Peran-Peran Mbah Nun (1)

5. Peran Ketabiban Sosial

Setiap lapisan masyarakat punya lapisan persoalan yang berbeda pula. Dan tiap lapisan persoalan itu membutuhkan treatment yang perlu cekatan dan kelincahan. Mbah Nun menemani para napi di lapas dan mendengarkan keluhan mereka, dimintai nasihat untuk menanggulangi persoalan narkoba oleh BNN, menemani rangkaian acara BKKBN dalam hal membangun keluarga yang baik, menenteramkan hati para santri Syekh Baasyir yang siap mengamuk.

Mbah Nun datang langsung di pusat-pusat konflik dari konflik Poso, kerusuhan etnik di Kalimantan, melayani kebutuhan masyarakat Mandar dan lain sebagainya. Sementara di Kadipiro, tamu yang datang juga tidak pernah berhenti. Dari pengusaha yang bangkrut, cawapres yang sedang gelisah, menteri yang sedang dikepung kepentingan, kepolisian yang resah dan bingung, dan banyak lagi.

Semua ini adalah contoh permasalahan dan persoalan dan semuanya diusahakan jalan keluarnya. Termasuk ketika memproses langsung turunnya Pak Harto dari singgasana kepresidenan tahun 1998, bersama Cak Nur dan beberapa tokoh lain.

Mbah Nun tidak selalu berposisi sebagai pemberi jalan keluar masalah. Bukan memberikan resep baku. Tapi mencarikan metodologi yang kira-kira nanti bisa dipakai berkelanjutan sehingga mereka yang telah selesai dengan persoalannya juga mampu menjadi tabib sosial ke depannya di wilayahnya masing-masing.

6. Peran Sahabat Kemanusiaan

Mudah bagi kita mengatasnamakan kemanusiaan. Mudah bagi kita untuk mencitrakan diri atau mencoba mempercaya-percayai bahwa kitalah perwakilan sah dari kemanusiaan. Hal seperti itu selalu satu paket dengan (terucap atau tidak) kita menuding pihak lain sebagai perusak dan pengusik kemanusiaan. Pada setiap permasalahan apalagi yang membuat masyarakat terpecah pada pilihan kubu yang berhadap-hadapan. Mbah Nun setia pada kemanusiaan itu, tanpa banyak berkoar menggunakan istilah kemanusiaan.

Di antara banyak permasalahan dan pertikaian di masyarakat tampaknya tahun ini, pilpres 2019 adalah yang yang paling mencandu potensi konfliknya. Mbah Nun, rasanya selalu berada pada penengah. Tidak serta merta mengiba pada yang kalah dan ditindas saja, karena logika pembelaan semacam ini sudah lumrah pada hampir setiap tokoh kemanusiaan kita. Efeknya tanpa disadari, selalu memancing dendam kembali.

Mbah Nun tidak terjebak pada dikotomi mayoritas-minoritas atau penindas vs yang ditindas. Bila kita perhatikan, pada setiap potensi konflik Mbah Nun selalu memberi pengobatan yang imbang baik pada pihak yang sedang di atas angin maupun yang sedang terinjak.

Bagi yang sedang menjajah mungkin perlu teguran yang sedikit keras, bagi yang terinjak perlu dibangkitkan kesadaran untuk introspeksi kenapa bisa terjebak pada penjajahan.

Demikian secara singkat bila kita coba merumuskan minimal enam peran terlebih dulu yang diambil oleh Mbah Nun. Tentu tulisan singkat ini tidak atau belum mampu membabarkan dan menjelaskan kesemua yang telah dilakukan dan masih dijalani oleh Mbah Nun. Masih terlalu banyak untuk dapat ditampung dalam satu tulisan saja.

Buku Lockdown 309 Tahun