Botol-botol Doa di Willetton

Ada doa yang dibacakan secara resmi sebagai bagian dari acara, tapi ada pula doa yang nuansa dan getarannya mengalir secara spontan dan murni serta tidak dalam suatu acara.

Lepas Sinau Bareng sore kemarin di Riverton Leuisureplex, Mbah Nun dan Bu Via bersilaturahmi ke rumah Bu Ririn Ismet di Australia tepatnya di Willetton, salah satu bagian di Perth.

Shalawatan di Willetton.
Shalawatan di Willetton.

Hawa di Perth tadi malam (24/9) dikabarkan sangat dingin, sekalipun mestinya sudah mulai tak dingin lagi karena telah memasuki musim semi. Saking dinginnya, saat Sinau Bareng di Riverton itu sempat turun hujan es.

Nah, di rumah Bu Ririn di Willetton itu, sebenarnya bukan benar-benar acara melainkan silaturahmi dan berbincang-bincang, meskipun ada sedikit shalawatan. Tanpa menggunakan alat musik apapun.

Saat Mbah Nun melantunkan shalawat, sepertinya teman-teman merasakan getaran spritual yang terpancar. Lantas, tanpa diniatkan sejak semula akhirnya mereka menghimpun dan menata botol-botol minuman itu lebih dekat kepada Mbah Nun. Tak ubahnya orang minta doa kepada beliau di Maiyahan-maiyahan atau di mana saja di Indonesia.

Aslinya, botol-botol mineral tadi ya buat suguhan para tamu. Namun, karena kekuatan rohaniah yang dirasakan saat bershalawat itu, hati mereka peka, dan segera merespons. Kesempatan ini sayang jika dilewatkan. Mungkin begitu pikir teman-teman. Maka, energi doa ini harus ditampung dan nanti akan diserap atau diberikan kepada siapa saja yang membutuhkan.

Teman-teman Indonesia di Perth pengin ngalap berkah juga.
Teman-teman Indonesia di Perth pengin ngalap berkah juga.

Walhasil, sampai hari kelima ini teman-teman di sana tentu mengalami banyak pengalaman bersama Mbah Nun dan Bu Via selama di Aussie, dan semoga ada yang bisa dibagi untuk kita. Shalawatan dan doa tadi misalnya adalah salah satu dimensi dari pengalaman itu. Dimensi lainnya bisa muncul dari obrolan-obrolan sama Mbah Nun.

Pas usai shalawatan tadi, Mbah Nun juga sempat bercerita kepada mereka tentang sejarah beliau keliling ke mana-mana menyebarkan sholawat. Mulai sejak momentum Reformasi, melencengnya Reformasi, sampai keputusan beliau untuk lebih banyak bergerak di bawah dan puasa media serta lebih intensif shalawatan ke dan di mana-mana, dan sebenarnya hingga saat ini. Sudah lebih dari dua puluh tahun silam. (HM/IAD)

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image