Sang Penyempurna Kehancuran

Corona, 75

Tulisan kali ini sangat panjang dan harus saya mulai dengan pernyataan Allah: “Apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu semua ummat manusia ini secara atau untuk main-main saja? Dan apakah kamu mengira bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Al-Mu`minun).

Awalnya saya hanya ingin menggembirakan siapapun yang membaca tulisan ini. Saya selalu menanyakan dan meminta pusat penggiat Maiyah dan semua Simpul untuk mengidentifikasi dan memastikan seberapa Covid-19 menjangkiti atau memapari Jamaah Maiyah. Beberapa waktu yang lalu salah seorang anak Maiyah saya di Negeri jauh yang bertugas sebagai perawat kesehatan atau tenaga medis melaporkan diri positif Corona. Ia masih muda dan berita terakhir kemarin terkonfirmasi bahwa ia sudah pulih dan sembuh seperti semula. Seorang Pilot internasional yang juga aktivis Maiyah melaporkan temannya terpapar juga di Spanyol, tapi dengan isolasi diri akhirnya pulih sehat walafiat kembali.

Secara keseluruhan sampai kemarin sore Jamaah Maiyah Zero-Corona. Sebenarnya tidak mudah menuliskan ini, sebab informasi seperti itu berposisi syubhat. Ia bisa merupakan tahadduts binni’mah, memperbincangkan kenikmatan Allah, tapi bisa juga terpeleset menjadi riya` atau takabbur. Harus kita teguhkan bahwa ini adalah ungkapan syukur atas nikmat Allah. Juga harus disadari bahwa ini “permainan” sedang berlangsung, itu pun tanpa mengerti seberapa lama akan berlangsung. Padahal kebenaran informasi baru akan utuh dan final tentang keterpaparan Covid-19 adalah kelak sesudah seluruhnya reda di seluruh dunia.

Kegembiraan lain coba dihembuskan oleh banyak berita offline maupun online bahwa jumlah pasien Corona yang sembuh semakin banyak, dan itu dilogikakan sebagai gejala akan semakin dekatnya akhir dari penderitaan oleh Corona. Aslinya hal ini tidak mengagetkan karena sejak awal hadirnya Corona, angka kematian yang diakibatkan hanya sekitar 2-3% sd 8-9%. Berarti angka kesembuhan di atas 90%. Wajar kalau jumlah yang sembuh semakin banyak. Yang mungkin lebih logis untuk diasumsikan sebagai gejala semakin menyurutnya derita Corona adalah kalau jumlah kasus keterpaparannya menurun, syukur sampai prosentase Nol seperti di Wuhan sendiri – meskipun bisa tetap akan ada gelombang kedua.

Sedangkan di Indonesia urusan Corona ini kenaikannya permanen dan setia. Sore ini ada tambahan 283 kasus keterpaparan sehingga jumlah keseluruhan menginjak angka 7.418.

Sesungguhnya sejak sebulan yang lalu, 20 Maret 2020, kegembiraan nasional sudah digelar oleh berita: “Presiden bilang bahwa obat untuk pasien Corona sudah disiapkan oleh Pemerintah. Obat Corona sudah ada dan beliau sudah pesan sebanyak 2 juta, sementara yang terpapar virus mengerikan ini sampai hari ini baru tujuh ribuan lebih sedikit, jadi mesti bereslah semua ini. Beliau menyebut obat virus Corona itu namanya Avigan dan Cloroquine. Bahkan disempurnakan juga kabar gembira itu bahwa beliau sudah bagi-bagi obat Corona, sampai ada yang dari pintu ke pintu diantarkan.”

Tetapi kabar gembira itu dihapus sendiri oleh penyebarnya sebulan kemudian pada 18 April 2020. “Presiden menyatakan bahwa obat Corona belum ada, maka kita harus mengandalkan kedisiplinan dan semangat saling bantu-membantu melawan Corona. Tetapi saya berhasil menggagalkan rasa kecewa saya, karena peribahasa Jawa “esuk dele sore tempe” sudah lazim berlaku secara menyolok selama pemerintahan Negara kali ini. Apakah kalau pagi bilang kedelai tapi faktanya di sore hari ternyata tempe, itu pelanggaran konstitusi? Tidak. Ini NKRI. Pemimpin can do no wrong. Pokoknya Presiden pasti benar, tidak mungkin salah. Kalau kamu membantah, kamu akan saya hajar dan dihajar orang banyak di medsos, ngapsos maupun lètsos.

Akan tetapi berikutnya saya semakin gagal mewujudkan niat untuk membikin para pembaca bergembira. Saya didatangi tamu tanpa masker dan membombardir saya dengan informasi bertubu-tubi, yang saya singkat menjadi tiga poin.

Pertama, jangan bermimpi menunggu redanya Corona ini seminggu-dua minggu, sebulan-dua bulan, setahun-dua tahun, 2022 atau 2025. Semua rakyat Indonesia bahkan seluruh penduduk Bumi harus mulai belajar untuk menerima virus Corona, sebagaimana virus flu yang lebih ringan, sebagai anggota keluarganya yang permanen dan sah. Harus siap bahwa Covid-19 ini tidak akan pernah sirna sampai selamanya, terutama karena kreativitasnya sangat tinggi untuk bermutasi dan melakukan penyesuaian diri, mengubah wujud dan perannya terus menerus sedemikian rupa.

Tamu yang pertama ini kemudian menyerbu kekurangajaran manusia di Bumi. “Mereka semua sudah tahu bahwa global climate, perusakan lingkungan hidup, keserakahan mengeruk kekayaan bumi, pasti akan membawa kehancuran pada peradaban manusia. Tetapi mereka tidak mau berubah sedikit pun dari kerakusannya. Mereka tetap melakukan ketidak-seimbangan kehidupan antara manusia dengan alam maupun antar kelas-kelas manusia sendiri. Tuhan mengingatkan “Kalian pikir Aku main-main menciptakan kalian, alam dan bumi ini? Terus kalian akan lari ke mana kecuali kembali kepada-Ku”, sebagaimana yang saya kutip di awal tulisan ini. Kalian seharusnya melakukan restarting peradaban, rebooting kehidupan cara mencapai penghidupan. Karena yang sudah terlanjur berkuasa dan kaya selalu menolak perubahan, maka sekarang ada kiriman Corona agar restart peradaban itu diwujudkan. Terserah manusia mau atau tidak. Atau barangkali manusia maunya hanya restart dari kerakusan lama menuju kerakusan baru. Reboot keserakahan lama untuk membangun sistem keserakahan baru.

Kemudian belum bangun saya dari terbanting-banting, datang tamu lain tanpa masker juga menambah penderitaan hati saya. Ia ngebom juga: “Manusia di dunia sedang harus mengalami perubahan peradaban yang mendasar. Untuk itu jer basuki mawa bea-nya adalah kemusnahan separuh penduduk dunia. Yang 15% dibunuh oleh wabah. Yang 10% mati karena khaos, bunuh-membunuh. Yang 25% bencana alam dari gempa bumi, tanah longsor, badai es hingga super-tsunami. Kamu tahu cacing-cacing yang keluar dari tanah itu. Pusatnya bukan di Pasar Gede, melainkan di sekitar bangun di pojoknya yang sejak sekian abad silam berfungsi Jaga Negara. Itu informasi bahwa akan terjadi bencana alam tidak kecil, dan pusatnya adalah kota tempat kelahiran Sang Penyempurna Kehancuran. Yang wajar dipilih oleh rakyatnya yang memang tidak waspada dan main-main dalam ber-Negara”.

Dan masa kejayaan dan kehancuran itu Kami pergilirkan diantara manusia agar mereka mendapat pelajaran; dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir supaya sebagian kamu dijadikan-Nya gugur sebagai syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (Ali Imran)

Siapakah Kepala Negara, ilmuwan atau tokoh apa pun yang selama perkara Corona itu mengeluh dan minta tolong kepada Tuhan? Paling jauh para ahli menegaskan: Corona ini bukan hasil rekayasa Lab Negara tertentu. Ini peristiwa alam biasa. Dan alam yang dimaksud di situ adalah alam yang sanggup menciptakan dirinya sendiri. Tidak ada faktor Tuhan.

Tetapi semua itu simpang siur bagi penduduk awam dunia seperti kita. Pemimpin spiritual bangsa Iran Ayatollah Khomeini dalam pidato Nisfu Sya’ban memberi sejumlah uraian yang kontroversial dari satu sisi, memantapkan dari sisi lain, tetapi jelas menggetarkan bagi semuanya:

Seluruh ummat manusia tentang kehadiran seorang imam atau pemimpin dunia yang mampu menjadi juru selamat. Juru selamat yang datang atas kehendak Allah. Yakni Imam Mahdi. Pemimpin yang dapat menyatukan semua manusia, membebaskan dari ketersiksaan duniawi, juru selamat bagi semua agama.

Saat ini, ummat manusia menderita kemiskinan, penyakit, ketidakadilan, dan perpecahan kelas yang luas. Dan, manusia menyaksikan penyalahgunaan sains, penemuan, dan alam oleh kekuatan dunia. Ini telah menyebabkan keletihan dan frustrasi ummat manusia dan keinginan mereka untuk penyelamat, tangan yang menebus.

Ada kebutuhan akan kekuatan spiritual dan ilahi; tangan yang kuat dari Imam yang sempurna (semoga Tuhan mempercepat kedatangannya). Kebijaksanaan manusia adalah berkah luar biasa yang dapat memecahkan beberapa masalah tetapi tidak semuanya. Sebagai contoh, hari ini ilmu pengetahuan melayani ketidakadilan dan penghasut perang di dunia. Semua agama telah berjanji akan datangnya seorang Juru Selamat. Dalam Islam, orang-orang diminta untuk menunggu Juru Selamat. Menunggu bukan berarti duduk santai; menunggu berarti memiliki harapan dan persiapan. Itu berarti mengambil tindakan.

Untuk sekadar diketahui, dunia saat ini memang sedang gonjang-ganjing. Saat ini dunia sedang dilanda wabah Virus Corona atau COVID-19, virus ini telah menjangkiti 1,5 juta manusia dan membunuh 88 ribu orang. Belum lagi peperangan juga masih terjadi di sejumlah negara, seperti Suriah, Libya, Afghanistan dan lainnya.

Sejak Virus Corona meledak di Wuhan selalu ada dua pendapat pemikiran yang berkembang. Banyak akhli terutama para ahli lingkungan yang selana ini tidak pernah didengar oleh aparatus globalisasi yang melontarkan bahwa Virus Corona adalah virus yang lahir dari tabiat manusia yang suka merusak alam.

Sedangkan pikiran lain virus ini adalah merupakan hasil rekayasa manusia. Biasanya pikiran ini sejalan dengan analisis konspirasi yang digunakan. Kalau aku lebih percaya bahwa Covid-19 lahir karena tabiat manusia. Sedangkan herd immunity kalau ahli kesehatan pasti akan menjawab itu tak mungkin, tetap butuh teknologi. Kecuali kalau sistem kehidupan kita sehari-hari masih berlangsung secara komunal seperti minum jamu, mengkonsumsi rempah-rempah, empon-empon itu bisa menjadi ketahanan komunitas dari serangan virus.

Sudah didiskusikan pada tahun 2015, ini tidak boleh dilakukan. Ada dua ilmuwan utama yang mengatakan ini tidak boleh dilakukan. Virus ini bukanlah fenomena yang terjadi secara natural. Ini sangatlah penting dan saya akan memberi buktinya.

Kamu harus bersikap cermat, sadari ada agenda di balik ini semua. Jangan dikalahkan oleh ketakutan, karena ini merupakan satu paket dari agenda mereka.

Virus ini dilabeli sebagai senjata biologis oleh beberapa orang. Dan tentu saja media mainstream menyatakan itu adalah teori konspirasi. Tapi mari kita lihat sama-sama konfigurasi dari virus covid 19 ini.

Yang mau saya jelaskan adalah ini bukan karena seseorang memakan sup kelelawar atau berpindah dari ular, kungkang atau hewan lainnya. Virus ini bukanlah sesuatu yang terbentuk dari alam. Ini sangat penting dan saya akan menunjukkan pada kalian buktinya.

Virus ini sebenarnya diciptakan di universitas North Carolina Chapel Hill dan mereka menerbitkan hasil hasil penting penelitiannya pada november 2015. Daftar dari para peneliti yang diasosiasikan sebagai virus “frankenstein”. Kamu bisa lihat nama Zheng Li Shi yang mewakili laboratorium spesialis patogen dan biosafety, institut teknologi Wuhan China. Dr Shi adalah sosok sangat penting di sini. Dari tahun 2014 dr. Shi menerima berbagai pendanaan dari Pemerintah USA. Juga dari program Nasional Basic research China. Akademi science China, badan nasional natural science China program penelitian prioritas, akademi ilmiah China. Untuk membantu mendanai penelitian Corona Virus.

Ingat ini pada tahun 2015. Pemerintah Amerika mendanai dr. Shi serta pemerintahan China untuk mendanai penelitian berbagai macam Coronavirus. Ini diterbitkan pada tanggal 12 November 2015 dan ini adalah dokumen artikel penuhnya. Tapi yang ingin saya kemukakan di sini, pada bulan maret 2020 ini ditambahkan catatan di artikel ini oleh editor nya. Saya akan membacanya dan kemudian saya membandingkannya dengan penelitiannya dan tentukan sendiri maksudnya.

Catatan dari editor ini mengatakan kami menyadari bahwa cerita ini digunakan sebagai dasar dari teori yang belum diverifikasi. Dimana novel Coronavirus yang menyebabkan Covid-19 adalah buatan manusia. Tidak ada bukti bahwa ini benar. Para peneliti percaya bahwa binatang adalah yang paling mungkin menjadi sumber dari Coronavirus.

Jelas sekali siapapun yang menulis catatan editor ini adalah antara seorang yang idiot atau orang yang tidak memahami bahasa inggris. Tapi sudah pasti bukan seorang peneliti. Saya akan menunjukkan kepada Anda apa yang sesungguhya dinyatakan di penelitian ini. Perlu diingat ini adalah peringatan agar orang mengabaikan penelitian ini. Untuk mencegah orang agar tidak melihat lebih jauh tentang penelitian ini untuk mengatakan padamu; lihat, langit itu tidak biru. Ya itu memang terlihat biru tapi sebenarnya tidak biru.

Pada November 2015 sebuah penelitian yang menciptakan versi hibrida dari Coronavirus dari kelelawar. Jenis yang berhubungan dengan Virus SARS. Seperti yang kita bahas sebelumnya memancing perdebatan tentang apakah laboratorium rekayasa virus yang mungkin dapat menyebabkan pandemik memiliki risiko yang sepadan.

Ini adalah bagian terpenting: disebutkan di parqgaraf pertama dari penelitian ini dipublikasi di “nature”, yang mana adalah salah satu jurnal publikasi paling dihormati di dunia. Walaupun hampir semua Coronavirus yang diisolasi dari kelelawar tidak dapat mengikat pada reseptor di tubuh manusia, yaitu SHC014, yang merupakan jenis spesifik Coronavirus yang sedang kita bicarakan. Tidak dapat berkembang di tubuh manusia. Sekali lagi ini adalah hasil penelitiannya. Kamu membaca sesuatu dan mereka mengatakan apapun yang kamu baca bukanlah hal itu. Eksperimen di penelitian ini, menunjukkan bahwa virus dalam kelelawar liar ini harus berevolusi dahulu baru bisa membahayakan manusia.

Virus ini perlu berevolusi dulu, perlu berubah, dan akan membutuhkan waktu. Perubahan yang mungkin tidak akan pernah terjadi walaupun tidak dapat diabaikan. Baric dan tim nya merekontruksikan ulang virus liar ini dari rangkaian genomnya, dan menemukan bahwa virus ini sulit sekali bertumbuh pada kultur sel manusia. Dan tidak menyebabkan penyakit serius pada tikus.

Oke kita melihat virus yang ditemukan dari kelelawar dan sulit sekali untuk berpindah ke manusia. Dan kalau pun sudah beradq di manusia kultur sel manusia virus ini sangat buruk pertumbuhannya. Dan pada tikus lab, tidak menyebabkan penyakit serius apa pun. Dampak satu-satunya penelitian ini adalah terciptanya di lab sebuah risiko baru yang tidak natural. Menurut Richard Ebright, pakar biologi molekul dan pertahanan biologis Univ Rutgers, Piscatawhy, New Jersey. Tapi untuk apa kamu merekayasa suatu virus demi membuatnya berbahaya. Apa tujuan nya , mereka mengatakan ini untuk tujuan penelitian. Kita harus melawan pemerintahan yang melakukan kegilaan dengan mengambil keuntungan sebuah krisis. Ini adalah bagaimana kebebasanmu akan mati. Bangkitlah Amerika dan lawanlah.

Departemen kehakiman mencari otoritas baru di tengah pandemi Coronavirus. Ini permasalahannya, inilah yang harus kita takutkan. Di mana pemerintahan akan menggunakan kejadian bohongan ini, membesar-besarkannya dan mengambil lebih banyak lagi hak-hak orang, kebebasan, dan membuat suatu tindakan mandatori yang harus ditaati setiap orang dari karantina. Sampai pada hal yang mengerikan lagi. Jadi kamu harus sangat berhati-hati. Hati-hati terhadap agenda dibaliknya!

Jangan dikalahkan oleh ketakutan, karena ini merupakan satu paket agenda mereka. Virus ini adalah virus yang lemah mereka akan langsung mati oleh sistem imunmu. Tidak akan menginfeksimu dan jika memang iya, efeknya akan sangat sangat singkat. 24 sampai 48 jam mayoritas orang akan merasa lebih baik.

Dalam kehidupan pribadi, politik dan sosial masyarakat, lembaga atau organisasi dan bahkan revolusi, biasanya menghadapi dua jalan berbahaya; jalan transenden atau kemunduran.

Satu jalan adalah jalan transenden, sementara jalan yang lain adalah kemerosotan. Penggerak akal, hikmah, hidayah dan spiritual membawa mereka ke puncak atau daya tarik materi menurunkan mereka ke arah keinginan hina materi. Dua jalan ini biasanya dalam satu periode tertentu berada di hadapan orang dan pribadi manusia, juga organisasi, sebagaimana yang saya jelaskan, juga di hadapan revolusi, di mana sebagian revolusi dan perubahan besar politik dunia dimulai dengan baik dan tumbuh juga dengan baik, tapi dalam satu periode sensitif berada dalam kemerosotan dan kejatuhan. Dua jalan ini bagi masyarakat dan Negara kita sudah pasti terjadi dalam periode pasca Pertahanan Suci… Tapi Sepah Pasdaran dalam periode ini berhasil tampil sebagai pemenang, Sepah tidak terkena keletihan dan kemunduran, berhasil mempertahankan elemen politik identitasnya dan bergerak menujuk transenden.

Mungkin kita masih berkutat di kekerdilan sikap seperti ini: “Itu kan pemimpin Syi’ah. Syi’ah kan bukan Islam”. *****

Buku Lockdown 309 Tahun