La Khoufun ‘Ala Corona

Corona, 1

Di tengah trauma Coronavirus yang makin membengkak, meluas dan menusuk, forum Maiyah Kenduri Cinta tetap dilaksanakan, sebagaimana biasanya, sejak pukul 20.00 sd 03.00 pagi hari. Pada pukul 19.41 sebelum KC dimulai, Gubernur DKI Anies Baswedan mengeluarkan edaran yang menginformasikan bahwa 17 tempat wisata dan keramaian, dari Monas, TMII, TIM hingga kawasan Kota Tua, ditutup untuk dikunjungi.

Tentu saja keputusan itu sangat bisa dipahami. Seluruh dunia melakukan hal yang sama. NBA di Amerika pun dihentikan. Dan tunjukan masalahnya pastilah bukan tempatnya, bukan wisatanya, melainkan kerumunan massanya. Maka Kenduri Cinta menyiapkan sejumlah kemungkinan sikap andaikan petugas Gubernuran di Taman Ismail Marzuki datang dan menghimbau atau menginstruksikan agar KC dibubarkan.

Hal itu tidak terjadi, dan seluruh jajaran penggiat KC melaporkan bahwa tidak ada hal-hal negatif terjadi, termasuk yang berkaitan dengan Covid-19.

Apakah Jamaah Maiyah Kenduri Cinta adalah kumpulan masyarakat yang gagah berani terhadap atmosfer pandemi Coronavirus? La khoufun ‘ala Corona wala hum yahzanun? Apakah Penggiat Mocopat Syafaat Yogya adalah para pengecut yang cemen dan keder terhadap Corona, sehingga pada tanggal 17 Maret besok Mocopat Syafaat tidak bisa dilaksanakan? Sedangkan salah seorang jamaahnya menyatakan bahwa “Corona itu hanya upilnya KiaiKanjeng” sehingga ia merasa kecewa karena 17-an tidak dilaksanakan sebagaimana 21 tahun sebelumnya berturut-turut selalu dilaksanakan?

Secara bertahap melalui beberapa tulisan saya berusaha untuk memperspektifkan soal itu dengan segala kelengkapan dimensi permasalahannya.

Jamaah Maiyah tidak takut kepada Perang Dunia, luncuran rudal dan bom serta apapun saja selain Allah. Yang Jamaah Maiyah takuti adalah bersikap takabur, mungguh, GR, gede rumongso, serta meremehkan qadla qadarnya Allah Swt. Yang Jamaah Maiyah pengecut adalah merasa kuat, merasa sehat, merasa sakti, merasa kebal, bahkan merasa dekat kepada Allah sehingga memastikan ia dan mereka akan dilindungi oleh Allah dari penyakit, mudlarat dan kematian. Kalau dilindungi dari penyakit dan mudlarat bisa ditemukan rasionalitasnya, tetapi kalau merasa dilindungi Allah dari kematian adalah kelucuan dan kekonyolan, sebab justru Allah-lah pengambil keputusan atas kematian semua makhluk-Nya.

Yang mencelakakan hidup Jamaah Maiyah bukanlah Corona, melainkan takabur dan kesombongan dalam mentalnya, kebodohan dalam pikirannya, dan tiadanya ilmu tawadlu’ dalam hatinya.

Tidak seorang pun dari Keluarga Maiyah yang bisa memastikan bahwa kalau Mocopat Syafaat dan Maiyahan-Maiyahan berikutnya tetap dilaksanakan sebagaimana biasanya — akan tidak terjadi serbuk kemudlaratan Corona, yang akan membuat menderita siapapun saja yang dilimpahi olehnya. Mocopat Syafaat dan semua Lingkar Maiyah tidak berhak membuka pintu kemudlaratan bagi jamaahnya dan siapapun. Tidak boleh meremehkan dan harus tahu diri atas ketidakmampuannya untuk mengantisipasi kemudlaratan. Termasuk masyarakat umum jangan disodori peluang untuk menilai bahwa Maiyah sok sakti, bersikap sombong dengan tetap berkumpul banyak orang.

Kalau ada Jamaah Maiyah yang sakti dan kebal dari serangan Corona, ia bertanggung jawab untuk menjamin kekebalan seluruh Jamaah Maiyah dan semua siapapun saja yang datang di Maiyahan.

Hanya Allah Swt yang Maha Perkasa yang berposisi untuk menyatakan bahwa virus Corona itu cemen dan hanya upilnya KiaiKanjeng. Nabi Muhammad Saw sendiri menganjurkan agar ketika nanti Dajjal dan Ya’juj Ma’juj menyerbu, sebaiknya semua kita bersembunyi di rumah masing-masing. Jangan ke Mal, stadion atau Maiyahan.[]

Jakarta, 16 Maret 2020

Buku Lockdown 309 Tahun Buku Lockdown 309 Tahun