CakNun.com

Membangun Sistem Menuju Sukses Bersama-sama

Majelis Ilmu Maiyah Bangbang Wetan Surabaya edisi Mei 2022

Alhamdulillah Mas Sabrang MDP bersama Pak Suko Widodo dan Pak Darmaji bisa hadir pada Senin Malam (30/5) di Majelis Ilmu Bangbang Wetan edisi Mei 2022. Berlangsung di Kayoon Heritage, Jl. Embong Kemiri 19-21, Genteng, Surabaya, area parkir yang menjadi tempat berlangsungnya acara dipadati jamaah.

Dok. Bangbang Wetan

Pada majelis ilmu kali ini tampak jamaah merasa tergelitik pemikirannya tentang tema “Kapan Datang Engkau Menjelang”, sehingga semenjak sesi awal mbabar tema dan dilanjut sesi Sinau Bareng Mas Sabrang, Pak Suko dan Pak Darmaji, banyak jamaah antusias maju ke atas panggung untuk menyampaikan pertanyaan dan sudut pandang pemahamannya tentang tema tersebut.

Mas Aminullah yang memoderatori Sinau Bareng membuka tiga pertanyaan awal dengan harapan tiga pertanyaan itu ada sambungannya dengan tema, dan isi hati semua jamaah yang hadir.

Mengingat Perubahan Kita Bagaimana dan Apa yang Harus Dibongkar dari Masa Lalu

Pertanyaan pertama disampaikan oleh Reza dari Ampel Surabaya. Reza menyampaikan, kenapa ketika dewasa, kita terkadang ingin recall kenangan peristiwa masa kecil yang pernah kita lakukan? Kenangan peristiwa masa kecil itu seperti bersekolah dan bermain dengan teman-teman. Di masa dewasa kita banyak me-recall kenangan masa kecil karena takut menghadapi tantangan masa depan. Kita sebenarnya takut menghadapi tantangan masa depan atau untuk menghadapi tantangan masa depan kita harus me-recall masa lalu?

Mas Sabrang merespons pertanyaan itu dengan dasar pemahaman, “Dalam hidup itu tidak ada yang harus. Dalam hidup itu yang ada konsekuensi. Ada sebab ada akibat. Harus melakukan apa itu tidak ada, cuma ada akibatnya.”

Seperti halnya mengingat masa lalu menurut Mas Sabrang tidak ada keharusan, cuma ada manfaatnya mengingat masa lalu untuk mengingat perubahan kita bagaimana dan apakah ada yang perlu dibongkar dari masa lalu. Pikiran yang mengembara ke mana-mana disebabkan karena tidak nyaman dengan keadaan yang kita alami sekarang. Maka, kita mengingat masa lalu.

Perihal pikiran, Mas Sabrang berpendapat bahwa terkadang pikiran itu menyakitkan. Karena otak itu seperti pisau. Semakin tajam otak kita dalam menganalisis, semakin bisa memilah konsep dan sesuatu, tetapi otak juga bisa berisiko mengiris diri kita sendiri kalau kita memegangnya tidak benar.

Mas Sabrang pernah sedikit memetakan masalah psikologi, dari bermacam-macam masalah psikologi Mas Sabrang bertemu kesimpulan bahwa hampir 80 persen masalah psikologi datang dari masa lalu (memori) dan masa depan (imajinasi). 80 persen masalah psikologi dari masa lalu (memori) dan masa depan(imajinasi) itu yang menyebabkan overthinking sehingga ada yang namanya healing. Karena bagian naluriah dari manusia memang lebih sensitif dengan informasi yang negatif daripada informasi yang positif. Kita tinggal melihat efektivitas mengingat masa lalu berguna atau tidak bagi hidup kita. Jadi, yang berguna itu bukan alatnya, tetapi bagaimana cara kita menggunakan dengan tepat.

Kita hanya punya memori (masa lalu) dan imajinasi (masa depan), sedangkan hidup yang sebenarnya yaitu sekarang.

Membangun Model di Otak Kita

Mas Sabrang melanjutkan respons pertanyaan selanjutnya dari Irul, pegiat seni lukis dariSurabaya Barat, yang bertanya tentang pandangan Mas Sabrang tentang puisi Mbah Nun “Engkau Menjelang”—yang menjadi titik keberangkatan lahirnya tema majelis ilmu edisi Mei kali ini. Sepemahaman Mas Sabrang, Mbah Nun dalam puisi tersebut sedang menggambarkan bagaimana cara kita keluar dari penjara “jagat kecil” kita.

Ibarat globe yang merupakan tiruan bumi yang bulat. Pentingnya globe adalah model yang membantu kita untuk memahami bumi sebenarnya. Sebab di kepala kita isinya semua model. Model yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Misalnya ketika kita buang air besar, kita tidak pernah khawatir bahwa fases yang kita keluarkan dari dubur itu malah neplok wajah kita, karena di dalam otak tanpa kita sadari mempunyai model bahwa gravitasi pasti bekerja seratus persen.

Jadi, sepanjang hidup itu kita membangun model terus-menerus di kepala untuk memahami dunia. Tapi itu model, bukan dunianya. Bahkan ketika kita melihat sesuatu, itu sebenarnya kita tidak melihat sesuatu itu. Yang kita lihat pada sesuatu itu hanya model juga, cahayanya masuk ke otak kita, datanya diinterpretasi sama otak sehingga kita mempunyai model benda itu di kepala kita. sehingga ketika benda itu tidak ada, kita bisa membayangkan dan menciptakan sendiri benda itu sesuai model yang kita simpan di otak.

Namun, terkadang orang terlalu percaya diri dengan model yang dibangunnya, sehingga tidak bisa membedakan model dengan alam sebenarnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara kita mengecek model yang ada di kepala kita, karena dunia ini koheren. Maksudnya dunia ini tidak ada yang konflik, semua berjalan dengan smooth. Kalau di dalam kepala kita ada yang konflik, berarti ada yang bermasalah dengan model, bukan dunianya.

Biasanya yang membuat kita terkejut dan tertarik itu jika model kita tidak sesuai dengan dunia. Misalnya ketika kita melihat kambing bisa terbang, kita akan terkejut. Kita terkejut karena kita tidak mempunyai model di kepala kita bahwa kambing itu bisa terbang. Semua hal di hidup yang mengejutkan dan menarik bagi kita, berguna meng-update model di otak kita. Semakin model kita lengkap mendekati jagat yang sebenarnya, tidak ada lagi yang membuat kita terkejut. Dan hidup kita menjadi beda “arahnya”.

Karena dalam membangun model, tadinya kita menemukan hal-hal baru yang menyenangkan, setelah itu lama-kelamaan kita bisa memprediksi dan kita akan merasa hidup yang kita jalani anyep, karena bukan itu lagi kendaran mesin hidup kita.

Setelah kita mengerti model, sebab-akibat, kita mulai bisa melihat ke depan, dan yang datang berikutnya adalah tanggung jawab. Kita bisa mencari cara bagaimana ke depan bisa menjadi lebih baik sesuai model yang kita miliki.

Karena kegunaan model itu untuk memprediksi kejadian masa depan apa yang akan terjadi. Manusia tanpa model tidak bisa berbuat apa-apa, karena kita tidak akan berbuat sebelum mempunyai prediksi terhadap dunia seperti apa.

Narasi Sains dan Agama

Bertumbuhnya dari model, menjadi masuk ke dunia sebenarnya, merupakan kesadaran yang tidak bisa lagi ditampung oleh hardware yang namanya otak. Kesadaran itu yang tidak bisa ditempuh oleh dunia sains, bisanya ditempuh oleh dunia spiritual.

Sebelum Mas Sabrang merespons, dalam kesempatannya berbicara, Pak Darmaji menyampaikan salah satu ciri orang pintar adalah bisa menjelaskan perkara rumit menjadi sesuatu yang sederhana. Menurut Pak Darmaji, Mas Sabrang masuk dalam kategori orang pintar tersebut.

Perihal dunia sains dan spiritual itu yang membuat Fajar dari Surabaya bertanya bagaimana mengkategorikan batasan sains dengan keyakinan atau agama? Apakah pendekatan sains bisa dilakukan dengan riyadhoh mendekatkan diri kepada Allah?

Mas Sabrang merespons pertanyaan itu dengan pemahaman bahwa di otak manusia ada jagat kecil model dunia besar. Dari kumpulan model itu ada narasi atau bangunan ilmu. Kegunaan model adalah menjaga narasi agar tidak bertabrakan.

Dok. Bangbang Wetan

Sains berada pada narasi dunia terbatas. Narasi sains tidak bisa dikategorikan sebagai sains ketika tidak bisa disalahkan. Agama mempunyai narasi untuk memahami jagat besar. Karena manusia hanya bisa membuat model memahami jagat besar. Agama memberi tahu sesuatu yang tidak bisa dibuktikan. Karena manusia ingin menuai hasil yang cepat dengan cara yang mudah.

Sains berbicara tentang yang bisa dilihat dan bisa dibuktikan. Sedangkan agama berbicara spiritual dan ketidakterbatasan. Perlu pegangan mudah untuk memahami sesuatu yang tidak terbatas, maka agama menyodorkan konsep Tuhan. Kategorisasi itu ciptaan manusia. Cara memahami batasan antara sains dan agama adalah memahami narasi keduanya. Agama ngomong klaim. Sedangkan sains how. Untuk memahami agama kita harus belajar Higher Order Logic pada konsep lapis logika.

Memperbaiki Sistem Agar Tidak Keluar Masalah

Perihal kelanjutan workshop kapan pelaksanaannya, yang ditanyakan oleh Budi dari Kediri, Mas Sabrang mengungkapkan bahwa workshop yang akan ditempuh itu supaya bagaimana kita bisa mengembangkan diri. Sebab dalam organisasi, termasuk organisasi badan ini ada yang disebut sebagai arketipe problem, hanya ada beberapa jenis problem tertentu. Salah satu problem yang ada pada beberapa jenis problem tersebut disebut sebagai Problem Fire Fighting.

Problem Fire Fighting adalah ketika dalam sistem ada sebuah problem, solusinya harus dari luar. Ketika solusinya harus dari luar, berarti sistem itu sebenarnya tidak sehat. Karena solusinya sebenarnya memperbaiki sistem itu agar tidak keluar masalah, bukan memakai bantuan dari luar. Kalau memakai bantuan dari luar, sebenarnya sistem kita itu tergantung sistem dari luar. Seperti adanya KPK, karena kita tidak bisa mengatasi masalah korupsi, maka kita membutuhkan KPK untuk mengatasi masalah korupsi.

Masalah tidak akan pernah selesai karena yang dipecahkan masalah permukaan, bukan masalah yang fundamental. Kekuatan kita sudah dibantu oleh teknologi, dengan adanya motor, mobil dan teknologi pembantu yang lain. Begitu juga mulut kita sudah dibantu teknologi dengan adanya gadget dan media sosial. Sedangkan otak kita belum dibantu oleh teknologi. Maka kekosongan itu yang membuat Mas Sabrang tergerak untuk membantu otak generasi bangsa Indonesia untuk bisa pintar lebih cepat, dengan teknologi yang ke depan akan Mas Sabrang bagikan ke depan.

Kegunaan teknologi dari Mas Sabrang yang akan dibagikan kepada kita semua, untuk me-manage otak dibantu agar kapasitasnya lebih besar dan bisa mengobrol dengan diri kita sendiri.

Setuju terhadap apa yang menjadi rencana besar Mas Sabrang untuk bisa membuat generasi muda Indonesia menjadi pintar lebih cepat, Pak Suko Widodo berpendapat bahwa masa depan milik kita generasi muda bangsa Indonesia. Yang harus dilakukan pada kondisi sekarang adalah pikiran kita harus ke depan.

Pentingnya Mencatat

Merasa tergelitik oleh pernyataan Mas Sabrang tentang kebiasaan mengobrol dengan diri kita sendiri, M. Iqbal Alawi dari Tuban bertanya tentang bagaimana cara kita memulai untuk berdialog dengan diri sendiri? Sedangkan sehari-hari malas berdialog dengan diri sendiri. Ciri-ciri keberhasilan berdialog dengan diri sendiri?

Mas Sabrang meresponsnnya dengan menjelaskan kecenderungan otak. Untuk memahami sesuatu, otak mempunyai cara representasinya yang berbeda-beda. Ada bentuk gambar dan ada bentuk pola.

Kita bisa ngobrol dengan diri kita, caranya diri kita yang sekarang dengan masa lalu. Salah satunya dengan mencatat. Kita yang sekarang membaca catatan kita yang masa lalu, ketika membaca catatan masa lalu kita, apakah kagum atau terkejut dengan apa yang kita tulis dahulu. Maka, itulah pentingnya mencatat.

Kalau ngomong pendidikan, didiklah salah satu yang sering digunakan. Salah satu proses mengeksternalkan otak adalah mencatat dan mengobrolkan dengan orang lain. Berbicara soal inspirasi, inspirasi itu bisa di-trigger. Salah satu cara men-trigger inspirasi adalah dengan mencatat, dan catatan yang sudah kita catat kita baca kembali. Supaya kita menemukan celah atau kekosongan yang menjadi inspirasi kita berbuat yang lebih baik ke depan.

Cara Memaksimalkan Cara Kerja Otak

Rizal ikut tertarik terhadap apa yang Mas Sabrang katakan tentang memaksimalkan kapasitas otak. Menurutnya, kurang dari 10 persen orang menggunakan otaknya. Terinspirasi dari salah satu cerita film, Rizal berpandangan bahwa Elon Musk itu salah satu orang yang memanfaatkan kelenjar pineal.

Maka Rizal bertanya apakah ada metode menggunakan kelenjar pineal supaya kita bisa memaksimalkan kemampuan otak kita? perihal kemampuan memaksimalkan otak, Mas Sabrang berpendapat bahwa otak manusia sebenarnya sudah dipakai 100 persen. Apalagi ketika tidur. Banyak kegunaan otak yang tidak kita sadari.

Salah satu cara memaksimalkan cara kerja otak dengan cara latihan cakra, kalau dunia modern menyebutnya sebagai gland. Salah satu caranya dengan semedi. Semedi itu cara yang bisa mengontrol ke dalam diri. Supaya kita bisa mengeluarkan hormon kebahagiaan setiap saat. Proses pintar itu bukan pada hardware (otak), tetapi kepada software (kesadaran). Refleksi dari manusia adalah melakukan sesuatu dengan cara cepat. Ketertarikan sesuatu pada sesuatu dikerjar supaya kita bisa belajar.

Cara Diri Sejati Mengenalkan Dirinya

Satrio Wahyu dari Pati Jawa Tengah mengalami problem dalam dirinya. Satrio dari background pendidikan Teknik Elektro berbanding terbalik dengan pekerjaan yang ditekuni sekarang, yang banyak bergelut di bagian software IT. Maka Satrio bertanya, bagaimana cara kita tahu bakat kita sesuai dari apa yang kita mampu?

Mas Sabrang berusaha menjelaskan pertanyaan dari Satrio dengan mengibaratkan cara kerja otak itu sebagai komputasional logika. Di bawahnya ada ketertarikan. Ketertarikan tidak bisa diukur dengan komputasional logika. Sebab diri kita tidak transparan.

Kita bisa menemukan bakat dengan cara ketika kita berjalan mengikuti sesuatu yang membuat kita terkejut. Kita menemukan kenyataan dunia yang tidak sesuai dengan model dunia yang ada di otak kita. Maka, untuk membangun model dunia, kita harus mengumpulkan ilmu. Untuk mengumpulkan ilmu kita harus tahu sebabnya kenapa kita mengumpulkan ilmu.

Maka, diri yang sejati untuk mengenalkan diri kita yang sejati, butuh mengajari diri kita (model) yang di otak untuk mempunyai mesin agar mengenali diri yang sejati. Jadi kita harus belajar sesuatu untuk menjadi pondasi mesin agar mengenal diri.

Cara diri sejati mengajak kita membuat mesin itu dengan ketertarikan. Ketika kita tertarik terhadap sesuatu, menurut Mas Sabrang, kerjarlah! Karena ada bagian ilmu untuk kita di dalam ketertarikan terhadap sesuatu itu.

Dok. Bangbang Wetan

Harganya jika kita mau mengejar ketertarikan terhadap sesuatu adalah diri kita sedang memberitahu diri kita, bahwa ada ilmu yang harus kita ambil untuk mengenal diri kita yang sejati.

Salah satu cara kita menemukan diri adalah bercermin. Cermin diri kita itu adalah ketertarikan kita terhadap sesuatu. Ketika kita mengidolakan seseorang, kita akan merasa kecewa jika kita menemukan kekurangan dari orang yang kita idolakan, yang selama ini kita anggap sempurna. Sebenarnya yang kita idolakan bukan orang itu, melainkan karena kita menemukan refleksi diri kita, yang kita temukan dari yang kita idolakan. First principle cara kerja otak kita adalah mengumpulkan informasi dari pengalaman banyak orang.

Ilmu banyak dapat membuat kita lebih mudah berinovasi, karena kita bisa melihat dari perspektif yang berbeda. Jadi, belajar banyak adalah untuk mengumpulkan perspektif. Tidak ada ruginya kita dalam menempuh proses belajar.

Berbicara soal passion. Passion itu bukan ketertarikan. Passion berasal dari kata passio artinya penderitaan. Bekerja mengikuti passion bukanlah mengikuti dari apa yang membuat kita tertarik, tetapi dari kemampuan kita mengikuti penderitaan demi penderitaan yang kita tempuh.

Mas Sabrang menutup pendalaman Sinau Bareng malam itu dengan membagikan tips untuk kita mudah mengingat. Ada proses yang natural di otak manusia adalah akan ingat ketika berguna. Ketika kita mendengarkan sesuatu, kita langsung mencari cantholan kegunaanya dari apa yang kita dengar bagi hidup kita.

Surabaya, 31 Mei 2022.

Lainnya

Ifa Vokalis Band Grindcore

Ifa Vokalis Band Grindcore

Lelaki yang bertopi ini namanya Muhammad Faisal. Tapi dia lebih familiar disapa dengan panggilan Ifa.

Hadiah Nubuwah di Akhir Zaman

Hadiah Nubuwah di Akhir Zaman

“Maiyah ini adalah hadiah dari Allah untuk anda semua.” Semoga pembaca yang budiman bisa merasakan hal seperti yang saya rasakan ketika mendengar kalimat tersebut diucapkan oleh Mbah Nun pada malam 17 Oktober 2019 M kali ini, di Mocopat Syafaat.