Reboan on the Sky, Selalu Ada Ruang Untuk Sinau Bareng dan Maiyahan

Ini kali ketiga Reboan Kenduri Cinta diadakan dalam format virtual meeting, tepat tiga hari menjelang Pagelaran Teater Perdikan “Sunan Sableng dan Paduka Petruk” yang semestinya digelar secara terbuka, kolosal, dan gratis untuk disaksikan bersama di Plaza Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Namun, ada skenario lain dari Sang Maha Teater Kehidupan ini. Bukan tertunda, melainkan memberi jeda sejenak, untuk kita menghitung kembali atas model peradaban seperti apa di masa depan yang akan muncul pasca situasi ini berlalu.

Bertapa di “Gua” Masing-Masing

Memang, Kenduri Cinta edisi Maret 2020 lalu, menjadi batas sementara untuk gelarnya Maiyahan, Sinau Bareng dengan ruang terbuka, melingkar bersama, dengan ribuan masyarakat. Tetapi, apa bedanya dengan situasi akhir-akhir ini? Kami rasa tak ada yang berbeda, ruang offline maupun online bukanlah sebuah alasan untuk tidak terus Sinau Bareng, untuk tidak “melingkar” Maiyahan.

Cukup banyak metode, Mbah Nun sendiri sangat berlebih dan telaten memberi kita, menemani kita dengan bekal-bekal dari masa lalu, masa kini, dan untuk bekal masa depan. Kunci-kunci dan formulasinya begitu jelas, apa yang harus kita siapkan, dan terus tidak berhenti hingga kini. Belum lagi sebaran ilmu-ilmu dari Mbah Nun dalam Maiyahan yang tersebar melalui berbagai macam media dan jenis konten. Tak kurang juga caknun.com terus produktif mengolah berbagai macam konten untuk kita semua.

Ini bukan hal baru, sebagaimana selama ini forum-forum Maiyahan juga banyak diselenggarakan di grup-grup Whatssapp, Telegram, E-mail, atau berbagai media lainnya secara mandiri oleh Jamaah Maiyah. Ya, mereka berdaulat untuk tetap social gathering dengan media apa saja dan di mana saja.

Reboan minggu kedua di bulan April 2020 ini, selain penggiat Kenduri Cinta, Marja’ Maiyah; Syeikh Nursamad Kamba, Yai Toto Rahardjo, Mas Ian L. Bets, dan Mas Sabrang turut serta melingkar bersama, dengan beberapa teman penggiat dari Simpul Maiyah lainnya seperti; BangbangWetan, Juguran Syafaat, dan Mafaza Eropa. Reboan on the Sky pun berjalan lebih padat dan semarak. Diawali dengan pembacaan Wirid Akhir Zaman bersama-sama, Wirid ditampilkan di seluruh layar masing-masing, kemudian diskusi bergulir, mengalir sebagaimana Reboan berlangsung selama ini.

Beberapa penggiat Kenduri Cinta sendiri sudah ada yang early mudik ke kampung halamannya. Berbagi cerita bagaimana situasi dan suasana di kampung masing-masing. Mayoritas hampir sama, hampir di semua daerah sudah menerapkan physical distancing. Kemudian para perantau yang baru datang juga diwajibkan untuk melapor ke pengurus RT setempat, kemudian dilakukan pemerikasaan. Lalu mereka diwajibkan untuk karantina mandiri selama empat belas hari di rumah masing-masing. Seperti yang diinformasikan kerabat dari Madiun yang juga semalam bergabung di Reboan, Pemerintah Kota Madiun menyiapkan Asrama Haji untuk digunakan sebagai area karantina bagi para pendatang di Madiun, tanpa terkecuali.

Jakarta sendiri, mulai 10 April 2020 ini akan diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Artinya, pergerakan masyarakat akan sangat dibatasi. Di antaranya, tidak boleh berkumpul lebih dari 5 orang, kemudian penumpang di angkutan transportasi pun dibatasi. Bahkan, sepeda motor hanya boleh ditumpangi oleh satu orang saja. Praktis Ojek Online tidak bisa beroperasi untuk mengangkut penumpang. Mereka hanya diperbolehkan untuk mengambil order makanan atau pengiriman barang saja. Bus, KRL, dan MRT hanya boleh menaikan penumpang setengah dari kapasitas yang bisa diangkut. Hanya ada beberapa sektor yang diperbolehkan tetap beraktivitas seperti biasanya, di antaranya seperti Rumah Sakit, Bank, Pasar, Supermarket, SPBU, dan ATM.

Dalam beberapa hari terakhir, rutinitas warga di Jakarta sudah tampak kembali seperti semula. Beberapa jalan protokol macet, karena masa Work From Home sebagian perusahaan swasta sudah berakhir. Pemerintah sendiri memperpanjang masa Work From Home bagi ASN hingga 19 April 2020 mendatang.

“Ujian” Praktik Ilmu Maiyah

Diskusi pun dimulai. Mas Gandhie memandu jalannya Reboan on the Sky. Karena melibatkan cukup banyak member, sekitar empat puluh orang, maka arus diskusi harus ditata sedemikian rupa, agar efektif.

Dari Jogja, Mas Patub yang kita kenal sebagai Gitaris Letto menjadi pembuka, mengabarkan rutinitas warga sehari-hari sudah kembali normal seperti biasanya. Bisa jadi karena merasa bosan harus terus-menerus berada di rumah, sementara tuntutan ekonomi tidak bisa mereka hindari, kebutuhan pokok harus mereka penuhi. Tidak dapat dipungkiri memang, ada banyak masyarakat kita yang masih menggantungkan pada penghasilan harian. Mas Patub menambahkan, bagaimana Progress di Rumah Maiyah, Kadipiro Yogyakarta, juga terus mempersiapkan berbagai macam konten, tentu saja dengan dibuat cluster-cluster, tidak berkumpul dalam satu ruangan lebih dari tiga orang.

Mas Ian L. Bets dari Thailand menggambarkan situasi terkini. Di sana keadaan ekonomi lumpuh total. Thailand yang sangat mengandalkan dunia pariwisata, saat ini sangat terpuruk. Bandara ditutup selama masa lockdown. Wisatawan yang sudah telanjur masuk ke Thailand harus dikarantina di Hotel hingga masa lockdown berakhir. Mas Ian sendiri pun tidak bisa keluar dari Thailand, padahal istrinya ada di Indonesia, dan sempat mendarat di Thailand, namun tidak diperbolehkan, dan kembali ke Indonesia. Sementara anaknya yang study di London, UK pun tak bisa kemana-mana.

Atas reaksi-reaksi Thailand menghadapi krisis akibat virus Corona ini, Mas Ian L. Bets menceritakan bagaimana sistem Rumah Sakit di Thailand berjalan sangat baik. Penanganan pasien Corona di Thailand ditangani dengan baik, sehingga kemungkinan untuk sembuh bagi mereka yang terjangkit virus Corona sangat tinggi.

Mas Ian berpandangan bahwa virus Corona ini membuka mata kita semua, bahwa kapitalisme global ternyata bisa tumbang, dan terbukti bukan sistem ekonomi yang kuat. Setelah virus Corona ini berlalu, dunia akan membutuhkan sistem yang baru, seperti restart dari nol. Hampir seluruh sektor ekonomi tumbang di Thailand, terutama pariwisata.

Berkaca ke dalam, Mas Ian menambahkan bahwa kita sebagai Orang Maiyah sebenarnya sudah memiliki bekal yang sangat cukup, bahkan lebih dari cukup. Saat ini adalah masa-masa yang tepat untuk mengaplikasikan nilai-nilai Maiyah yang selama ini kita dapatkan dari Mbah Nun di Maiyahan. Jaringan yang sudah terbentuk di Maiyah berupa Simpul Maiyah saat ini menurut Mas Ian memiliki momen yang tepat untuk melakukan hal yang lebih dari sekadar Maiyahan, sebagaimana yang sebelum masa pandemi Corona ini dilakukan.

Katakanlah ancaman krisis pangan yang juga diprediksi sebentar lagi akan mendera dunia secara global, Jamaah Maiyah dengan kemandiriannya harus segera mengambil langkah-langkah nyata, saling bekerja sama dan bergandengan tangan untuk mengamankan dan menyelamatkan satu sama lain, atau setidaknya di lingkaran terdekatnya sendiri. Karena sudah pasti sektor ekonomi adalah sektor yang paling nyata yang sangat terdampak, dan sektor pangan dan energi akan juga terkena dampaknya jika virus Corona ini tidak ditangani dengan tepat.

Buku dan Merchandise