Tuan Rumah Jiwaku

Corona, 45

Kalau engkau Menteri Kesehatan, engkau dengan seluruh jajaranmulah yang mengamati, menilai dan mencemaskan keadaan tidak sehat rakyatmu. Maka engkaulah pula inisiator utama yang menyebarkan panduan kepada mereka, Kepala-kepala Wilayah, untuk melindungi rakyatnya. Bukan Kepala-kepala Wilayah yang jungkir balik dalam kepanikan, kemudian ketika mereka mengambil keputusan untuk melindungi rakyatnya, harus minta izin kepadamu.

Kalau ada rombongan perampok menyerbu desamu, menembak membabi-buta dan serampangan menyebarkan peluru-peluru nyasar, biarkan rakyatmu bergerak mengambil keputusan untuk bersembunyi dan melindungi diri. Jangan kau suruh mereka ke kantor Pamong Desa dulu untuk minta izin boleh bersembunyi atau tidak.

Kalau ada rombongan perampok seperti itu, yang jumlahnya tidak bisa dihitung, yang peluru-peluru tembakannya tidak bisa diidentifikasi dan dipetakan, hendaknya para penduduk desa jangan sok sakti, dan para Pamong pengurus desa jangan sok pinter dan sibuk berpikir bahwa kalian yang berkuasa.

Terserah siapa dan apa perampok itu. Bisa pasukan Spanyol yang menghabiskan dan mensirnakan seluruh Bangsa Inka Maya. Atau Pasukan Jengish Kahn yang meluluh-lantakkan Bagdad dan menjadikannya gunung mayat manusia serta memerahi air sungai Tigris dengan cat darah manusia.

Atau Kolonial Belanda yang menipudaya bangsa Indonesia dan melenyapkan ke-ksatriaan mereka. Atau “sekadar” siluman virus yang menertawakan semua bangsa dan Pemerintahmu sebagaimana kalian menertawakan hantu serta menganggap remeh Jin, Setan, Iblis, Dajjal, Ya’juj Ma’juj, bahkan Malaikat dan Tuhan.

Covid-19 yang kalian tidak bisa melihatnya menertawakan kalian semua sebagaimana kalian menertawakan Agama yang diam-diam kalian anggap “hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!”.

Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan adzab-adzab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu”.  (Al-Qamar). Siapakah “Luth” selama ini di abad ini, dan siapakah yang “mendustakan”? Juga siapa “Syu’aib? Kemudian mereka mendustakan Syu’aib, lalu mereka ditimpa adzab pada hari mereka dinaungi awan”. Hati kita semua sekarang sedang mendung. Sedang sangat mendung. “Dan orang-orang yang berusaha untuk (menentang) ayat-ayat Kami dengan anggapan mereka dapat melemahkan (menggagalkan adzab Kami), mereka itu memperoleh adzab, yaitu (jenis) adzab yang pedih. (Saba).

Sekitar itulah level mutu kita semua sebagai manusia sampai abad 20-21 yang dahsyat dan super canggih sekarang ini. Dan sesungguhnya jika Kami undurkan adzab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan. Niscaya mereka akan berkata: “Apakah yang menghalanginya?” lngatlah, di waktu adzab itu datang kepada mereka tidaklah dapat dipalingkan dari mereka dan mereka diliputi oleh adzab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokkannya”.

Nanti akan datang waktu “para perampok” tak lagi menambahkan jumlah orang terpapar, orang dalam pemantauan, pasien dalam pengawasan atau apapun sajalah istilahnya, kemudian Allah telah merumuskan karakter kita: “Katakanlah: “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya”. (Al-An’aam)

Kondisi kepribadian, karakter kehambaan, sikap kemanusiaan semacam itulah yang saya sebut Jamaah Maiyah sangat ketakutan untuk menjadi seperti itu, di tengah tidak satu pun manusia yang hidup di bumi saat-saat ini yang tidak dirundung oleh rasa khawatir akan terkena penyakit yang sedang merajalela menguasai seluruh bulatan planet Bumi.

Jamaah Maiyah tak berhenti Sinau Bareng:

Kalau Allah membuatmu sakit, atau mengizinkan sakit menimpamu, atau membiarkan sakit engkau sandang, mungkin Ia bermaksud memperingatkanmu atas sesuatu hal yang engkau bersalah sehingga kemudian engkau bertaubat dan meneguhkan diri untuk tidak mengulanginya.

Mungkin juga Ia memberimu jalan untuk menyempurnakan akhlaqmu kepada-Nya maupun kepada sesamamu. Bisa juga karena Ia tidak memberimu peluang untuk melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu sendiri, dan itu hanya engkau bisa lakukan kalau engkau sehat.

Atau yang aku mendoakan bagimu semua, kalau Allah membuatmu sakit, tak lain karena Allah mencintaimu, ingin engkau selalu dekat kepada-Nya, berendah-hati atas keterbatasan dan ketidakberdayaanmu, serta Ia tidak memberimu peluang sepenggal waktu pun untuk engkau lalui tanpa menyertakan-Nya di dalam rasa cintamu dan kesadaran akalmu.

Jamaah Maiyah menanamkan dan mengukuhkan dalam hatinya, jiwanya, siang-malam perjalanan hidupnya:

SOHIBU BAITI

Engkaulah ya Allah
Shohibu baiti
Maha Tuan Rumah satu-satunya

Penghuni jiwaku
Tak ada lain selain Engkau ya Allah
Imamu hayati
Panglima kehidupanku
Takkan kuterima siapapun yang lain
Mursyidu imanii
Pembimbing seluruh langkahku
Tiada Cahaya Maha Cahaya
Anta syamsu qolbi
Selain Engkau, penyinar kalbuku
Qomaru fuadi
Rembulan nuraniku
Hamba buta sebuta-butanya
Qurratu ‘aini
Kecuali Engkau menjadi bola mataku
Ufuqu Syauqi
Takkan tiba di mana pun seluruh perjuanganku
Kecuali menuju ufuk rinduku
Wahai Allah, wahai Allah
Baabu akhirati
Satu-satunya pintu memasuki akhiratku.

Buku Lockdown 309 Tahun