Belajar Kepada Pasien #11

Zaeta, Bidadari Surga (1)

Dok. Pribadi

30 Maret 2021, 10:57 AM.

Notifikasi direct message di Instagram saya berbunyi, “Dokter ini aku Zeta”. Ah ini dia, si pasien baruku yang tadi kufoto dan kemudian kami selfie, di sela-sela kegiatan visit pagi tadi.

“OK, sudah ku-tag ya,” balas saya.

Kemudian dia memberikan simbol hati di foto yang kemarin saya bikin dan saya upload di Instagram saya.

Kemudian saya upload juga foto wefie berdua dengan Zaeta, dan dia menorehkan simbol hati untuk foto yang saya upload tadi.

Zaeta adalah seorang gadis cilik berumur 10 tahun, bernama lengkap Zaeta Anggraeni. Ibu dan teman-temannya memanggilnya dengan sebutan Zeta. Dia adalah pasien yang yang terbaring di bed no. 3 kamar 8, bangsal Estela. Kalau ditilik dari arti kata, Zeta bisa berarti anak bungsu, dan memang dia adalah bungsu dari 4 bersaudara. Bisa juga berarti mawar. Bisa pula berarti mandiri.

Bangsal tempat Zaeta dirawat ini dinamakan Estela, karena separuh biaya pembangunan gedung ini yang berjumlah 4 miliar rupiah didanai oleh keluarga Estela dari Belanda. Estela adalah seorang penderita leukemia, tetapi tidak berhasil melawan keganasan penyakitnya. Ayahnya seorang bankir kaya, sehingga dia ingin sekali menolong para penderita kanker anak di Indonesia, dengan cara membantu tempat bernaung dan dirawatnya anak-anak penderita kanker, dan juga membantu pendanaan obat-obat yang dibutuhkan.

Tadi pagi waktu saya visit pasien saya menjumpainya. Saya pertama kali melihatnya pagi hari itu dan saya langsung jatuh hati padanya. Badannya berselimut, mukanya putih mulus, rambutnya lurus sangat hitam legam. Senyumnya sangat manis dan polos. Setelah saya ngobrol sesaat dengan Zeta, saya mendalami kasus dan penyakit yang dideritanya. Saya merencanakan serangkaian pemeriksaan tambahan untuk memperkuat persangkaan saya terhadap penyakit utamanya.

Kondisi sakit Zaeta berawal dari sakit demam yang terjadi di bulan Oktober tahun 2020. Waktu itu lagi musim penyakit demam berdarah (DBD — Demam Berdarah Dengue). Zeta pun menderita demam yang disertai dengan bintik-bintik merah di badan. Gejalanya sama persis dengan penyakit DBD. Sebagai orang awam ibu Zeta mengira ini adalah penyakit Demam Berdarah, kemudian dibawalah Zeta ke pusat kesehatan tentara di Purwokerto (DKT). Karena rumah sakit ini adalah RS terdekat dari rumah Zaeta.

Sesudah diperiksa, dokter setempat menemukan bahwa ada ‘sesuatu’ yang tak lazim pada hasil pemeriksaan Zaeta. Dengan mengatakan hal tersebut, bahwa ditemukan ‘sesuatu’ dan sesuatu itu bukan DBD, maka dirujuklah ke RS Margono di Purwokerto. Setelah di periksa di situ, dokter pun menyarankan untuk dirujuk ke Jogja, karena keterbatasan yang dimiliki oleh RS Margono.

“Setelah diketahui penyakitnya, saya dan suami memang sangat shock,” tutur sang ibu. Karena, penyakit ini memang belum ada obatnya. Di sinilah Allah menunjukkan kuasanya. Allah berfirman: “Tidaklah Aku berikan ilmu kepada kalian kecuali hanya sedikit sekali”. (Al-Isra:85).

Dok. Pribadi

Sakit yang diderita Zaeta adalah termasuk yang jarang terjadi. Sakit yang terjadi pada pabrik pembuat komponen darah yaitu sumsum tulang. Adanya gangguan pada sumsum tulang, yang belum diketahui sebab pastinya, dan ini mengakibatkan sumsum tulang menghasilkan komponen darah yang tak sempurna, atau hanya menghasilkan sedikit saja produksinya dan itu pun tidak sempurna. Komponen yang tak sempurna dalam hal kualitas dan kuantitas adalah eritrosit (sel darah merah), leukosit (sel darah putih) dan trombosit (keping darah). Masing-masing komponen itu mempunyai peran sendiri-sendiri yang semuanya esensial bagi tubuh. Ada pihak yang memasukkan penyakit ini ke dalam golongan keganasan. Namun ada pula yang tidak memasukkannya ke dalam golongan manapun.

Itulah keterbatasan kita, keterbatasan manusia. Tidak/belum bisa menguak rahasia Allah tentang penyakit. Maka harus selalu kita mendekat-dekat ke Allah, merayu-rayunya agar kita diberi perkenan untuk menguak sedikit saja rahasia-Nya. Kita hanya berperan menjadi tangan Allah dalam kesembuhan terhadap penyakit seseorang. Aah jangan tangan Allah, kalau untuk saya mungkin sebagai jari Allah, karena saya ini tak tahu apa-apa, tak mengerti apa apa.

Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Mahamulia. Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:1-5).

Lainnya