Peran-Peran Mbah Nun (1)

2. Peran Kecendekiaan

Kita berada pada masa di mana cendekiawan dan intelektual kebanyakan adalah bagian dari satu lembaga, universitas, organisasi atau institusi yang menjadi kuda tunggangannya. Itu tidak buruk selama posisi sebagai cendekiawan tetap mengedepankan objektivitas. Tapi belakangan masyarakat sudah kehilangan kepercayaan pada kelas cendekiawan, sebab manakala persoalan atau kajian yang dihadapi berpotensi menggugat kemapanan lembaga tempatnya bernaung, para cendekiawan lebih banyak bersikap menjadi corong pembela.

Mbah Nun punya sisi intelektual yang sangat tajam, metodologi yang mengiris persoalan selapis demi selapis, dan karena Mbah Nun tidak merupakan anggota resmi suatu institusi, Mbah Nun menjadi cendekiawan yang lebih mampu dipercaya dan didengarkan oleh masyarakat bila menyumbangkan ide mengenai beragam persoalan kehidupan baik melalui tulisan, ceramah, maupun produk kesenian.

Bisa kita lihat bagaimana Mbah Nun ikut menyumbangkan ide dan gagasan pada beberapa komunitas suporter sepakbola. Gagasan yang dikemukakan sangat logis dan realistis untuk diaplikasikan seperti mengintensifkan pertemuan yang bermanfaat, atau bahkan agar suporter sepakbola juga ikut mengurusi persoalan sampah di kotanya masing-masing. Bahkan Mbah Nun dimintai ide dan gagasan oleh civitas akademika universitas di berbagai daerah yang menjadi salah satu tempat bercokolnya para cendekiawan. Sebut saja UGM, UIN, UMM, UNY, UII, Unair, Unibraw, UNEJ, UNDIP, UNPAD, ITS, ITB, UI, dan U… serta I… yang lain.

3. Peran Kesenimanan

Peran kesenimanan yang dijalani Mbah Nun adalah seni untuk melayani langsung masyarakat, menghibur dengan seni yang mencerahkan sambil berdialog dengan mereka untuk ikut membantu mencarikan solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Berangkat dari prinsip melayani masyarakat ini, kreativitas Mbah Nun bersama KiaiKanjeng lebih tertantang. Karena dalam berkeliling ke pelosok-pelosok negeri, Mbah Nun dan KiaiKanjeng ‘ditabrak’ oleh berbagai jenis masyarakat berikut permasalahan yang menyertai.

Justru dengan memilih seni sebagai metode pencerahan dan penyadaran masyarakat, Mbah Nun dan KiaiKanjeng diperjalankan dengan pentas di lebih dari empat ribu titik, tidak hanya dalam negeri namun juga mancanegara.

Peran kesenimanan yang dijalani Mbah Nun sebagai peran sosial adalah hal yang wajar dalam kehidupan yang dibebani kewajiban untuk bekerja. Namun bekerja dengan peran kesenimanan di sini adalah bekerja dalam makna fungsional untuk melayani rakyat, bukan bekerja sebagai karir.

4. Peran Kekiaian

Kita bisa saja berbeda pendapat mengenai klasifikasi dan definisi kyai. Bagaimana perubahan status dari sunan, syekh, hingga kepada Kyai pada akhir abad 19 ketika modernisme mau-tidak mau mulai diserap secara utuh di negeri ini. Kita pakai pengartian kyai yang secara impresi dan banyak dianut mainstream saja. Jadi ini adalah kata Kyai yang lebih bernuansa relasi mistis-religi, bukan yang bermakna tuan tanah.

Di negeri ini, banyak sekali kyai maupun guru spiritual tapi kebanyakan hanya mengandalkan nama nasab dan sanad serta cerita mitos yang ajaib-ajaib. Beberapa orang pada dimensi sosial tertentu tampaknya juga tidak terlepas memandang Mbah Nun sebagai kyai. Dan itu juga tidak ditolak oleh Mbah Nun.

Mbah Nun sama sekali tidak berniat merebut kelas kyai yang terlanjur mapan di berbagai daerah, tapi manakala keberfungsian sebagai Kyai dibutuhkan, Mbah Nun siap berada pada posisi itu. Permasalahan sosial yang perlu dicarikan solusinya banyak dirujuk dari Al-Qur`an dengan terobosan-terobosan pemaknaan yang lebih segar. Dalam menjalani peran Kyai, Mbah Nun mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk banyak berijtihad dan melakukan tajdid dalam berislam, termasuk menguatkan pendekatan Tadabbur atas Al-Qur`an.

Selalu kembali pada apa yang masyarakat butuhkan. Banyak masyarakat yang datang meminta wirid, suwuk atau bahkan meminta nama untuk anaknya. Ada juga yang meminta perut istrinya dielus agar lekas memiliki keturunan. Hal-hal ini yang dulunya adalah peran para sesepuh dan kyai di kampung-kampung, dilakukan oleh Mbah Nun dengan skala dan mobilitas yang jauh lebih luas.

Buku Lockdown 309 Tahun