Dalam Diam Kita Bergerak

Tadabbur atas pesan Mbah Nun pada 2014: PESTA atau EVAKUASI

Di Forum “Reboan on the Sky” minggu lalu, Syeikh Nursamad Kamba mengungkapkan, seharusnya Orang Maiyah tidak kaget dan siap menghadapi situasi yang menyertai pandemi Corona ini. Alasannya sederhana bagi Syeikh Kamba: kita di Maiyah sudah diberi banyak bekal oleh Mbah Nun.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Mas Ian L. Betts dalam Tajuk-nya di caknun.com bulan lalu, yaitu Jamaah Maiyah tidak asing dengan tantangan. Bahkan terbiasa dengan tantangan. Termasuk tantangan di masa pandemi Corona ini.

Jika kita teliti, memang Mbah Nun sudah mewanti-wanti kita mengenai hal ini. Memang tidak eksplisit dan tentu akan berbahaya jika Mbah Nun secara lugas menyampaikan bahwa tahun ini akan terjadi pandemi yang skalanya luas. Mbah Nun hanya memberi semacam clue, bahwa dari sekian hal yang memungkinkan terjadinya perubahan di Indonesia adalah adanya pandemi.

Ketika mendengar pesan tersirat yang disampaikan oleh Mbah Nun tahun lalu — iya tahun lalu, karena saya sendiri membaca rilis berita ketika Mbah Nun bertemu dengan para wartawan di Semarang, di bulan April 2019 yang lalu, Mbah Nun menyampaikan demikian, — saya pun enggan membayangkan wabah atau pandemi apa yang akan terjadi, bahkan saat itu Mbah Nun menyebut endemi bukan pandemi.

Tahun lalu itu Mbah Nun menyampaikan setidaknya ada tiga opsi yang memungkinkan terjadinya perubahan di Indonesia; Bencana alam dengan skala besar, Endemi penyakit atau wabah, dan terakhir revolusi kepemimpinan. Banyak dari kita pasti berharap opsi ketiga, revolusi kepemimpinan, dan sayangnya yang diharapkan masih sebatas pada persoalan sosok. Sebagian besar kita masih ingin bahwa sosok atau tokoh yang kita idam-idamkan itulah yang menjadi pemimpin. Padahal, yang dimaksudkan oleh Mbah Nun bukan demikian.

Siapa saja berhak menjadi pemimpin. Katakanlah saat ini Presiden. Siapapun saja boleh jadi Presiden. Yang dimaksud oleh Mbah Nun mengenai revolusi kepemimpinan adalah sang pemimpin tersebut mengubah tatanan cara berpikir dan mental bangsa secara menyeluruh. Mulai dari hal-hal fundamental dan substansial. Opsi ini sebenarnya adalah opsi yang paling sedikit ongkosnya, tetapi membutuhkan nyali dan keberanian yang luar biasa bagi yang melakukannya.

Sampai akhirnya datanglah opsi bahwa yang terjadi adalah endemi, bahkan pandemi, Corona. Seluruh dunia saat ini sibuk dengan urusan Corona. Itu pun di Indonesia sendiri virus Corona ini sempat diremehkan oleh para pembesar pejabat pemerintah yang seharusnya bertanggung jawab menangani pandemi ini.

Saya kemudian teringat pesan tersirat Mbah Nun di satu edisi pembuka Kenduri Cinta di tahun 2014. Saat itu Mbah Nun mengungkapkan kalimat kunci: Pesta atau Evakuasi. Dan hari-hari ini saya pun menyadari bahwa sejak 2014 hingga sebelum pandemi Corona ini muncul, yang kita alami adalah pesta, pesta, dan pesta. Di kancah politik, kita berulang kali menyaksikan pesta demokrasi. Bahkan yang paling menyesakkan adalah pesta demokrasi tahun 2014, 2017, dan 2019 masih menyisakan perpecahan di kalangan masyarakat.

Di bidang teknologi, kita telah melakukan pesta pora kecanggihan teknologi dalam beberapa tahun terakhir. Kemudahan-kemudahan sangat kita rasakan. Betapa enaknya kita berbelanja tanpa harus datang ke toko, membeli makanan tanpa harus keluar rumah, membeli pulsa tanpa harus ke warung pulsa, membeli tiket pesawat tanpa harus ke bandara, memesan kamar hotel tanpa menelpon hotel yang dituju, menonton film tanpa harus ke bioskop, mengirim uang tanpa harus ke Bank, menikmati es kopi segala jenis dengan harga terjangkau, dan lain sebagainya. Sampai-sampai kita mengenal istilah Unicorn, Decacorn, akhirnya kita sudah lupa rasanya makan popcorn.

Dan, hari ini, kita akhirnya sibuk oleh kegiatan evakuasi setelah bertahun-tahun menikmati pesta. Kenyataan yang harus kita hadapi adalah: kita tidak benar-benar siap melakukan evakuasi.

Tri Mulyana, penggiat Kenduri Cinta, menyatakan bahwa Orang Maiyah ini ibaratnya SAR (Search And Rescue). Sekumpulan komunal yang memang disiapkan untuk melakukan hal-hal yang sifatnya mendadak dan tidak terduga.

Memang tidak aneh, mengingat di Kenduri Cinta sendiri saya bersama penggiat Kenduri Cinta lainnya kerap menghadapi hal-hal yang tidak terduga pada setiap gelaran Maiyahan Kenduri Cinta, dari yang sifatnya kecil, remeh sampai yang sifatnya besar.

Kenduri Cinta pada 2016, di awal tahun saat itu, dihadapkan pada persiapan kurang dari dua minggu untuk penyelenggaraannya yang akan menghadirkan Mbah Nun bersama KiaiKanjeng. Lagi-lagi tema “GERBANG WABAL” mengingatkan saya bahwa pada 2016, kita semua mengawali Wirid Tahlukah yang kemudian kita laksanakan di beberapa titik Simpul Maiyah. Sebuah wirid yang cukup seram jika kita membaca detail makna demi maknanya.

Hanya kurang dari dua minggu penggiat Kenduri Cinta mempersiapkan acara tersebut. Jangan dibayangkan bahwa penggiat Kenduri Cinta memiliki uang kas memadai untuk menyelenggarakan Maiyahan yang menghadirkan Mbah Nun dan KiaiKanjeng. Tentu saja kas Kenduri Cinta saat itu nol rupiah. Alhamdulillah, acara berlangsung lancar. Ini yang mungkin oleh Tri Mulyana disebut sebagai orang Maiyah adalah orang yang siap sedia dalam segala kondisi. Pokok’e gasruk disik ae, percoyo karo Gusti Allah, rek.

Saya pun kemudian teringat salah satu pesan Mbah Nun yang kurang lebih berbunyi; Atas segala niat baikmu kepada Allah, percayalah bahwa Allah akan menyiapkan segala perangkat dan fasilitas untuk memperlancar niat baikmu itu.

Kembali ke tema evakuasi Corona ini. Sudah ditegaskan oleh Marja’ Maiyah bahwa kita sebagai Orang Maiyah semestinya sangat siap menghadapi pandemi Corona ini. Maka, yang kita butuhkan saat ini adalah kebulatan niat dan tekad kita masing-masing untuk melakukan evakuasi semaksimal mungkin yang bisa kita lakukan. Jangan membayangkan bahwa evakuasi itu hanya terbatas pada materi saja, memindahkan satu benda ke tempat lain agar tidak terkena musibah. Tentu sebagai Orang Maiyah tidak sesempit itu cara pandangnya.

Mbah Nun sendiri tidak kurang sudah membekali kita dengan berbagai macam wirid, belum lagi setiap hari dua tulisan Mbah Nun sajikan kepada kita dan selalu dirilis pada pagi dan sore hari di website caknun.com ini. Alangkah bersyukur kita memiliki guru yang begitu setia dan telaten untuk selalu membekali kita di tengah situasi seperti sekarang ini.

Setidaknya, proses evakuasi yang kita lakukan saat ini adalah menyedekahkan sedikit waktu yang kita miliki untuk wiridan, entah di sela-sela kita bekerja, setelah sholat, sebelum tidur, atau kapan pun saja, upayakan untuk melantunkan wirid-wirid yang sudah dibekali oleh Mbah Nun. Mungkin kita saat ini seperti seekor semut yang membawa setetes air ketika api membakar tubuh Nabi Ibrahim. Kita tidak tahu apakah wirid-wirid itu akan manjur meredakan Corona ini, tapi setidaknya kita memiliki niat baik bahwa wirid yang kita lantunkan itu adalah upaya yang bisa kita lakukan saat ini.

Di samping itu juga mungkin ada sebagian dari kita yang saat ini harus keluar rumah untuk tetap bekerja menghidupi keluarga, atau juga ada yang harus berjibaku di Rumah Sakit sebagai tenaga medis. Kita semua, saat ini adalah pejuang Fi Sabilillah. Mengutip pernyataan Yai Tohar, bahwa kita semua ini adalah Garda Terdepan di wilayah masing-masing dalam menangkal penyebaran Virus Corona.

Jangan sampai pada akhirnya kita juga kebingungan seperti anak ayam yang tersesat jauh dari induknya, sehingga tidak tahu harus kembali ke kendang yang mana. Jangan sampai karena sudah sebulan ini kita tidak Maiyahan secara langsung seperti biasanya, kemudian kita bingung, hilang arah, tersesat, galau, melow, kemudian anarcow.

Ketika beberapa minggu lalu saya ConCall dengan Yai Tohar dan beberapa orang di Inti Kadipiro, saya menyampaikan bahwa saat inilah momen praktik Orang Maiyah yang selama ini Sinau Bareng di Maiyahan. Setelah sekian tahun belajar di “Universitas Maiyah”, saatnya mengaplikasikan ilmu dan nilai-nilai Maiyah. Setidaknya, untuk orang-orang terdekat di sekitar kita; Quu anfuaskum wa ahlikum min Corona. Kurang lebih seperti itu.

Inilah momen evakuasi kita, setelah sekian tahun kita selalu berpesta.

Buku Lockdown 309 Tahun