Urip Malaikatan, Belajar Setia pada Maqam yang Telah Ditentukan

Catatan Majelis Maiyah Bangbang Wetan, 19 Juli 2019

Sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari manusia ruang, ketika ia mendapatkan suatu kenikmatan, ia tak ingin menikmatinya sendirian. Baginya, apalah artinya bahagia jika hanya untuk dirinya seorang. Barangkali, begitulah yang dirasakan Mbah Nun.

Merasa sangat banyak mendapatkan hikmah dari pesan ibunda Halimah, beliau mengajak jamaah Bangbang Wetan untuk bareng-bareng nyinauni Urip Malaikatan, di antara cara menjalani hidup sebagaimana yang telah diajarkan sang ibu kepada Mbah Nun. “Wis talah Nun, koen iku uripe malaikatan. Koen nggak kepingin opo-opo.

Menghidupkan Dialektika

Sebelum mewedarkan lebih jauh mengenai urip malaikatan, anak-anak muda ini diajak untuk saling mencari. Bersama-sama menerka dan meraba, apa kiranya maksud urip malaikatan. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok kecil untuk berdiskusi. Mencoba menggali menggunakan akal pikiran mereka, kiranya apa yang bisa diambil dari falsafah hidup urip malaikatan tersebut.

Barangkali, ini juga merupakan bagian dari laku urip malaikatan itu sendiri. Bukankah malaikat itu adalah makhluk Tuhan yang setia? Ia menjalani hidup sebagaimana Tuhan menghendaki kepadanya. Ia menjalankan peran yang telah Tuhan berikan kepadanya.

Manusia telah diciptakan dengan seperangkat akal pikiran. Sudah sepantasnya, kita sebagai manusia belajar setia atas pemberian ini. Berusaha terus menggunakan akal pikiran kita untuk mencari kebenaran-kebenaran, yang semoga suatu saat akan mengantarkan kita pada kebenaran yang sejati. “Mencari sesuatu yang paling hakiki, yang paling kristal,” begitu Mbah Nun menyebutnya.

Sudah bukan rahasia lagi, manusia adalah makhluk yang diistimewakan dengan kesempurnaan pemberian. Manusia merupakan makhluk komprehensif. Tidak seperti iblis ataupun malaikat yang hanya ditugaskan ke ‘satu arah’ saja. Manusia diberi wewenang untuk bergerak di segala arah. Ia bisa saja bebas bergerak melampiaskan nafsu yang lebih mengarah pada pengrusakan. Pun sebaliknya, ia bisa bergerak lebih berhati-hati dalam mengendalikan.

Keistimewaan ini tentu saja bisa menjadi bumerang jika kita tidak berada dalam kehati-hatian. Salah dalam menentukan langkah, bisa-bisa justru akan merendahkan derajat kemanusiaan kita di hadapan Tuhan. “Manusia diberi pilihan. Malaikat juga diberi pilihan, tapi dia mampu memilih yang terbaik.” Meneladani malaikat, berarti juga meneladani kemampuannya dalam menentukan pilihan. Di sinilah mengapa kita perlu mengasah akal pikiran, menata hati menjernihkan pikiran, agar kita lebih presisi dalam menentukan pilihan.

Dan lima tahun ke depan, Mbah Nun akan mengajak jamaah untuk lebih menekankan pengasahan dialektika berpikir seperti ini. Workshop yang biasa dilakukan dalam Sinau Bareng, semoga menjadi bagian dari usaha kita merawat nalar berpikir. “Gayung bersambut dalam Sinau Bareng. Menghidupkan dialektika. Agar lima tahun ke depan lebih tenang, lebih presisi, lebih bijaksana.” Karena bagaimanapun, sedikit banyak semua bergantung pada bagaimana cara kita memandang kehidupan dan segala apa yang berhubungan dengannya.

Buku Lockdown 309 Tahun