Pertemuan Maiyah Solo Dengan Syaikh Kamba

Syaikh Kamba mengatakan kepada Mbah Nun, “Barokah Antum ini benar-benar luas…. Saya di Solo disambut teman-teman Maiyah seperti raja saja….”
Teman-teman penggiat Maiyah Solo kemarin, 13 April 2017, mendapat kehormatan kedatangan Syaikh Nursamad Kamba yang sedang beracara di Solo.
Teman-teman penggiat Maiyah Solo kemarin, 13 April 2017, mendapat kehormatan kedatangan Syaikh Nursamad Kamba yang sedang beracara di Solo.

Teman-teman penggiat Maiyah Solo sedang bergembira hatinya. Tak terduga jauh hari sebelumnya, ternyata Syaikh Nursamad Kamba ada agenda acara hari ini di Solo. Dan untuk agenda tersebut Beliau sudah berada di Solo sehari lebih awal alias hari kemarin.

Mendengar kabar ini, teman-teman penggiat Maiyah Solo tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka menyambut kedatangan salah satu Marja’ Maiyah yang senantiasa menyuguhkan pemikiran keislaman yang esensial dan substansial. Mereka bertemu Syaikh Kamba di hotel dan tambah mongkoq hatinya karena Beliau juga berkenan membersamai pertemuan internalan mereka tadi malam.

Teman-teman ini belum pernah bertemu dengan Syaikh Kamba sebelumnya, pun sebaliknya Syaikh Kamba juga belum pernah bertemu mereka. Tetapi, seperti dirasakan mereka sendiri, suasana pertemuan ini bagaikan orang sudah lama tersambung dan saling kenal. Barokah Maiyah!

Dan benar, saat pertemuan itu, Syaikh Kamba sempat berkontak via telepon dengan Mbah Nun. Syaikh Kamba mengatakan kepada Mbah Nun, “Barokah Antum ini benar-benar luas…. Saya di Solo disambut teman-teman Maiyah seperti raja saja….”

Pada pertemuan yang berlangsung cair, gayeng, dan seperti orang sudah sering ketemu ini, Syaikh Kamba berbagi ilmu dan pandangan murninya mengenai Islam dan bagaimana perjalanan sejarah mengimplementasikannya pada diri umat Islam dan posisi Maiyah dalam konteks itu. Selalu terpancar dalam wajah dan tutur kata Syaikh Kamba akan rasa syukurnya dapat berada dan bersama di dalam Maiyah.

Syaikh Kamba mengajak rekan-rekan JM Solo ini untuk membaca dan melihat Maiyah sebagai ekstensi dari perjuangan Rasulullah Saw, dengan mengingat bahwa selama 15 abad perjalanan umat Islam lebih bertitik tekan pada aliran-aliran sehingga malah melupakan misi utama perjuangan Rasulullah itu sendiri.

Syaikh Kamba berpendapat bahwa Cak Nun berbicara dalam kancah empirik serta diterima banyak orang dan lapisan. Dan itu adalah ujud nyata perjuangan menjaga agar ada orang yang tetap berada di titik tengah dan seimbang, di tengah keberagamaan kita yang mudah sekali terperosok pada formalitas-formalitas dan eksklusivitas golongan atau aliran, yang hari-hari ini di Indonesia sedang sangat mudah dicari contohnya.

Itu baru secuil dari wawasan yang Syaikh Kamba sampaikan. Masih banyak hal-hal mendasar yang dicatat teman-teman Maiyah Solo dari Beliau dan catatan-catatan itu insyaAllah akan hadir di rubrik Menek Blimbing.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image