Peran-Peran Mbah Nun (1)

Saat kecil, pertanyaan yang sering menghampiri kita adalah cita-citamu apa, nanti kalau sudah besar kamu mau jadi apa. Sangat jarang–kalau mau dikatakan tidak pernah–ada pertanyaan cita-citamu ngapain, atau nanti kamu mau berbuat apa. Pertanyaan yang menitikberatkan manusia hanya untuk ‘to be’, bukan ‘to do’ ini mungkin yang menjadikan penilaian peran seseorang di dunia ini dibatasi hanya identitas profesinya saja. Kalau seseorang dalam pandangan masyarakat umum dia disebut dan disepakati sebagai Kyai, maka kok lantas menjadi haram bila Kyai tersebut memiliki peran kemasyarakatan yang lain.

Ada sih permakluman seperti Kyai yang Budayawan, Kyai yang Seniman, Kyai yang Tabib, Kyai yang Politisi, dst. Tapi kalau Budayawan yang Kyai, Seniman, Musisi, Tabib, Negarawan, Cendekiawan, Wartawan, dll sekaligus, mungkin akan dicibir sebagai orang yang tidak jelas.

Sedangkan Mbah Nun tidak dibesarkan dengan atmosfer cara berpikir sempit seperti ini sehingga untuk melihat peran beliau bisa keliru bila menggunakan kaca mata ‘to be’. Karena manusia sebagai khalifatullah dituntut melakukan peran kebaikan apa saja untuk maslahat alam semesta, tentu dengan mengerti fadlilah apa saja yang Allah berikan kepada kita. Tapi pembatasan peran dengan hanya terbatas profesi–yang mana ini semua akibat dari sistem pendidikan era industri yang mencetak pegawai dengan satu peran tertentu–sehingga menyulitkan kita memahami sosok seperti Mbah Nun yang multi-kreativitas dan multi-peran, sudah tidak sesuai lagi dengan zaman sekarang. Dan Mbah Nun sudah melawannya sejak muda, 45 tahun yang lalu.

Sebenarnya sangat banyak peran yang Mbah Nun lakukan, utamanya dalam sosial dan kemasyarakatan. Dalam hal ini, urusannya bukanlah soal menduduki posisi sosial tertentu. Karena mencapai singgasana kelas sosial tidak menjadi titik konsentrasi Mbah Nun. Yang paling utama adalah hal apa yang bisa dilakukan, dan itu bila kita baca, Mbah Nun selalu berlaku sesuai kebutuhan masyarakat sendiri–yang mana tercermin juga dalam peran musik KiaiKanjeng untuk menyapa segala lapisan masyarakat dengan ragam jenis dan aliran musik yang ada.

Pemetaan ini rasanya paling banyak adalah dari apa yang masyarakat ungkapkan mengenai kebutuhan mereka. Tapi bila kita polakan, untuk tahap awal ada enam peran yang Mbah Nun jalankan dalam menghadapi masyarakat di ribuan titik dan dimensi yang mungkin peran ini akan bertambah panjang daftarnya:

1. Peran Penyantunan

Penyantunan, bukan sekadar memberikan sesuatu yang bersifat materi dan ragawi. Walau itu juga tidak kalah pentingnya. Bila kita mulai dari penyantunan yang sifanya materiil, kita bisa melihat sebenarnya berapa banyak kesempatan ekonomi yang terbuka di setiap majelis Maiyah. Lebih dari itu, penyantunan ilmu, penyantunan apapun yang kira-kira dipintakan oleh masyarakat sendiri.

Bahkan orang yang membutuhkan tamparan, sering diberikan dengan cuma-cuma tanpa Mbah Nun berpikir itu bisa merusak image beliau. Lingkar-lingkar kerja di sekitar Maiyah juga tumbuh dan berkembang, hidup berorganisme dengan segala dinamikanya memberikan peran penyantunan kepada masyarakat.

Buku Cak Nun