Corona Pasti Bisa

Corona, 46

Corona pasti bisa. Tak terbantahkan. Faktanya amat sangat nyata, mendera menekan menindih mengepung, sampai detik ini di seluruh bulatan planet Bumi. Kalau Jamaah Maiyah, dengan segala kerendahan hati terserah perkenan dan kemurahan Allah, apakah dipinjami “bisa”nya atau tidak. Kalau Indonesia, tidak berada pada posisi untuk menyatakan “pasti bisa”. Proporsionalnya hanya “semoga bisa”, “mudah-mudahan bisa”. Kalau manusia dan makhluk pada umumnya, yang habitat kehidupan dan sejarahnya memang mensyahadati Allah di dalamnya, maka mungkin posisinya adalah “insyaallah bisa”.

Di tulisan seri Corona ini pernah saya sebut bahwa pucuk pimpinan Negara kita ini definisinya adalah “innahu ‘ala kulli syai`in qodir”. Tidak berarti beliau pernah menyatakan itu dari mulutnya. Melainkan demikian fakta yang saya tangkap dari perilaku dan kepemimpinannya. Serta demikian juga alam sikap mainstream Pemerintahan dan elite-culture, middle-class-culture maupun bahkan mass-culture mereka.

Puncak dari kebiasaan bangsa Indonesia, terutama kelas menengah, khususnya lagi aktivis-aktivis media yang getol mengacungkan tinju “Indonesia Bisa”, “Kita Pasti Bisa”, adalah “innana ‘ala kulli syai`in qodir”. Artinya: Sungguh atau sesungguhnya kita bisa apa saja atau berkesanggupan atas segala sesuatu. Cuma bedanya “Q”-nya tidak besar sebagaimana kalau menuliskan Tuhan.

Tentu saya termasuk yang tidak mengerti apa maksudnya kata “pasti” dalam pikiran Indonesia. Menurut KBBI: pasti adalah sudah tetap; tidak boleh tidak; tentu; mesti. Ini paralel dengan ambiguitas “NKRI Harga Mati”. Atas dasar cara berpikir bagaimana, atas posisi apa, atas logika dan manthiq yang mana sehingga sekumpulan manusia ringan-ringan saja mengucapkan “Indonesia Pasti Bisa” dan “NKRI Harga Mati”.

Subhanallah walhamdulillah wa la ilaha illallahu Allahu Akbar memangnya siapa kita ini? Makhluk jenis apa bangsa Indonesia ini? Malaikat seri ke-berapa Pemerintah Indonesia ini?

Sedangkan para Malaikat pun hanya berposisi “ya’maluna ma yu`marun”, hanya mengerjakan yang Allah perintahkan. Tanpa kemampuan atau kekuatan atau kesanggupan kecuali yang dipinjamkan oleh Allah kepada mereka.

Raja Besar dan Nabi khash Ulul ‘Azmi Sulaiman AS, yang kalau orang Jawa mungkin menggelarinya Sang Prabu Agung Hamengkujagat Kanjeng Sulaiman Ngalaihissalam berhajat untuk meniduri 1000 istrinya, dengan harapan dan perhitungan salah satunya mestinya ada yang memiliki kemampuan dan kebesaran untuk meneruskan kekuasaannya di Singgasana. Kekurangannya cuma satu, niat itu ia laksanakan tanpa mengucapkan “Insyaallah”. Maka yang dianugerahkan oleh Allah kepada Raja Sulaiman hanya satu orang bayi, yang cacat pula. Maka “Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat”.

Pernah ada Kerajaan sesukses Keraton Sulaiman dalam sejarah dunia? Bukan sekadar rakyatnya “gemah ripah loh jinawi”. Ilmu pengetahuan berkembang pesat atas inovasi-inovasi pionir Hud-hud. ASN-nya kaum Jin. Bikin kolam renang raksasa sekian kali lapangan bola ukurannya. Bikin pesawat untuk lalu lintas ke luar angkasa dan bersilaturahmi dengan rekan-rekan di planet-planet lain.

Raja Sulaiman juga seorang Muslim yang saleh. Sangat beriman. “Dan Kami karuniakan kepada Daud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya”. Hanya kurang satu kata: Insyaallah.

Sulaiman juga Raja yang relatif ideal. Bahkan “Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: “Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman”.

Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu, maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan kamilah yang melakukannya”.

Kalau berdasarkan logika dan tradisi rasio, Baginda Sulaiman punya 1000 kemungkinan, lantas beliau berani memastikan satu yang akan menggantikan singgasana beliau. Tidak aneh, tidak ngawur atau bosoh atau kurang ajar. Berapa kemungkinan Indonesia di hadapan Corona sehingga kita canangkan “Kita pasti Bisa”, “Indonesia Bisa”? Apakah proklamasi seperti bukan “bisa” (racun) bagi akal sehat, jiwa dan kehidupan kita?

Kurang apa akhlak dan kemuliaan Baginda Sulaiman. Kita semua ini “rècèh” dibandingkan dengan beliau. En toh, “Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan”.

Lha kok, makhluk-makhluk penuh kehinaan, yang tidak bisa disebut hamba-hamba karena yang kita bangun di Negeri ini bukanlah penghambaan kepada Allah — dengan dungu berteriak “Indonesia Bisa”, “Kita Pasti Bisa”.

Para ahli sejarah Indonesia mungkin menjawab: “Hal Sulaiman itu kan dongeng, bukan fakta sejarah”. Menjawab dalam hati, karena waswas dan lumayan pengecut juga kalau berani-berani mengucapkannya dengan mulut atau pena.

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (Fussilat: 49)

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakangi dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (Al-Israa: 83)

Fa Haqqu ‘alaina qaulu Rabbina inna ladza`iqun”. Niscaya “qaul” nya Allah itu niscaya atas kita, termasuk apabila “qaul” itu = adzab-Nya, dalam bentuk apapun dan dengan kadar seberapa pun.

Lainnya

Mereplikasi Akhlaq Tuhan

Mentadaburi Ayat Corona

Muhasabah Corona

Tidak Njlimet Dalam Berdoa

Buku dan Merchandise