Musik Uborampe Pendidikan Masyarakat

Sesungguhnya KiaiKanjeng adalah uborampe-Nya Cak Nun dalam melakukan pendidikan untuk masyarakat. Demikian kata Pak Nevi dengan rendah hati. Mbah Nun sendiri justru sebaliknya menjunjung KiaiKanjeng dan mengajak jamaah mengerti maqam KiaiKanjeng.
Sesungguhnya KiaiKanjeng adalah uborampe-Nya Cak Nun dalam melakukan pendidikan untuk masyarakat. Demikian kata Pak Nevi dengan rendah hati. Mbah Nun sendiri justru sebaliknya menjunjung KiaiKanjeng dan mengajak jamaah mengerti maqam KiaiKanjeng (Foto: Adin).

Embrio KiaiKanjeng dimulai sejak saya masih usia 18 tahun. Dan sekarang saya sudah 60 tahun. Saya sungguh kagum pada proses semua ini. Demikian ungkap Pak Nevi Budianto pada sesi awal Mocopat Syafaat tadi malam ketika Beliau coba menyuguhkan potret perjalanan KiaiKanjeng dari beragam perspektif.

Bahwa KiaiKanjeng telah menempuh proses panjang. KiaiKanjeng pernah melalui fase “LSM” yaitu menjadi alat perjuangan pada masanya. Lalu bertransformasi menjadi musik kontekstual di mana musik dikreativitasi untuk keperluan social arrangement.

Pembahasan berbagai dimensi KiaiKanjeng ini berlangsung dua arah. Pertanyaan dan respons jamaah berhasil memancing Bapak-Bapak KiaiKanjeng untuk bergantian berbagi pengalaman. Dari pengalaman yang dibagikan, diakui maupun tidak terlihat KiaiKanjeng mempunyai pondasi yang kokoh dalam hal manajemen konflik internal, juga dalam hal kealamiahan regenerasi.

Menyaksikan kesungguhan KiaiKanjeng dalam menempuh perjalanannya, juga dampak-dampak signifikan yang telah ditorehkan, maka benarlah apa yang disampaikan oleh pemimpin diskusi Pak Toto Raharjo bahwa dengan melihat kegaduhan saat ini, sesungguhnya yang sedang konflik itu hanya “buihnya”. Apa perlunya kita ikut menjadi buih.

Tonggak-tonggak perjalanan KiaiKanjeng dipaparkan oleh Pak Nevi, Pak Jokam, Pak Toto Rahardjo sendiri sebagai salah satu pendiri KiaiKanjeng, dan lain-lain dengan disertai penggambaran akan situasi sosial-politik pada masa awal terbentuknya KiaiKanjeng pada tahun 1990-an maupun tahun-tahun sebelumnya agar jamaah yang lahir sesudah tahun 90-an mengerti sekilas keadaan yang berlangsung saat itu sehingga bisa dirasakan bagaimana perjuangan KiaiKanjeng.

Itulah masa yang dirasakan oleh mereka sebagai tahun-tahun yang mendukung kreativitas sekalipun lahir atau dipicu salah satunya oleh represi rezim Orde Baru. Itulah tahun-tahun ketika diskursus tentang kebudayaan penuh pemikiran yang berkontestasi secara bermutu dan bergairau, umpamanya wacana seni untuk seni vs seni untuk masyarakat, sastra kontekstual, dan lain-lain.

Selain sebagai sarana pembelajaran bagi Jamaah, sesi penggalian dimensi-dimensi KiaiKanjeng ini dimaksudkan oleh Mbah Nun untuk menempatkan KiaiKanjeng pada maqam yang semestinya sesuai kiprah, kontribusi, dan kreativitas dan pelayanan sosial KiaiKanjeng. Uniknya, KiaiKanjeng sendiri memilih berendah hati dengan menggambarkan dirinya dengan mengatakan, “Sebenarnya KiaiKanjeng adalah uborampe-nya Cak Nun dalam melakukan pendidikan masyarakat.” Padahal jamaah bisa mempelajari bahwa dalam konteks musik saja, KiaiKanjeng sendiri adalah sebuah fenomena.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image