampak kepada kehidupan Rakyat Indonesia.

Namun tetap saja pertanyaannya apakah kita berdaya melawan hal tersebut?

Mbah Nun pada sesi diskusi itu hanya mengingatkan dengan perkataan “Manusia, Kita, Mereka bisa saja mengingkari atau tidak mempercayai adanya Allah,Malikat, Al-Qur’an, Rasul, dan hari kimat, namun ingatlah bahwa kita tidak akan bisa mengingkari Qadha dan Qadar dari Allah SWT”.

Qadha dan Qadar itu jugalah mungkin yang mengagetkan Dunia, terutama bagi mereka yang merasa mampu menentukan apa yang terjadi sesuai dengan kemauan atau keinginannya, dimana segala upaya yang telah tersusun secara rapi ahirnya batal terwujud hanya dengan datangnya suatu mahluk yang sangat-sangat kecil, yang manusia menyebutnya sebagai Virus Covid19.

Kini Dunia dilanda Pandemi, tak terkecuali juga dialami Bangsa Indonesia, Mahluk yang tak tampak mata ini telah merubah dunia secara drastis, hingga kedalam sendi-sendi kehidupan manusia. Hingga sampailah kini bagaimana Negara-negara di dunia berupaya untuk bagaimana mengatasi persoalan ini, bahkan tak terkecuali tiap-tiap individu kita juga harus menyiasati bagaimana untuk bertahan agar tidak tertular bahkan dari persoalan lain yang timbul seperti masalah ekonomi.

Kini kita sampai pada point 1. Memperbaharui pasukan dan strategi perang melawan pandemi.

Sudah hampir 7 bulan kita menghadapi pandemi, namun justru angka penyebaran tidak melandai turun bahkan terus meningkat. Hal ini Tentu saja artinya ada yang salah dengan cara kita melawan ataupun perang terhadap pandemi ini. Untuk itu perlu pasukan yang tangguh dan strategi yang tepat untuk mengatasinya. Mari kita coba membaca pasukan, mulai dari awal yang terlalu menganggap remeh mengenai pandemi ini dengan segala kontroversi komentar dari petinggi-petinggi pemerintahan hingga pada blunder dari kebijakan yang diambil. Demikian hal nya dengan strategi terlihat masih gamang antara mana yang harus didahulukan apakah bidang kesehatan atau ekonomi, walaupun memang benar memilih antara dua bidang ini memang seperti buah simalakama, namun bukan berarti kita bisa memilih menjalankan keduanya secara bersamaan, bahkan dalam strategi perang kuno pun antara pasukan pemanah dengan pasukan berkuda berbeda momentum yang diambil kapan harus menyerang. Sungguh ironi apa yang akan terjadi kedepan ini, dimana para pasukan dari pusat hingga ke daerah mensosialisasikan masyarakat untuk tertib menggunakan masker, namun disisi lain pula tidak sedikit dari pasukan itu giat mengumpulkan masyarakat demi kepentingan politik dalam ambisi jabatan dan kedudukannya untuk menang dalam Pilkada. Bukannkah sebenarnya sudah jelas permasalahannya ekonomi tidak akan bergerak naik jika penyebaran virus masih tidak bisa dikendalikan, sedangkan jika ekonomi anjlok tentu bisa kembali di perbaiki walau harus memakan waktu, sedangkan nyawa manusia tentu tidak bisa untuk dikembalikan. Ekonomi? Ekonomi siapa? Rasanya bukan ekonomi rakyat kecil, sebab rasanya rakyat kecil sebelum datangnya pandemi ekonominya juga tetap saja tidak terperhatikan dan bahkan mereka iklas berpuasa.

2. Mendobrak stagnasi dan kejumudan nasional untuk menegakkan kembali kecerdasan dan kreativitas kehidupan bangsanya.

Tidak bisa dipungkiri pengaruh modernisasi dan globalisasi memberikan dampak yang besar bagi masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan bangsa indonesia tidak lagi percaya diri sebagai ‘Garuda’. kita kehilangan jati diri, dan bahkan cendrung menganggap diri kecil dan bangsa lain lebih besar. Apakah artinya kita harus menolak modernisasi dan globalisasi? Tentu saja tidak seperti itu, yang harus kita dobrak adalah jangan sampai kita kehilangan jati diri bangsa dan harus bangkit dengan memanfaatkan teknologi modern yang ada dan bertengger tinggi di kancah global layaknya Garuda yang sejati.

Pelajari dan tegakkan kembali kecerdasan bagsamu sendiri, dimana leluhur bangsa ini pada masanya menjadi bangsa yang unggul diantara bangsa lain yang telah menunjukan sesungguhnya memiliki kecerdasan yang menghasilkan ilmu mulai dari arsitektur candi dan ukiran, menciptakan sistem pengairan dan bedeng pada bidang pertanian, ilmu astronomi sehingga mampu berlayar antar samudra jauh sebelum marcopolo, Ilmu pengolahan logam menjadi senjata bahkan alat musik, bahkan kecerdasan dalam mengelola nilai,adat,norma hingga tata pemerintahan dalam bermasyarakat, dan berbagai kecerdasan lain.

Jangan tanya soal kreatifitas Bangsa ini, bahkan masyarakatnya mampu mengkreatifkan hidup, sesulit apapun rakyat indonesia mampu mengakalinya hingga bisa tetap bersyukur dan tersenyum.

Stagnan atau jumud sehingga kita tidak mampu mandiri dan terhipnotis dengan bangsa lain belakangan ini yang harus di dobrak. Seperti apa yang dikatakan Mbah Nun, kenali dirimu, kamu itu Garuda maka jangan mau menjadi Naga, Singa, burung emprit atau yang lainnya.

3. Menghimpun kembali seluruh potensi bangsanya yang terserak-serak untuk melahirkan proklamasi kemerdekaan baru sejarah bangsanya.

Proklamasi kemerdekaan yang dibacakan Sukarno Hatta atas nama bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 patutlah kita sukuri dan hargai dimana merupakan momentum awal bangsa Indonesia melepaskan diri dari imperialisme dan kolonialisme kurang lebih selama 3,5 abad.

Pertanyaaanya adalah sudah benar-benarkah kita merdeka? Merdeka dalam artian terbebas dari belenggu atau cengkraman negara lain dan bebas untuk berdaulat menjalankan cita-cita sesuai kemauan bangsa ini sendiri.

Potensi bangsa berupa Sumber Daya Manusia (SDM) belakangan ini justru terbelah-belah, potensi berupa sumber daya alam (SDA) justru dikuasai bangsa lain dan tidak ada kedaulatan kita untuk mampu mengolahnya sendiri, dan rasanya sungguh masih jauh dari amanat UUD pasal 33 yang menyatakan kekayaaan alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar besarnya bagi kepentingan Rakyat.

Maka perlu kiranya untuk segera menghentikan hal tersebut. Dengan segera merangkul kembali seluruh elemen,golongan,seluruh rakyat untuk kembali bersatu sehingga tidak terjadinya perpecahan atau disintegrasi bangsa. Dan tentunya menyelamatkan SDA sebagai aset Negara yang benar-benar hendaknya dapat dipergunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan Rakyat Indonesia.

4. Mendayagunakan seluruh bakat dan keistimewaan etnologis bangsanya untuk meyusun kembali pembangunan yang berkarakter Indonesia dan berwajah Indonesia.

Mengambil dari ungkapan analogi Mbah Nun jika Indonesia itu Gado-Gado, maka semisal jawa adalah lontongnya, sunda adalah sayur kolnya, melayu kentangnya, bugis kacangnya, dan seterusnya. Maka salah besar jika kita mengatakan “ini Indonesia bukan jawa”, atau “ini Indonesia bukan Islam”. Yang benar seharusnya adalah jawa atau islam adalah bagian dan melengkapi keindonesiaan. Hal ini terlihat sepele tapi sungguh sangat penting agar kedepannya tidak terjadi perpecahan yang membawa kepada kerugian bagi bangsa indonesia sendiri.

Bukankah telah jelas apa yang menjadi motto Indonesia dengan “Bhineka Tunggal Ika” bahwa bukan berarti atas nama persatuan kita justru menghilangkan perbedaan, namun sebaliknya justru perbedaan tersebutlah yang memperkaya dan terbingkai di dalam persatuan.

Tinggal saja bagaimana kita memanfaatkan keistimewaan etnologis bangsa, yang hendaknya masing-masing etnig, suku, bangsa, dan agama tersebut menyadari sesungguhnya untuk menjadi yang terbaik yang disuguhkan bagi kepentingan Negara Indonesia.

5. Menerapkan jurus saktinya untuk membangkitkan rakyatnya dari keterpurukan perekonomian dan kurang percaya diri bangsanya.

Dalam mewujudkan penyelesaian persoalan-persoalan diatas poin 1-4 tentunya tidak terlepas dari pentingnya peran dari seorang Presiden selaku kepala pemerintahan sekaligus kepala negara di Indonesia bagaimana kebijakan yang akan atau harus diambilnya.

6. menjangkar persatuan dan kesatuan bangsanya untuk membuat kejutan kepada dunia dengan meyalip di tikungan sejarah.

Pandemi covid19 saat ini tentulah sangat penting adanya persatuan dan kesatuan, dimana kita saling membantu antar sesama, jangan sampai situasi yang sulit saat ini justru akan menjadi semakin sulit hanya dikarenakan kepentingan bagi sekolompok orang saja, atau bahkan akan meyebabkan jurang kesenjangan semakin lebar dan berujung pada perpecahan bangsa. Perlu diingat tercabiknya persatuan salah satunya belakangan ini disebabkan oleh kontestasi politik, maka pilkada juga perlu menjadi peringatan akan ancaman perpecahan sekaligus menjadi cluster baru penyebaran covid19.

Memang benar beberapa negara maju saja kelabakan menghadapi pandemi saat ini, padahal notabene mereka lebih unggul pada sarana dan tenaga kesehatan. Bagaimana dengan Indonesia? Tentu kita sangat terbatas dibandingkan negara-negara maju itu, bahkan banyak negara lain yang memprediksi Covid19 di Indonesia akan jauh lebih banyak memakan korban jiwa, dan nyatanya angka kematian di Indonesia jauh dibawah perkiraan mereka. apa penyebabnya? Bisa jadi pertama karna kekuasaan Allah SWT, bahkan bisa jadi karna keunggulan rakyat indonesia seperti apa yang telah kita bahas pada poin sebelumnya. Jika pemerintah dapat mengambil jurus yang tepat tentunya penanganan pandemi akan lebih mudah kita atasi dan tentu akan membuat negara lain terperangah dan kita dapat cepat bangkit dari keterpurukan ekonomi bahkan menyalip negara lain.

7. Menerapkan kecerdasan wawasan futurologis dan jangkauan panjang sangkan-paranya untuk menyusun kembali jurus-jurus masa depan bangsa Indonesia.

Futurologis atau ilmu yang mempelajari tentang masa depan secara ilmiah tentang situasi kondisi masa depan disegala bidang berdasarkan situasi masakini menjadi sangat penting. Kembali penulis mengambil sebuah analogi yang pernah di kemukakan oleh Mbah Nun, “layaknya memanah maka anak panah harus ditarik kebelakang melalui busur agar menghasilkan daya yang nantinya akan meluncurkan anak panah jauh melesat kedepan”.

Dalam mempelajari masa depan perlu pula di ingat mengenai sangkan-parang atau asal-muasal. Kita perlu kembali menarik kebelakang, mempelajari sejarah bagaimana leluhur bangsa ini dahulu mampu mencapai masa kejayaanya.

Sekali lagi hal ini penting agar kita mampu kembali menyusun jurus atau kebijakan jauh kedepan agar tidak kembali terjebak pada perangkap negara lain yang membuat kita belakangan ini justru terpaku dan hanya terkagum-kagum bahkan ingin mengikuti kemauan mereka yang padahal misinya adalah melakukan penjajahan gaya baru.

8. Mengindonesiakan indonesia, menduniakan indonesia dan mengindonesiakan dunia.

Mungkin pembaca pesimis bahkan menganggap mustahil untuk poin ke 8 ini, bagaimana mengindonesiakan dunia? Sebelum adanya pandemi bukankah jamaah maiyah telah sering disuguhi Mbah Nun mengenai keadaan geopolitik dunia saat ini? Dimana Hegemoni dua negara antara USA dan RRT dalam ambisinya menguasai dunia, kita tentu lebih pesimis bukan dengan apa yang telah dua negara raksasa itu rencanakan dengan sangat rapi, saya sendiri merasa bangsa kita tak lebih hanya akan menjadi bangsa jongos kedepannya.

Qadha dan Qadar pula lah yang ahirnya tidak bisa di pungkuri dengan hadirnya pandemi saat ini, dunia berubah secara drastis, ketegangan ekonomi dan militer antar kedua raksasa itu belakangan meningkat, produksi barang dan layanan jasa transportasi menurun tajam, suplay terhambat, dan berujung pada semakin melemahnya cengkraman kapitalisme.

Sebelumnya kita tidak menyangka misalnya Singapura sebagai pasar dan pelabuhan transit perdagangan kini terpuruk akibat menurunnya daya beli sekaligus produksi barang dan jasa. Tentu saja mereka lebih akan sulit, tidak ada pertanian untuk konsumsi rakyatnya apalagi sumberdaya alam seperti Indonesia.

Bagaimana dengan Indonesia? Kebalikannya bukan? Salah satu contohnya sebelum pandemi mungkin mustahil rasanya kita akan mampu swasembada pangan, bukan karna petani kita yang tidak mampu, namun lebih kepada pengaruh kapitalisme global yang memaksa pengambil kebijakan lebih memilih import dibandingkan meningkatkan produksi petani. Namun dengan adanya pandemi saat ini negara-negara pengekport beras saja misalnya seperti india, thailand, vietnam justru mengecilkan volume bahkan menutup keran ekspor bahan pangan mereka untuk ketahanan pangan Negara sendiri. Ya, sudah pasti pandemi ini juga menjadi momentum Indonesia untuk swasembada pangan.

Belum lagi yang lainnya semisal bagaimana jika dua raksasa itu benar-benar bedil-bedilan? Silahkan pembaca bayangkan sendiri.

Jadi siapa yang paling siap menghadapi keadaaan-keadaan dunia kedepan? Ya, sepertinya Rakyat Indonesia. Manfaatkan momentum ini, ambil kebijakan yang tepat sebagaimana yang disarankan pada poin-poin diatas, niscaya Indonesia mampu menyalip ditikungan.

9. menunjukan kecerdasan,kecanggihan dan wibawa kepemimpinannya agar dunia dan alam semesta tahu kenapa ia didudukan di singgasana.

Poin ini hanya Jokowi yang mampu mejawab dan membuktikan.

10. Dengan langkah-langkah nyata mendemonstrasikan kepada dunia kenapa bangsa indonesia adalah bangsa yang besar yang tidak bisa diremehkan.

Langkah-langkah nyata yang harus segera di demonstrasikan atau di tunjukan adalah yang pertama Indonesia harus mampu menunjukan mampu mengendalikan penyebaran covid19 hingga keangka minimal yang tentunya Indonesia mampu memproduksi Vaksin sendiri dengan memberdayakan Sumberdaya manusia yang dimiliki.

Langkah kedua yakni segera merealisasikan ketahanan pangan dimana sektor pertanian ini merupakan sektor yang penting dalam menghadapi pandemi dan paling minim terdampak sebagai cluster penyebaran virus.

Langkah ketiga segera memberdayakan Usaha Kecil Menengah (UKM) masyarakat dimana sektor ini menjadi sektor penting dalam sektor rill ditengah bertumbangannya Industri masal (Pabrikan)

Memanfaatkan momentum pandemi ini sebagai kekuatan untuk melepaskan cengkraman ketergantungan kepada negara asing.

Kekuatan rakyatnya ditambah SDA yang dimiliki merupakan modal besar untuk menjadikan Indonesia berdaulat dan mandiri ditengah pandemi, yang tidak semua negara memilikinya.

REVOLUSI adalah perubahan secara cepat dan fundamental, dan momentum yang tepat adalah sekarang.

Buku dan Merchandise