Pujangga Yang Bersahaja

Menjelang maghrib, notifikasi tanda sebuah pesan masuk muncul di layar handphone. “Maaf baru berkabar. Datanglah malam ini setelah Isya”. Pesan itu dikirimkan oleh Pak Sutardji Calzoum Bachri. Beberapa hari sebelumnya memang kami di Kenduri Cinta diberi amanah oleh Cak Nun untuk menghubungi Pak Sutardji. Alhamdulillah, melalui Bang Jose Rizal Manua, kami memperoleh kontak Pak Sutardji.

Malam itu, kami datang ke kediaman Pak Sutardji di bilangan Jatibening, Bekasi. Dari alamat yang diberikan, tidak terlalu sulit kami mencarinya. Teknologi hari ini sangat memudahkan kita untuk menemukan alamat yang sama sekali belum pernah kita datangi.

Ketika sampai di depan rumah Pak Sutardji, tampak sepi. Sebuah rumah dua lantai sederhana, dengan pagar berwarna biru, sebuah mobil tua terparkir di garasi, tampak beberapa kucing berkeliaran di garasi. Sepertinya, pemilik rumah ini pecinta kucing. Pemandangan rumah Pak Sutardji sungguh jauh dari bayangan kami. Dalam bayangan kami, karena Pak Sutardji adalah salah satu tokoh sastra ternama di Indonesia. Andaikan pak Sutardji lahir di tahun 70-an atau 80-an, mungkin sekarang adalah masa-masa puncak dari karya-karyanya.

Setelah mengucapkan salam, tampak sosok Pak Sutardji dari balik pintu. Di usia yang sudah mencapai 77 tahun, usia yang tentu saja tidak muda lagi, tapi ia sangat bersahaja, menyambut kedatangan kami dengan hangat. Dibukakan pintu untuk kami, kemudian setelah memarkir sepeda motor, kami dipersilahkan masuk ke dalam rumah.

Tentu saja, karena kami adalah orang yang baru pertama kali ini bertemu dengan Pak Sutardji, kami memperkenalkan diri dan menyampaikan apa tujuan kedatangan kami. Kami sampaikan salam dari Cak Nun untuk beliau. Memang secara khusus Cak Nun meminta kami untuk menyampaikan rencana Kenduri Cinta di bulan Juli ini, yang akan mengangkat tema besar Ijazah Maiyah untuk diserahkan kepada 3 tokoh sastra di Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan Iman Budhi Santosa. Kenduri Cinta bukan sesuatu yang asing bagi Pak Sutardji. Beberapa kali, Pak Sutardji pun hadir di Kenduri Cinta.

Selain menyampaikan rencana kami, sekaligus kami meminta izin beberapa karya-karya Pak Sutardji untuk dibawakan di Kenduri Cinta oleh beberapa seniman yang memang sudah beberapa kali tampil di Kenduri Cinta. Pak Sutardji pun menyambut gembira dengan rencana yang kami sampaikan. Beliau kemudian memperlihatkan sebuah video dokumentasi di mana beliau tampil membawakan musik puisi “Aku” karya Chairil Anwar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Video itu direkam pada tahun 2014, maka usia beliau saat itu 74 tahun. Namun dalam video tersebut Pak Sutardji masih sangat atraktif membawakan puisi yang juga diselingi nyanyian “Summer Time”.

Setelah dirasa cukup, kami berpamitan. Kami pun meminta izin jika beberapa hari lagi kami akan bersilaturahmi kembali ke kediaman Pak Sutardji.

***

Di tengah kesibukan penggiat Kenduri Cinta untuk mempersiapkan gelaran Ijazah Maiyah, kami kemudian berkesempatan untuk silaturahmi di kediaman Pak Taufiq Ismail, di Utan Kayu, Jakarta Timur. Sama seperti ketika kami datang ke kediaman Pak Sutardji, saat tiba di rumah Pak Taufiq Ismail pun kami disambut hangat. Sebelumnya, melalui Ibu Ati (Istri Pak Taufiq), kami menyampaikan keinginan kami untuk bertemu dengan Pak Taufiq. Dan kami diberi jadwal untuk bertemu pada hari Kamis (4/7) pagi, pukul 10.00 WIB.

Tak lama setelah kami dipersilahkan masuk ke rumah, Pak Taufiq menemui kami. Meskipun usianya sudah mencapai 84 tahun, langkahnya masih tegap, badannya tampak masih sehat. Sepertinya sudah menjadi sebuah kebiasaan Pak Taufiq, setiap kali menerima tamu, ia membawa sebuah buku agenda kecil. Hal-hal yang dirasa penting, akan dicatat oleh Pak Taufiq di buku tersebut.

Kenduri Cinta bagi Pak Taufiq Ismail juga bukan forum yang asing. Bahkan, di awal-awal lahirnya Kenduri Cinta, Pak Taufiq Ismail cukup aktif hadir di Taman Ismail Marzuki. Bersama Bang Jose Rizal Manua, Bang Hamid Jabbar dan Cak Nun sendiri tentunya. Maka, ketika kami memperkenalkan diri dari Kenduri Cinta, Pak Taufiq pun langsung akrab, bahkan menanyakan kapan Kenduri Cinta diselenggarakan di bulan ini.

“Tanggal 12 Juli, Pak Taufiq”, jawab kami. Pak Taufiq kemudian membuka buku agenda yang ia bawa. Alhamdulillah, di tanggal 12 Juli beliau tidak terjadwal untuk hadir di acara lain, dan langsung mengiyakan ketika kami menyampaikan permohonan kesediaan hadir di Kenduri Cinta edisi Juli 2019 ini.

Kami pun kemudian ngobrol. Pak Taufiq bertanya, bagaimana suasana Kenduri Cinta saat ini. Meskipun sudah lama tidak datang ke Kenduri Cinta, Pak Taufiq Ismail ternyata juga menyimak Maiyahan melalui Youtube. Kami pun menyampaikan bahwa anak-anak muda pada rentang usia 18-35 tahun saat ini memenuhi Maiyahan di berbagai daerah.

“Alhamdulillah”, ucap Pak Taufiq mendengar cerita kami. Pak Taufiq kemudian menyampaikan bahwa anak-anak muda hari ini harus memiliki pegangan nilai yang cukup kuat untuk menjalani peradaban hari ini, karena apa yang dihadapi oleh anak-anak muda hari ini lebih berat dari apa yang dialami oleh Pak Taufiq di tahun 60-an dan 70-an dulu ketika beliau masih muda.

Beberapa kali, pada pertemuan tersebut, apa yang kami sampaikan beliau tulis pada buku kecil yang dibawa. Sepertinya, memang disiplin hidup Pak Taufiq adalah mencatat hal-hal yang penting dari setiap orang yang datang menemuinya. Hal-hal yang menurut kami adalah hal yang remeh, tapi ternyata tidak bagi Pak Taufiq. Padahal, tema obrolan kami adalah tema obrolan yang sangat santai, tapi beberapa kali Pak Taufiq mencatat hal-hal yang mungkin bagi beliau cukup penting untuk dicatat.

Tentu sangat berkebalikan dengan generasi muda hari ini. Pak Taufiq memang hidup di era yang masih jauh dari gadget. Bahkan dulu, jelas bukan komputer melainkan mesin ketik yang menjadi media bantu Pak Taufiq dalam menulis naskah puisi. Mungkin, memang tradisi Pak Taufiq untuk menulis sesuatu di buku tulis sebelum kemudian menuangkannya di secarik kertas melalui mesin ketik.

Seiring berkembangnya teknologi, tentu saja Pak Taufiq beradaptasi. Ketika kami datang ke rumah beliau, terlihat 2 unit komputer tertata di ruang tamu, mungkin itu meja kerja Pak Taufiq sekarang. Tapi, Pak Taufiq Ismail tetap menjadi Pak Taufiq Ismail. Meskipun ia sudah menggunakan handphone, tetap saja reminder agenda-agenda beliau adalah buku agenda kecil, yang jadwal di dalamnya ia tulis sendiri.

Kami tidak bisa berlama-lama berbincang dengan Pak Taufiq, karena beliau sudah terjadwal untuk rekaman video di sebuah stasiun TV swasta untuk membacakan puisi-puisi beliau sendiri. Kami pun berpamitan, dan kami dibekali 2 eksemplar Majalah Horison terbaru.

***

Notifikasi pesan baru kembali muncul di layar handphone. “Assalamualaikum. Maaf baru berkabar. Silahkan datang ke rumah malam ini. Setelah Isya”. Yap, pesan itu datang dari Pak Sutardji Calzoum Bachri. Memang, beberapa hari yang lalu kami mengutarakan keinginan untuk kembali bersilaturahmi di kediaman beliau.

Pada silaturahmi pertama, sempat kami sampaikan kepada Pak Sutardji agar bersedia hadir di Kenduri Cinta bulan ini, namun beliau belum bisa memastikan. Maka, pada kesempatan kedua silaturahmi ini kami kembali memastikan kesediaan Pak Sutardji untuk hadir di Kenduri Cinta kali ini. Tanpa pikir panjang lagi, beliau mengiyakan untuk hadir. Alhamdulillah.

Dari Pak Sutardji Calzoum Bachri dan Pak Taufiq Ismail, kami belajar tentang kesahajaan hidup dan dispilin menepati janji. Pada setiap pesan Whatsapp yang kami kirimkan, kami ketik secara hati-hati, kata per kata, agar tidak terjadi salah ketik. Maklum saja, yang kami hubungi adalah tokoh sastra ternama di Indonesia, tentu jangan sampai kesan pertama yang kami perlihatkan jangan sampai mengurangi etika dan sopan santun. Tetap saja, kami adalah anak muda yang jauh usianya dari beliau berdua.

Sementara kami menyambung silaturahmi dengan Pak Taufiq dan Pak Sutardji, serta memastikan kesediaan beliau berdua untuk hadir di Kenduri Cinta, sebagian dari penggiat Kenduri Cinta yang lain pun terus berproses mempersiapkan segala kebutuhan teknis dan non-teknis. Mulai dari poster, kesiapan panggung beserta sound system, tata letak panggung serta dekorasi panggung, semua berjibaku memikirkan dan berusaha semaksimal mungkin agar penyelenggaraan acara penyerahan Ijazah Maiyah di Kenduri Cinta bulan ini berlangsung lancar.

Di tengah kesibukan di kantor masing-masing, para penggiat Kenduri Cinta meluangkan waktu mereka untuk mempersiapkan semua kebutuhan teknis di lapangan. Tinggal 2 hari lagi, hingga event ini terselenggara.

Buku Cak Nun Majalah Sabana