Menikmati Cara Hidup Sorga

Majelis Ilmu Bangbang Wetan, Surabaya, 12 November 2019

Bulan November bagi arek-arek Surabaya dimaknai sebagai momentum untuk mengingat kembali perjuangan para pendahulu untuk menegakkan martabat tanah air dan bangsanya. Prana perjuangan itu kami hirup, diendapkan dalam akal dan hati, dan diembuskan dengan teknologi laku sophisticate. Dan bertepatan dengan momentum putaran waktu kelahiran manusia Muhammad–yang kelahirannya dielu-elukan oleh manusia dan semesta–untuk menerangi dan mencerahkan segala kegelapan dan ketidakseimbangan tata kosmos semesta, nilai, dan hidup dalam sunnatullah.

Manifestasi rasa syukur kita sebagai umat Muhammad adalah dengan merenungi kembali laku Siaga Sorga kita di tengah sistem dan hawa Dhaluman Jahula. Siaga Sorga kita dalam Maiyah adalah menjaga nilai kesetiaan kepada kehidupan dan nilai-nilai, kasih sayang satu sama lain, ketulusan dalam persahabatan, kedewasaan berpikir, pendalaman batin, dan kebijaksanaan hidup. Renungan Siaga Sorga kami selenggarakan di Halaman TVRI Jawa Timur–sebagai kesepakatan tempat kami berkumpul–demi rasa rindu bersaudara dan bergembira bersama.

Diawali dengan nderes surah Al-Ankabut, mewiridkan Wirid Akhir Zaman, dan dipuncaki dengan bershalawat bersama sebagai kristalisasi kerinduan kepada Kanjeng Nabi dan manifestasi Siaga Sorga kita untuk selalu lahir dalam diri, kesadaran, dan memancarkan cahaya rahmatan lil ‘alamin. Selanjutnya sesi diskusi–yang dipandu oleh Mbak Tama dan Mas Yasin–membeberkan tema Siaga Sorga yang dengan diawali dengan penampilan dari Resty D’acoustic dari Unair. Mbak Restu menyapa dengan mengajak bershalawat bersama dan mencoba merangkul hati jamaah dengan membawakan nomor Kertonyono Medot Janji dan Korban Janji.

Mbak Resty juga menyampaikan kesan pertamanya merasakan suasana dan hawa Maiyahan: bahwa Maiyahan asyik dan sangat unik. “Di Maiyah semua gender duduk bersama tanpa dibedakan, menerima segala hal, dan apa adanya,” sebutnya. Sehingga ketika tampil membawakan nomor-nomornya, Mbak Resty merasakan kegembiraan karena semua yang dibawakan diterima dengan kegembiraan dan jamaah bernyanyi bersama.

Turut hadir pula ludruk “The Luntas” Surabaya yang melengkapi kegembiraan agar terlepas segala beban dan kepenatan hidup sehingga kita siap berdiskusi dan mendalami pengertian Siaga Sorga sekaligus mengamalkannya. Menurut Cak Robet—salah seorang personel–tujuan grup ludruk “The Luntas” adalah mengajak pemuda Surabaya untuk melestarikan kesenian ludruk tanpa tendensi apa pun. Menurutnya, ludruk berasal dari cara membaca dan ngarani masyarakat tentang Tari Remo pada zaman Cak Durasim yaitu istilah kela-kelo dan gedruk-gedruk, maka diarani ludruk.

Di tengah kegayengan menikmati penampilan The Luntas  dan sharing seputar ludruk, Kyai Muzammil hadir bersama kita untuk merenungkan dan sinau Siaga Sorga. Maiyah itu memang bagian dari surga yang luar biasa. Untuk bisa merasakan surga itu harus menggunakan pandangan bashirah (hati). Orang tidak bisa merasakan surga, jika masih memakai pandangan mata dan akalnya. Maksud Siaga Sorga adalah agar tak terbawa arus, emosional, dan selalu merasa tidak punya terhadap banyak hal. Hal tersebut jika dipelihara akan mengakibatkan rasa tertekan dan stress. Jika sampeyan membayangkan bahagia kalau punya banyak uang, itu sebenarnya cara berpikir neraka, karena menggantungkan terhadap sesuatu di luar dirinya. “Jika dirimu menuntut sesuatu di luar dirimu, maka sebenarnya dirimu sedang terjajah”, dawuh Kyai Muzammil. Sekarang yang dibangun adalah kecurigaan. Kecurigaan lahir karena kita tidak percaya kepada Allah. Orang bahagia itu percaya kepada Allah. Maksud Siaga Sorga adalah menikmati hidup ini, tak merasakan neraka sebelum datang neraka yang sebenarnya, dengan cara berbahagia menjalani hidupnya. Cara hidup surga adalah tidak pernah merumuskan bahaya atau ancaman dalam hidup, karena percaya kepada Allah. Kyai Muzammil juga menyampaikan pandangannya tentang ludruk, bahwa hakikat ludruk adalah cara berpikir hidup yang cair, sehingga tidak sepaneng dalam menjalani hidup.

Diakhiri dengan penyerahan simbolik berupa kalender Maiyah 2020, sebagai rasa terima kasih Bangbang Wetan kepada The Luntas karena sudah bersedia menemani dengan ludruknya malam ini, maka terlantunlah shalawat yang dipandu oleh Cak Lutfi dan doa oleh Kyai Muzammil sebagai pemungkas Bangbang Wetan November 2019. Semoga Siaga Sorga kita malam ini memancarkan kegembiraan yang mengkristal dalam akal dan hati untuk selalu rindu berkumpul dan bertemu pada Maiyahan mendatang.

Lainnya

Mensyukuri 14 Tahun Bangbang Wetan

Pala Pendhem

Surat Untuk Tanah Mandar

Buku dan Merchandise