Siaran Pers Pementasan Teater WaliRaja RajaWali

Tugu Pahlawan Surabaya, Jumat 23 September 2022 pukul 19.00 WIB
  1. Lakon drama WALIRAJA RAJAWALI ini merupakan bagian kedua dari Trilogi lakon Teater Perdikan Yogyakarta. Yang pertama berjudul MLUNGSUNGI, yang ketiga akan segera ditentukan judulnya. MLUNGSUNGI sudah dipentaskan 2 malam di Taman Budaya Yogyakarta kemudian 1 malam di forum Maiyah Padhangmbulan Jombang beberapa bulan yang lalu.

    MLUNGSUNGI terdiri atas 92 pemain dengan perlengkapan pentas dalam ukuran kolosal. Teater Perdikan tidak punya biaya untuk meneruskan seri 1 yang kolosal itu, sehingga langsung menggarap seri ke-2 WALIRAJA RAJAWALI yang lebih kecil biayanya dan sudah dipentasksn di Taman Ismail Marzuki Jakarta bulan Agustus lalu.

  2. Trilogi lakon ini merupakan hasil perenungan, doa, dan harapan untuk masa depan Indonesia. Sumbangsih Maiyah kepada masa depan bangsa Indonesia, yang menyangkut seluruh aspek kehidupannya: politik, ekonomi, kebudayaan dst. MLUNGSUNGI memuat konten bahwa INDONESIA ADALAH PUSAT KEMAKMURAN DUNIA, berdasarkan sejumlah fakta sejarah dan informasi dari langit. Lakon MLUNGSUNGI meliputi pelaku-pelaku tak hanya di dan dari bumi tapi juga dari antara langit dan bumi. Bahkan semua peran dalam MLUNGSUNGI diambil dari nama-nama kaum Jin dari berbagai komunitas makhluk Jin di seluruh Pulau Jawa. Dalam WALIRAJA RAJAWALI tokoh utamanya adalah IBU PERTIWI. Selain itu juga tampil sejumlah tokoh yang diambil dari angkasa (antara langit dan bumi) yang bertugas mengawal dan mengawasi kehidupan ummat manusia, termasuk Bangsa Indonesia.
  3. WALIRAJA, bukan RAJAWALI, adalah sebuah prinsip kepemimpinan dan Manajemen kehidupan manusia yang berasal dari khazanah kebrahmanaan atau jagat rohaniah. Dengan bahasa yang lebih domestik bisa disebut BRAHMANA-RAJA, suatu tipologi kepribadian pemimpin yang diperlukan oleh hari esok Bangsa Indonesia.
  4. Istilah brahmana, yang juga akan harus menyebut KSATRIYA, SUDRA DAN PARIYA, bukan dalam pengertian KASTA yang memaksudkan Strata atau lapisan sosial dalam pemahaman Feodalisme. Terminologi itu hanya dipinjam untuk menjelaskan fokus tujuan hidup manusia. Di mana brahmana adalah manusia dengan konsentrasi nilai-nilai ketuhanan, kerohanian, kebijaksanaan, dan keindahan. Tidak menolak materialisme, tapi tidak mengutamakannya atau menjadi tujuan primer hidupnya. Bedanya dengan SUDRA dan PARIYA adalah pada positioning primer sekunder antara ketuhanan dan keduniawian. Antara kerohanian dengan materialisme. PARIYA terpaksa menyembah keduniaan karena tidak punya pilihan. SUDRA menomorsatukan materialisme karena ambisi dan kerakusan.

    Pemimpin Indonesia sebaiknya manusia yang berjiwa Brahmana tapi bertugas sebagai Satriya. Jangan sampai pemimpin Indonesia adalah orang yang duduk di kursi Satriya tapi berjiwa SUDRA dan bermental PARIYA.

    Sebab bangsa Nusantara adalah Bangsa Brahmana. Meskipun orang kecil di desa-desa atau kaum miskin di kota-kota mengalami pendidikan keluarga yang sangat mendidikkan ketuhanan, kerohanian, moralitas, dan kebijaksanaan hidup.

  5. Lakon MLUNGSUNGI maupun WALIRAJA melihat bahwa modernisme, dengan arus raksasa kapitalisme, materialisme dan hedonisme yang sudah menjadi AGAMA GLOBALISASI, sangat mendorong degradasi bangsa dan manusia Indonesia menjadi bangsa SUDRA dan PARIYA. Itu pun dalam posisi ekornya perkembangan dunia global.
  6. Jamaah Maiyah dengan lakon teater maupun aktivitas rutinnya di 63 Simpul serta ratusan Lingkaran di seluruh Indonesia maupun di Eropa, Korea Selatan dll. tidak memaksakan pendapatnya kepada Indonesia. Juga tidak berharap akan dipercaya atau dipakai oleh Indonesia. Tidak kaget atau kecewa kalau tidak diperhatikan atau tidak didengarkan.

    Untuk memacu perubahan, Maiyah Tidak menjadi Ormas atau Parpol, juga tidak punya niat untuk melakukan revolusi mengubah Indonesia. Maiyah hanya menyampaikan aspirasi yang ia diwajibkan untuk menyampaikan.

Surabaya, 22 September 2022.