Coronalladzi Yuwaswisu Fi Shudurinnas

Corona, 14

Terhadap apa pun saja yang dilakukan oleh Lembaga Otoritas Negeri ini atas hal-hal yang menyangkut Coronavirus, Maiyah tidak berkomentar, tidak mengkritik, tidak memberi saran, tidak memuji dan atau apa pun saja. Maiyah hanya menggali ilmu dan pengetahuan untuk Jamaah Maiyah sendiri.

Tentu bukan karena Maiyah egois, egosentris dan hanya memikirkan warga Maiyah sendiri. Melainkan, karena, di samping arena informasi Maiyah bisa diakses oleh siapa pun saja di Negeri dan dunia ini kalau ada, Maiyah sendiri memang “tidak ada” di Indonesia maupun dunia. “La tudrikuhul abshar wa huwa yudrikul abshar wa Huwal Lathiful Khabir”. Semua makhluk dan apa siapa pun saja tidak melihat ada Maiyah di Indonesia kecuali diri Maiyah sendiri, sementara Maiyah melihat semua hal di Indonesia dan dunia, meskipun Maiyah bukanlah Lathifun Khabir.

Maiyah tidak ada bagi Pemerintah Indonesia, Simbah tidak ada bagi Presiden Indonesia beserta seluruh jajarannya dalam arti birokratis maupun personal. Maiyah hanya ada bagi warganya sendiri. Kalau ada ambisi Maiyah untuk dikenal oleh Indonesia dan dunia, berlakulah seperti virus Corona. Jangan kasih ke masyarakat kegembiraan, tapi stres. Jangan sebarkan ke publik kesegaran dan kesehatan hidup, tapi sebarkan keloyoan dan penyakit.

Jangan tegakkan kedaulatan diri dalam lingkup batas Allah, kemerdekaan hidup dalam bingkai sosial, budaya dan peradaban bersama ummat manusia. Tapi tularkan ke masyarakat ketidakseimbangan hidup, taqlid buta, ketidakberdayaan akal dan kekerdilan hati. Jangan ajak siapa-siapa “Inna ma’iya Robbi”, “Al-Mutahabbina Fillah”, “In lam takun ‘alayya ghodlobun fala ubali” atau apa pun, melainkan dakwahkan eksklusivisme, egosentrisme, kekerdilan hidup, ketidakarifan, kesempitan, kecekakan dan kedangkalan.

Alhasil kalau Maiyah menyakiti kehidupan, ia akan sangat segera poluper. Kalau Maiyah menyebar celaka dan kemudlaratan, cepat dikenal umum. Kalau Maiyah bergerak untuk menguasai Negara dan menggantikan Pemerintahnya, maka ia langsung menjadi selebritas media, offline maupun online. Sebab “a bad news ia a good news”. Maksudnya pasti “a bad fact is a good news”. Segala jenis kebobrokan punya potensi 10 hingga 100 kali lipat untuk mengakses ke masyarakat, menjadi viral dan populer.

Tapi Maiyah berlaku bodoh, dalam ukuran kehidupan di dunia dan utamanya peradaban abad 21. Maiyah memilih elegance, seharusnya kekonyolan. Maiyah memilih kedalaman, mestinya kedangkalan. Maiyah mengutamakan kedewasaan, seharusnya kekanak-kanakan. Maiyah mengafdhaliyahkan kebijaksanaan, padahal cocoknya serabutan, grusa-grusu, ngawur dan loss. Maiyah mengaqdamiyahkan keluasan, keseimbangan dan akurasi kemashlahatan, padahal yang kompatibel untuk zaman ini adalah kesempitan, ketimpangan, pembiasan dan kemelesetan. Maiyah berdiri tegak menghadapkan wajah ke Shirathal Mustaqim, padahal yang dipilih rakyat adalah yang Maghdlubin dan Dhollin.

Corona sangat pupuler meskipun amat sangat kecil namun amat nyata mencelakakan semua manusia. Maiyah sangat tidak populer karena bukan sekadar sangat kecil, tapi bahkan tidak kelihatan, dan kerjanya adalah menyebarkan ketenangan hati, keseimbangan jiwa, keteguhan berpikir, ketepatan melangkah, akurasi pencapaian, kematangan mental dan jiwa muthmainnah. Kalau Maiyah melakukan pergerakan untuk menciptakan kecemasan jiwa, kementahan ilmu, kekethulan berpikir, kengawuran langkah, yang semuanya menghasilkan khaos personal maupun sosial — maka dunia akan sangat sigap mengindentifikasi dan mengenalinya.

Bahkan saya, Simbah mereka semua sering berpikir dan menemukan nuansa kenyataan bahwa: jangankan ummat manusia sedunia, jangankan bangsa se-Indonesia, jangankan offline online media — sedangkan para pelaku Maiyah sendiri mungkin tidak benar-benar mengenalinya, sehingga juga kurang sungguh-sungguh mensyukurinya. Apalagi kaum Banujan, Jin dan Mulukullah saja terheran-heran pada cara pandang, sudut pandang, kejelian pandang, resolusi pandang, jarak pandang dan iktikad pandang mereka. Media massa di dunia adalah “Alif Lam Mim Shad”, hanya Allah yang mengerti. Bedanya, kalau Qaaf, Nun adalah kode ciptaan Allah, sedangkan media massa adalah bikinan manusia atas wacana dari Tuhan: “alladzi yuwaswisu fi shudurinnas”. ***

Buku Cak Nun Majalah Sabana