Bangbang Wetan Menjalin Persaudaraan dengan Ludruk

Majelis Ilmu Maiyah Bangbang Wetan Surabaya, edisi Maret 2022

Majelis ilmu Bangbang Wetan (BBW) melaksanakan rutinan edisi Maret pada Rabu Malam(30/3) di Kayoon Heritage, Jl. Embong Kemiri 19-21, Genteng, Surabaya. Pada edisi kali ini Bangbang Wetan mengusung tema “Shading The Past” yang merupakan respons atas pentas drama “Mlungsungi” yang dipentaskan beberapa hari lalu di Yogyakarta.

Dok. Bangbang Wetan

Menurut tim tema BBW, “Shading The Past” diangkat menjadi tema karena perlunya meninggalkan semua pernik masa lalu. Suka cita, kenangan, trauma, dan kepedihan mesti kita relakan. Semua yang menyangkut keterlambatan tidak akan mampu kita hapus atau reassembling lagi. Biarkan saja dan kembali kita fokus ke hari ini.

Pada kesempatan awal, Yasin yang bertindak sebagai moderator memantik diskusi dengan mengatakan bahwa proses mlungsungi butuh waktu panjang untuk belajar dari pengalaman dan kegagalan. Selanjutnya Yasin memohon kepada jamaah merespons tema tentang mlungsungi tersebut.

Fajar dari Surabaya merespons tema bahwa mlungsungi kesadaran itu penting di tengah kondisi saat ini yang banyak terjadi pamer terutama di media sosial. Fajar mengatakan perlunya berpuasa dan merenungi arah serta tujuan kita hidup sekarang ini. Bisa jadi media sosial mempercepat kita untuk mlungsungi, jika kita kurang bisa mengkurasi informasi yang kita dapatkan dari media sosial. Semua orang pasti mengalami proses mlungsungi. Ditandai dengan kita bisa menertawakan apa yang telah kita lakukan dahulu.

Terus Berproses Menjadi Lebih Baik

Salah satu bentuk mlungsungi pada hewan adalah ular. Yang berubah bentuk sel kulit lama berganti ke kulit baru. Begitu juga dengan bentuk mlungsungi ulat menjadi kepompong. Mas Hasanuddin atau yang akrab dipanggil Mas Acang ditemani oleh Pak Kris Adji Budayawan Gresik, Cak Robet dan Cak Ipul dari komunitas LUdrukan Nom-noman Tjap Arek Suroboyo atau biasa dikenal dengan sebutan LUNTAS, mempunyai pandangan menarik perihal mlungsungi.

Pada proses mlungsungi sepembaca Mas Acang entah hewan atau manusia akan berada pada posisi lemah dan rendah. Sehingga ketika ular mengalami mlungsungi mencari tempat persembunyian dari kondisi badannya yang melemah. Ular atau ulat membutuhkan faktor lingkungan untuk mendukung proses sempurnanya bentuk mlungsungi dirinya.

Dok. Bangbang Wetan

Yang menarik menurut Mas Acang ketika mentadabburi apa yang Mbah Nun pernah sampaikan perihal mlungsungi, bahwa kita sebenarnya setiap hari mengalami lahir kembali. Pada proses mlungsungi manusia juga dibutuhkan dukungan lingkungan sekitar supaya proses mlungsungi manusia menjadi sempurna. Salah satu faktor penting yang mendukung proses mlungsungi dari lingkungan adalah rasa persaudaraan. Seperti halnya Maiyah yang mengkondisikan lingkungan persaudaraan yang baik bagi para jamaah untuk terus berproses menjadi lebik baik.

Mlungsungi menurut Pak Kris pasti terjadi. Sebab proses itu kita perlukan untuk survive dan introspeksi diri. Jadi mlungsungi pada setiap manusia jika tiba pada waktunya pasti akan terjadi.

Pak Kris kemudian mentadabburi surat Al-‘Asr di mana Allah menyampaikan perihal waktu/masa. Menurut Pak Kris sebenarnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali manusia yang berbuat kebajikan, mengajak kebenaran dan mengajarkan kesabaran. Manusia yang berbuat kebajikan, mengajak kebenaran dan mengajarkan kebenaran itulah yang mampu mengikuti arus waktu.

Proses Mlungsungi Ludruk di Setiap Era Sejarah

Berbicara tentang mlungsungi, menurut Cak Robet ludruk juga mengalami mlungsungi. Ludruk yang notabene kesenian yang berasal dari rakyat kecil ini lahir pada 1909 di Desa Ceweng, Diwek, Jombang. Ditemukan oleh Pak Santik, ludruk awal ditemukan dengan bentuk ngamen, Lerok atau biasa disebut lerokan. Bentuknya ngamen keliling dan kemudian mlungsungi menjadi Besut atau besutan.

Berkembangnya dari Lerok ke Besut (mBeto Maksut) ini karena lebih banyak mengutamakan pesan kebaikan yang disampaikan di setiap pertunjukannya. Pada penampilan besutan terdiri atas tokoh Besut, Rusmini, Man Gondo, dan Sumo Gambar.

Kemudian pada era Hinda Belanda muncullah nama Ludruk. Nama Ludruk sendiri ada beberapa versi. Ada yang mengatakan nama Ludruk ini berasal dari Bahasa Belanda leuk en druk yang berarti kegembiraan. Ada yang mengatakan ludruk itu berasal dari gerak tari Remo yang gela-gelo dan gedruk-gedruk. Ada juga yang mengatakan ludruk itu berasal dari cara orang ludrukan yang cara ngomongnya molo-molo dan kakinya gedruk-gedruk.

Dok. Bangbang Wetan

Masuk pada era Perjuangan, ludruk digunakan oleh Cak Durasim sebagai alat perjuangan dengan membentuk Ludruk Organisasi. Ludruk kemudian dipatenkan komponen kelengkapannya dalam setiap penampilannya yang terdiri dari Tari Remo, kidungan jula-juli, lawakan, dan diakhiri dengan cerita. Kebanyakan isi ceritanya tentang kepahlawanan Sarip Tambak Oso, Joko Sambang, Sakera, yang bertujuan menyemangati rakyat kecil tentang kepahlawanan mereka dalam melawan penjajah.

Pada era 1960-an, ludruk digunakan oleh partai komunis untuk menghimpun dan mengambil hati masyarakat. Di bawah naugan Lekra ludruk digunakan untuk tujuan menghimpunan massa. Sehinngga pada akhirnya ludruk menjadi kambing hitam bahwa ludruk pasti kepunyaan partai komunis. Padahal menurut Cak Robet sebelum ada partai komunis, ludruk sudah ada lebih dahulu.

Pada era Orde Baru, ludruk digunakan untuk corong pemerintah. Kidungan jula-juli isinya tentang pembangunan, KB, pertanian dan keperluan lain pemerintah pada saat itu.

Sepembaca Cak Robet, ludruk sudah banyak mengalami proses mlungsungi. ludruk yang dijadikan sebagai alat perjuangan, menghimpun massa partai komunis, corong pemerintah, dan pada era Reformasi ludruk mulai berani menyampaikan kritik dan keluh kesah masyarakat. Dan pada era sekarang ini, Cak Robet mengatakan agar ludruk bisa tetap hidup maka harus berani mlungsungi supaya bisa digemari oleh generasi sekarang. Karena Cak Robet tidak mau ludruk hanya berhenti pada kegagahan masa silam dan tinggal cerita heroiknya saja.

Dok. Bangbang Wetan

Cak Robet beserta teman-teman The LUNTAS yang lain berusaha mlungsungi tanpa meninggalkan pakem-pakem yang sudah ada. The LUNTAS berusaha memberikan penampilan ludruk yang lebih modern, yang membuat para pemuda senang dengan ludruk.

Pasalnya ludruk terlambat melakukan regenerasi. Sudah lama ludruk diam saja tidak melakukan regenerasi karena terlena dengan kebanggan masa lalu. Cak Robet menjadikan cerita ludruk masa lalu dan ilmu dari para seniornya sebagai titik tolak perjuangan ludruknya berjalan di masa kini dan tetap bisa hidup di masa depan.

Tuku sorjan nang gone blauran
Kabehe telu wernone ireng
Bengi iki aku nang gone Bangbang Wetan
Karo dulur-dulur ngaji karo sinau bareng

Gedruk-gedruk nang pinggi kali
Jenenge ludruk takkan pernah mati

Salah satu kutipan kidungan jula-juli oleh Cak Robet untuk memuncaki majelis Bangbang Wetan pada malam itu, yang diteruskan lawakan bersama Cak Ipul. Isi lawakannya tentang sejarah perjuangan merebut kemerdekaan dari Belanda yang dibalut dengan dialog ludrukan khas Surabaya. Para jamaah yang menyimak sangat kenikmati penampilan mereka berdua dengan gelak tawa gembira. Bagi sedulur yang ingin tahu isi lawakan penampilan ludruk The LUNTAS dan suasana kegembiraan majelis Bangbang Wetan bisa menonton di kanal youtube Bangbang Wetan edisi Maret 2022. Majelis malam itu ditutup dengan ‘indal qiyam yang dipimpin oleh Cak Lutfi.

Surabaya, 31 Maret 2022