World Music: 6 Perbedaan Gamelan KiaiKanjeng dengan Gamelan Jawa

Tahun 80-an kelompok Karawitan Dinasti dan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) aktif melakukan pementasan Musik Puisi. Karawitan Dinasti memperlakukan perangkat gamelan untuk merespons pembacaan puisi Cak Nun. Sesuatu yang kurang lazim sebenarnya. Tetapi itulah cikal bakal dengan apa yang generasi milenial sebut sebagai “musikalisasi puisi”. Adalah Novi Budiyanto salah seorang yang bertanggung jawab atas keliaran ide musikalisasi puisi tersebut.

Tahun 1993, Emha Ainun Nadjib dan teater Dinasti mementaskan lakon  berjudul ‘Pak Kanjeng’. Lakon ini merupakan bentuk kritik terhadap penguasa Orde Baru saat itu yang sangat getol membangun Waduk Kedung Ombo sehingga harus menggusur beberapa desa di sekitarnya. Dari sinilah awal mula penggunaan kata Kanjeng. Sebuah idiom yang sebenarnya sakral karena sering dipadu-padankan dengan ‘kebesaran’ dan ‘kekuasaan’.

Dari sana pula kemudian lahir Komunitas Pak Kanjeng (KPK). Kelompok yang juga mempelopori penggunaan kata ‘komunitas’ yang awalnya masih asing.

Peristiwa dijualnya perangkat gamelan yang biasa dipinjamkan untuk digunakan latihan oleh Novi Budianto dan kawan-kawan merangsang ide kreatif seorang Novi Budianto. Keliaran ide tersebut membuahkan seperangkat alat musik gamelan yang tidak seperti gamelan pada umumnya. Lahirlah Gamelan KiaiKanjeng. Beberapa perbedaan antara gamelan KiaiKanjeng dan gamelan Jawa pada umumnya:

Metal Literally

Tidak seperti gamelan Jawa yang umumnya terbuat dari bahan kuningan, gamelan KiaiKanjeng berbahan besi. Biasanya besi tiang listrik atau telepon. Karakater suara yang ditimbulkan cenderung kasar dan keras. Di antara besi, kuningan, dan perunggu, besi adalah bahan yang paling murah.

Tampilan Visual

Secara visual perangkat gamelan Jawa berwarna kuning keemasan. Sedangkan Gamelan KiaiKanjeng memiliki warna yang tidak lazim digunakan perangkat gamelan yaitu hitam pekat.

Konsep Nada

Gamelan Jawa memiliki dua jenis disiplin konsep nada. Slendro dan Pelog. Slendro terdiri dari nada 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (ma), 6 (nem). Pelog tersusun dari nada 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 4 (pat), 5 (ma), 6 (nem), 7 (pi). Secara susunan nada gamelan Kiai Kanjeng memiliki karakteristik sendiri. Konsep nada yang diusung bukan slendro juga bukan pelog. Nada-nada yang digunakan merupakan nada-nada yang nantinya bisa mengalami penyesuaian-penyesuaian dengan susunan nada musik Barat, tradisional Jawa, dan Arabian music. Susunan nada tersebut adalah: sel-la-si-do-re-mi-fa-sol

Sorogan

Untuk mengakali agar nada yang digunakan bisa lebih leluasa beradaptasi dengan musik atau lagu tertentu digunakanlah metode sorogan yaitu mengganti beberapa bilah Saron atau Demung dan pencon Bonang. Tergantung apa nada dasar lagu yang akan dimainkan.

Sense of Ngeng

Dalam meramu komposisi musik, KiaiKanjeng menyebutnya dengan istilah sense of ngeng, yaitu sebuah metode yang lahir dari kesepakatan naluri-naluri musikal para personelnya yang memiliki latar belakang musik yang berbeda-beda.

World Music

Musik yang dimainkan sangat beragam. Hampir semua bentuk musik yang ada di dunia bisa dimainkan oleh Gamelan KiaiKanjeng: Jazz, Blues, Klasik, Jawa atau Nusantara secara umum, Fussion, Funk, Rock, Metal, Rap, musik-musik Timur Tengah, sampai Latin. Aransemen yang sangat luas dan kaya ini membuat KiaiKanjeng bisa diterima oleh siapapun.

Musik Kiai Kanjeng adalah musik progresif Indonesia. Musik yang bisa melayani siapa saja dari kalangan mana saja.” (Beben Jazz, 2017)

Genre musik Kiai Kanjeng adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.” (Novi Budianto)

Buku Cak Nun Majalah Sabana