Pengajian Kok Begitu: 10 Hal untuk Millenial Ketahui Tentang Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng

Kalau mendengar kata pengajian, mungkin yang terbayang di benak teman-teman adalah sekumpulan orang berkumpul duduk dalam suatu majelis, umumnya yang hadir berbaju koko putih-putih. Bisa di ruang tertutup atau terbuka, mendengarkan seorang ustadz atau kiai berceramah di depan. Gambaran seperti itu yang memang banyak hadir di media massa atau media sosial sehingga sangat bisa dipahami bila banyak orang pun melihat Sinau Bareng tak ubahnya seperti pengajian pada umumnya.

Namun bila teman-teman mengikuti Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng, akan terasa bahwa ia memiliki banyak perbedaan dengan pengajian umumnya. Saking berbedanya, terkadang masyarakat awam dengan bekal konsep pengajian yang dipahami dari arus media utama berkomentar terhadap Sinau Bareng dengan “Pengajian kok begitu?”.

Dengan melihat perkembangan dari waktu ke waktu Sinau Bareng yang ‘begitu itu’, ia semakin digandrungi generasi millenial–terlihat sangat antusias hadir di setiap Sinau Bareng kapanpun dan di manapun berada–teman-teman bisa belajar memahami beberapa hal mengenai Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng yang sudah menyambangi lebih dari 4000 titik dalam seperempat abad perjalanannya.

1. Egaliter, tanpa sekat, tanpa seragam, hanya peci Maiyah

Sinau bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng yang selama ini terselenggara adalah sebuah forum yang egaliter. Siapa saja bebas untuk datang ke forum ini. Sebuah forum yang sangat terbuka, tidak memandang suku, ras, agama, apalagi profesi, latar belakang pendidikan, strata ekonomi dan hirarki sosial masyarakat lainnya. Laki-laki dan perempuan, membaur menjadi satu, sehingga generasi millenial pun bisa memperbanyak teman melalui Sinau Bareng. Tidak perlu berseragam ala santri untuk bisa ikut Sinau Bareng. Sarungan boleh, bertato dan bertindik diterima, berpakaian ala anak Punk oke-oke saja, bercelana pendek kaos oblong asik-asik saja, bercadar juga monggo. Satu-satunya yang terlihat umum di Sinau Bareng banyak yang menggunakan peci Maiyah. Itu pun tidak wajib dan hanya penanda kemesraan saja. Yang paling banyak adalah kombinasi warna merah-putih. Namun kombinasi warna lainnya juga banyak.

Jangan kaget jika di Sinau Bareng, teman-teman akan melihat ada jamaah yang bukan orang Islam, atau bahkan ada orang berpenampilan yang oleh media umum dicap sebagai Islam garis keras bisa nyaman hadir di Sinau Bareng. Maka, jangankan NU, Muhammadiyah, HTI, FPI, Sunni atau Syiah, orang yang menganggap dirinya atheis sekalipun boleh datang dalam Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng. Karena yang diterima di Sinau Bareng adalah manusianya tanpa mempedulikan identitas-identitas yang menyekat selama ini.

2. Gamelan KiaiKanjeng adalah elemen primer dalam Sinau Bareng

Konsep Sinau Bareng yang diinisiasi oleh Cak Nun bersama KiaiKanjeng, perlahan banyak diikuti pengajian-pengajian umum. Namun terkadang unsur yang diterapkan hanya menggunakan pemahaman parsial akan posisi Gamelan KiaiKanjeng. Yaitu hanya dianggap sebagai kelompok musik penghibur, sehingga pengajian-pengajian yang mengikuti konsep Sinau Bareng menyertakan sebuah kelompok musik yang hanya berfungsi menghibur di sela-sela ceramah sang ustadz atau kiai hanya sekadar untuk tidak membosankan.

Padahal posisi Gamelan KiaiKanjeng bukan sekadar elemen sekunder dalam Sinau Bareng, melainkan merupakan elemen primer. Kunci-kunci ilmu yang disampaikan Cak Nun terkadang lebih mudah dipahami dengan musik yang dibawakan KiaiKanjeng. Ambil contoh ketika Cak Nun mengajak jamaah untuk memahami dan menyadari jati diri bangsa Nusantara yang ngemong dunia, pemahaman akan itu disampaikan lewat nomor “One More Night”-nya Maroon 5 dengan aransemen gamelan yang dominan. Dan untuk mengajak kita menghargai khazanah masa lalu untuk membangun masa depan, di tengah-tengah lagu kita diajak bermain permainan anak-anak seperti Gundul Pacul, Jamuran, dan Cublak-Cublak Suweng. Edukatif dan menghibur.

3. Siapa saja boleh naik ke panggung, mencari apa yang benar bukan siapa yang benar

Sinau Bareng Cak Nun dan KiaiKanjeng adalah sebuah forum yang memiliki konsep panggung dengan seribu podium. Semua bisa berbicara dengan pagar etika dan empan papan. Tidak ada yang merasa lebih unggul dari yang lainnya. Tidak ada yang merasa lebih pintar dari yang lainnya. Semua yang hadir memiliki landasan bahwa datang ke Sinau Bareng memang untuk belajar bersama-sama. Pun termasuk Cak Nun dan KiaiKanjeng. Orang yang masih memiliki semangat untuk belajar adalah orang yang merasa belum pintar, sehingga masih membutuhkan tambahan ilmu dan wawasan.

Di Sinau Bareng, teman-teman bebas untuk bertanya atau juga mengungkapkan pendapat jika memang tidak sepakat dengan apa yang disampaikan oleh narasumber yang berbicara di panggung. Tetapi jangan salah, di Sinau Bareng yang dicari bukanlah siapa yang benar, melainkan apa yang benar. Maka, opini, pendapat, argumen, dan ilmu apapun yang teman-teman dapatkan di Sinau Bareng bukanlah barang jadi yang bisa diyakini sebagai kebenaran mutlak. Jadi jangan sampai sepulang dari Sinau Bareng merasa paling pintar dibanding yang tidak datang ke Sinau Bareng. Dan di Sinau Bareng juga tidak ada doktrin. Teman-teman berdaulat sepenuhnya untuk sepakat dan tidak sepakat atas setiap ilmu yang didapatkan di Sinau Bareng.

Buku Cak Nun