Dunia modern saat ini tidak mengenal sifat-sifat luhur dari seorang Pemimpin.
Dunia modern saat ini tidak mengenal sifat-sifat luhur dari seorang Pemimpin.

Malam ini, Kenduri Cinta mengangkat tema “Belenggu Pemimpin”, sebuah tema yang berangkat dari pembahasan diskusi di forum reboan yang rutin dilaksanakan setiap Rabu malam di Teras Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki.

Di awal tadi, beberapa penggiat Kenduri Cinta bergantian memaparkan beberapa pemikiran awal yang bisa dijadikan landasan tema besar Kenduri Cinta malam ini. Beberapa khasanah kepemimpinan di Maiyah kembali dijabarkan. Seperti, bahwa Pemimpin adalah orang yang tidak akan menawar-nawarkan dirinya untuk dipilih menjadi Pemimpin.

Bahwa Pemimpin adalah ia yang memiliki sifat zuhud. Dan lain sebagainya. Sementara, dunia modern saat ini tidak mengenal sifat-sifat luhur dari seorang Pemimpin, bahkan sangat sukar kita temukan kemungkinan akan lahirnya seorang Pemimpin yang sejati di Indonesia jika kita melihat realitas situasi dan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara seperti sekarang ini.

Ust Noorshofa mengambil satu khasanah dalam Al-Qur`an, bahwa disebutkan ada empat sosok teladan Pemimpin; Nabi Adam, Nabi Nuh, Keluarga Nabi Ibrahim, dan Keluarga Imron. Satu hal yang digarisbawahi oleh beliau, kenapa bukan Rasulullah saw yang dijadikan teladan? Karena pada dasarnya, Rasulullah saw adalah sosok yang terlampau sepurna yang sangat tidak mungkin kita mampu meneladani seluruh laku hidupnya.

Mbah Nun kemudian menyambung paparan Ust. Noorshofa sebelumnya. Di dalam Al-Qur`an sendiri ada banyak sekali jenis-jenis atau istilah Pemimpin; Rois, Amir, Khalifah, Ulil Amri, Mursyid, Nabi hingga Rasul dengan skala ruang dan waktu yang berbeda.

Ada empat skala ruang Pemimpin yang dijabarkan oleh Mbah Nun malam ini. Pertama, alam pemikiran modern di mana seorang Pemimpin ditentukan atas dasar hal-hal yang sebenarnya masih bersifat abstrak: profesional, loyalitas, integritas, ekspertasi, kemampuan dlsb.

Kedua, konsep Pemimpin menurut Rasulullah saw: Siddiq, Amanah, Tabligh, Fathonah.

Ketiga, mengambil dari tadabbur Al-Hasyr 23-24, bahwa seorang Pemimpin adalah ia yang memiliki sifat ‘Alimul ghoibi wa syahadah, rohman dan rohim. Baru setelah itu ia layak dipilih menjadi seorang Pemimpin, yang kemudian akan memiliki sifat-sifat yang disebutkan selanjutnya; Al-Malik, Al-Quddus, As-Salam, Al-Mu`min, Al-Muhaimin, Al-‘Aziz, Al-Jabbar, Al-Mutakabbir. Tentu saja bukan seperti sifat Allah, melainkan ia mampu mengejawantahkan sifat-sifat Allah tersebut dalam dirinya.

Keempat, dari khazanah Ronggowarsito kita mengenal Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu. Kata Satria sendiri sudah mencakup seluruh sifat-sifat Pemimpin. Seorang Satria adalah ia sudah pasti memiliki sifat-sifat dan nilai-nilai luhur Kepemimpinan yang sejati. Seorang satria sudah pasti jujur, sudah pasti kompeten, sudah pasti cerdas, sudah pasti kuat, sudah pasti tangguh. Ia adalah Pinandhita yang juga Sinisihan Wahyu. Ia bijaksana, yang juga dibimbing oleh Tuhan dalam setiap langkah-langkahnya.

Sifat-sifat Luhur Seorang Pemimpin