Belajar Kepada Pasien #12

Zaeta, Bidadari Surga (2)

“Kami tidak tahu harus bagaimana?,” sambil terisak Ibunya Zaeta menceritakan ihwal diagnosis penyakit Zaeta.

“Tetapi dokter selalu memberikan yang terbaik, memberi semangat untuk Zaeta. Zaeta pun saat itu belum kami kasih tahu sakitnya apa. Zaeta selalu tanya tentang penyakitnya.”

Hak memperoleh informasi tentang penyakit yang diderita adalah hak seorang pasien. Terutama pasien dewasa. Tetapi kadang terhadap pasien dewasa pun keluarga lebih memilih tidak memberitahu kondisi penyakit sebenarnya dengan pertimbangan kalau diberitahu akan memperburuk kondisi kesehatannya.

Demikian juga halnya dengan keluarga Zaeta, yang memilih belum memberitahu kondisi sakitnya Zaeta. Barangkali butuh waktu untuk itu. Anak-anak zaman sekarang sudah amatlah canggih. Mereka bisa searching tentang penyakitnya, atau googling tentang gejala sakitnya. Hal ini bisa baik, atau justru akan membuat runyam suasana. Hanya berdasarkan informasi dari mbah gugel itu bisa kemana mana jenis sakitnya.

Maka, ada baiknya anak diberitahu tentang haknya untuk mempertoleh informasi tentang sakitnya. Saya jadi teringat ketika suatu saat berada semobil dengan Cak Nun dalam perjalanan ke Ambarawa. Saya menanyakan hal yang serupa. Bahasa ilmu paliatifnya adalah ‘breaking bad news’.

Cak Nun bilang: “Ibarat menuang air panas ke dalam gelas, pastikan bahwa gelas yang dituangi tadi tidak akan retak atau pecah”. Saya ingat betul kata-kata beliau. Dan akan selalu saya ingat nasihat beliau.

5 April 2021, 5:11pm.

Dok. Pribadi

Hampir setiap perjalanan perawatan Zaeta, bila saya ketemu, rasanya hampir pasti saya upload di story maupun di wall IG saya. Agar Zaeta pun bisa menikmati hasil foto saya–walaupun hanya menggunakan hape.

Selanjutnya Ibunya Zaeta berkisah tentang perawatan anak bungsunya itu, kesan dan impresinya.

“Selama perawatan di Jogja kami mendapat perlakuan, sambutan, dan perawatan yang baik. Dokter, perawat, dan semua yang ada di bangsal baik semua. Mereka memberikan semua kemampuan dan segalanya yang terbaik untuk Zaeta”.

16 April 2021, 10:53 am.

“Walaupun… (terisak-isak agak lama) tidak ada obat untuk Zaeta, sebagaimana penyakit yang lainnya. Kami sebagai orang tua selalu mengusahakan yang terbaik untuk Zaeta. Ya transfusi, ya obat Herbal. Setelah sering mendapatkan transfusi, akhirnya Zaeta bertanya, aku sakit apa? Kenapa aku ditransfusi terus?”

Dok. Pribadi

Setelah beberapa bulan hal ini berlangsung (lebih kurang 6 bulan), Zaeta pun bilang kepada ibunya, ibu Sinta, tentang kegelisahannya dan tentang frustrasinya terhadapa apa yang dideritanya.

“Bunda aku capek…,” kata Zaeta. Hanya tiga kata itu yang keluar dari mulut Zaeta, tetapi cukup membuat hati Ibu Sinta terobek-robek dan compang-camping!

Walaupun, sebenarnya Zaeta cukup terhibur karena tinggal di Rusing (rumah singgah). Karena di situ banyak teman sebayanya yang sesama penderita. Walaupun penyakitanya berbeda-beda tetapi mereka mempunyai kesamaan, yaitu ‘penderitaan’. Zaeta sendiri di mana pun selalu senang. Di Rusing senang, di RS juga senang, walaupun sebenarnya hatinya sedih. Senang karena perawat-perawat di sini baik-baik.

Rumah singgah adalah rumah tempat tinggal yang disediakan untuk tinggal beberapa pasien (beserta keluarganya) selama menjalani pengobatan. Daripada mereka ini wira-wiri menempuh jarak 5- 6 jam yang akan membawa risiko capek, infeksi, dan menjadikan kontrol berikutnya terhambat. Akibatnya proses kesembuhan akan terdampak.

Di Jogja ini ada beberapa rumah singgah, yang mereka ini murni diselenggarakan oleh personal ataupun LSM (lembaga swadaya masyarakat). Mereka mengusahakan rumah (biasanya mengontrak) dengan biaya yang tentu tidak sedikit. Menyediakan makan untuk seisi penghuni. Menyediakan transportasi pulang-pergi ke RS untuk keperluan kontrol maupun bila ada kedaruratan.

Pasien yang tinggal jauh dari Jogja sangat terbantu dengan fasilitas yang disediakan. Termasuk Zaeta dan ibunya. Sungguh saya salut kepada mereka penyelenggara rusing ini. Mereka yang wewujudkan syukurnya dengan membantu sesama. Semoga berkah Allah senantiasa melimpah kepada mereka.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An nahl:78)

Lainnya