CakNun.com

Pentas Teater Seusai Jeda

Menonton pertunjukan teater di gedung yang representatif dengan dinding-dinding yang dilapisi material berdasar standar akustik, maka seorang aktor tak perlu lagi berteriak ketika berdialog dengan lawan mainnya.

Dok. Kenduri Cinta

Romantisme menonton teater, bertemunya berbagai kalangan penikmat kesenian, bisa menjadikan katarsis bagi banyak orang. Keseharian adalah kehidupan yang monoton dan menjemukan.

Bagi generasi TikTok cerita di atas adalah catatan masa lalu. Narasi yang telah diarsipkan pada gedung-gedung museum kebudayaan, atau masuk dalam kurikulum sekolah-sekolah nasional.

Maka ketika Komunitas Kenduri Cinta (Jakarta) berkolaborasi dengan Progress Management (Yogyakarta) akan memanggungkan naskah teater karya Emha Ainun Nadjib, WALIRAJA-RAJAWALI yang dimainkan oleh Teater Perdikan dan KiaiKanjeng, semacam tetenger bahwa jeda sejenak telah usai. Pandemi (semoga) telah selesai. Memulai kehidupan baru, lebih fresh dan jernih dalam langkah laku berikutnya.

Pertengahan 1980-an WS Rendra dengan Bengkel Teater diboyong ke Jakarta. Dengan menggandeng promotor mempertunjukan persembahan teater di hadapan khalayak Jakarta. Tentu saja menjadikan polemik di antara para seniman, bahwa Rendra “telah menjual idealisme” demi mendapatkan materi yang lebih. Tidak seratus persen Rendra salah, Rendra bertanggung jawab terhadap penghidupan sekian banyak anggota teater dengan keluarganya.

Bagi Cak Nun sendiri, teater bukan barang industri. Sejak dulu Cak Nun belum pernah mau diajak oleh pemilik modal (baca EO) untuk pementasan teater. Undangan-undangan yang datang dari berbagai kota hanya terbatas pada panitia-panitia amatir seperti misalnya kalangan kampus perguruan tinggi, sekolah menengah, atau pesantren.

Dengan semangat itulah WALIRAJA-RAJAWALI dipentaskan oleh Kenduri Cinta di ruang terbuka (outdoor) Taman Ismail Marzuki dengan pembiayaan mandiri. Tidak sekali dua kali Cak Nun mementaskan teater bukan di gedung tertutup. Pada pementasan Lautan Jilbab di Madiun diadakan di Lapangan Wilis, dan juga ketika di Pesantren Gontor di area terbuka.

Para pemainnya terdiri dari gabungan pemain-pemain teater andal Yogyakarta lintas generasi. Secara personal beberapa yang saya kenal sejak lama: Nevi Budianto dan Joko Kamto serta sang Sutradara, Jujuk Prabowo.

Pusat kegiatan Maiyahan di Yogyakarta, Mocopat Syafaat bertempat di Dukuh Kasihan, semula adalah tanah milik Pak Nevi. Jauh sebelum lahirnya KiaiKanjeng, beberapa anggota Teater Dinasti mendirikan teater sampakan, yakni Teater Gandrik. Pak Nevi merupakan salah satu aktor andalnya. Hasil dari pentas-pentas pertunjukan teater Gandrik, beberapa pemainnya membeli petak-petak tanah di Kasihan, Bantul.

Kemudian Pak Nevi menawarkan kepada Cak Nun. Tanah-tanah sekitar pun kiri kanan, yang semula milik kawan-kawan Pak Nevi, pada akhirnya juga dijual kepada Cak Nun. Dengan Pak Nevi, beberapa kali saya janjian mengurus surat jual beli di Kantor Kecamatan Kasihan, Bantul.

Lain lagi cerita tentang Pak Jokam. Saya mengenalnya seusai pulang dari berbagai daerah untuk memberikan Workshop Teater.

Ketika banyak pemain-pemain Dinasti bergabung di Teater Gandrik, Pak Jokam memilih media LSM untuk melatih teater pemuda-pemuda yang berminat di berbagai wilayah Indonesia. Jika tidak salah, aktivitas Pak Jokam yang langsung turun ke masyarakat bersama salah satu pemikir dari Teater Dinasti, yaitu Simon Hate.

Keandalan Pak Jokam sebagai aktor sudah tidak asing bagi penikmat kesenian di Yogyakarta. Naskah-naskah teater yang ditulis Cak Nun, kemudian dimainkan Pak Jokam, seolah karakter tokohnya diciptakan hanya untuk Pak Jokam. Aktor lain bisa jadi kesulitan jika memainkan tokoh tersebut.

Ketika saya ikut pada sebuah produksi film, Pak Jokam terlibat sebagai aktor dalam film: Minggu Pagi Di Victoria Park dan Guru Bangsa HOS Tjokroaminoto.

Siapa Jujuk Prabowo, sang Sutradara? Yang saya tahu, dikenal sebagai sutradara teater Gandrik, dan istrinya yang cantik, Saptaria Handayaningsih (alm), penari dan juga pemain teater Dinasti dan Gandrik.

Beberapa naskah dari Cak Nun yang disutradarai Jujuk Prabowo; beberapa pentas Teater Dinasti, kemudian berikutnya Lautan Jilbab (1991), Tikungan Iblis (2008), Sengkuni (2019), Sunan Sableng dan Paduka Petruk (2020), Mlungsungi (2022) serta Waliraja-Rajawali (13 Agustus 2022).

Ini saja yang bisa saya suguhkan sebagai catatan prolog untuk say hello, ucapan selamat datang di Jakarta untuk para pemain dan pengrawit Teater Perdikan dan KiaiKanjeng. Dan ucapan selamat menonton dan meresapi pesan-pesan yang akan disuguhkan kepada para penikmatnya di Taman Ismail Marzuki, Sabtu, 13 Agustus 2022.

Lainnya

Sregep Matur Nuwun Kepada Gusti Allah

Sregep Matur Nuwun Kepada Gusti Allah

Tepat satu tahun yang lalu, Maiyahan Kenduri Cinta yang dilaksanakan di area Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki terlaksana secara normal.

Gerakan “Mlungsungi”, Gerakan Reriungan

Gerakan “Mlungsungi”, Gerakan Reriungan

Dua malam berturut-turut (25 & 26 Maret), Reriungan Teater Yogyakarta telah mementaskan naskah “Mlungsungi” karya Emha Ainun Nadjib di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.