Ibunda

15 Desember 1992

Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi jimat bagi rizki
dan kebahagiaanmu

Tanah air adalah
Ibunda alammu
Lepaskan alas kaki keangkuhanmu
Agar setiap pori-pori kulitmu
menghirup zat kimia kasih sayangnya
Sentuhkan keningmu pada hamparan debu
Reguklah air murni dari kandungan kalbunya
Karena Ibunda tanah airmu itulah pasal pertama
setiap kata ilmu dan lembar pembangunan hidupmu

Rakyat adalah
Ibunda sejarahmu
Rakyat bukan bawahanmu, melainkan atasanmu
Jangan kau tengok mereka ke bawah kakimu,
karena justru engkau adalah alas kaki mereka yang bertugas melindungi kaki mereka
dari luka-luka

Rakyat bukan anak buahmu
yang engkau berhak
menyuruh-nyuruh dan mengawasi

Rakyat adalah Tuanmu,
yang di genggaman tangannya terletak
hitam putih nasibmu di hadapan mata Tuhan

Rakyat adalah
Ibunda yang menyayangimu
Takutlah kepada air matanya, karena jika Ibunda menangis karena engkau
tusuk perasaannya,
Tuhan akan mengubah peran-Nya dari
Sang Penabur Kasih Sayang menjadi Sang Pengancam, Sang Penyiksa yang maha dahsyat

Ibunda darahmu
Ibunda tanah airmu
Ibunda rakyatmu
Adalah sumber nafkahmu,
kunci kesejahteraanmu serta mata air
kebahagiaan hidupmu

Pejamkanlah mata,
rasakan kedekatan cintanya
Sebab ketika itu Tuhan sendiri yang
mengalir dalam kehangatan darahnya
Kalau Ibunda membelai rambutmu
Kalau Ibunda mengusap keningmu,
memijiti kakimu

Nikmatilah dengan syukur dan batin yang bersujud
Karena sesungguhnya Allah sendiri
yang hadir dan maujud
Kalau dari tempat yang jauh engkau
kangen kepada ibunda
Kalau dari tempat yang jauh ibunda
kangen kepada engkau,
dendangkanlah nyanyian puji-puji untuk Tuhanmu
Karena setiap bunyi kerinduan hatimu adalah
Sebaris lagu cinta Allah kepada segala ciptaan-Nya

Kalau engkau menangis
Ibundamu yang meneteskan air mata
Dan Tuhan yang akan mengusapnya
Kalau engkau bersedih
Ibundamu yang kesakitan
Dan Tuhan yang menyiapkan
hiburan-hiburan

Menangislah banyak-banyak
untuk Ibundamu
Dan jangan bikin satu kalipun
Ibumu menangis karenamu
Kecuali engkau punya keberanian untuk membuat Tuhan naik pitam kepada hidupmu
kalau ibundamu menangis,
para Malaikat menjelma jadi butiran butiran
air matanya
Dan cahaya yang memancar dari airmata ibunda membuat para malaikat itu silau dan marah kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah
kemarahan suci sehingga Allah tidak
melarang mereka tatkala menutup
pintu sorga bagimu

Ibu kandungmu adalah
ibunda kehidupanmu
Jangan sakiti hatinya, karena ibundamu
akan senantiasa memaafkanmu
Tetapi setiap permaafan ibundamu atas
setiap kesalahanmu akan digenggam
erat-erat oleh para malaikat untuk
mereka usulkan kepada Tuhan agar
dijadikan kayu bakar nerakamu

Rakyat negerimu adalah
ibunda sejarahmu
Demi nasibmu sendiri jangan pernah injak kepala mereka
Demi keselamatanmu sendiri
jangan curi makanan mereka
Demi kemashlahatan anak cucumu sendiri
jangan pernah hisap darah mereka
Jangan pernah rampok tanah mereka
Sebab engkau tidak bisa menang
atas Ibundamu sendiri
Dan ibundamu tidak pernah
ingin mengalahkanmu

Sebab pemerintahmu tidak akan
bisa menang atas rakyatmu
Sebab rakyatmulah
ibunda yang melahirkanmu
Serta ia pulalah yang nanti akan
menguburkanmu sambil menangis,
karena ia tidak menjadi bahagia oleh deritamu
karena ibu sejarahmu itu tidak bergembira oleh kejatuhanmu

Ibundamu,
tanah airmu,
rakyatmu
Tak akan pernah bisa engkau kalahkan
Engkau merasa menang sehari semalam
Esok pagi engkau tumbang
Sementara Ibundamu,
tanah airmu, rakyatmu
Tetap tegak di singgasana kemuliaan

15 Desember 1992

**Telah diterbitkan dalam buku Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu, tahun 2000 oleh Penerbit Zaituna.