Di akhir panduan-Nya, Tuhan menyebut Diri-Nya menyukai “al-muqsithin”, bukan “al-‘adilin” atau “dzul-‘adli”. Seolah-olah pernyataan terakhir itu mengindikasikan titik berat kasuistik kontekstual. Itu metode solusi bakunya.
Di akhir panduan-Nya, Tuhan menyebut Diri-Nya menyukai “al-muqsithin”, bukan “al-‘adilin” atau “dzul-‘adli”. Seolah-olah pernyataan terakhir itu mengindikasikan titik berat kasuistik kontekstual. Itu metode solusi bakunya.

Rindu Tuhan Kepadamu: Istidraj, Dibombong