Aura Magis Di Depan Murid

Dari Majelis Ilmu Padhangmbulan tadi malam (Kamis, 9/01/20), para jamaah mendapatkan berbagai penglihatan detail tentang hal-hal menyangkut pendidikan. Di antaranya tentang apa dan bagaimana sebaiknya guru membangun dirinya agar para siswa bisa menikmati belajar dengan sebaik-baiknya.

Menurut Mbah Nun, Guru harus lebih kreatif untuk membuat para murid kerasan sinau. Dengan memberi contoh Sinau Bareng yang berlangsung lima hingga enam jam, bagi Mbah Nun ini semestinya memunculkan pertanyaan tentang apa yang membuat jamaah bisa kerasan dalam sinau yang selama itu. Di sinilah para guru bisa belajar bagaimana membuat murid betah lama belajar. “Mestine guru harus menarik bagi murid-muridnya. Guru harus mempunyai daya magis kepada muridnya. Guru harus punya gelombang yang auranya itu harus bisa membuat murid kerasan,tegas Mbah Nun.

Selain itu, sebaiknya guru juga tidak mengedepankan emosi kemarahan saat menghadapi murid. Mbah Nun memberi contoh dan perbandingan dari salah satu sekolah yang telah menerapkan prinsip ini. Di sekolah itu, saat murid melakukan kesalahan, guru tidak pernah memarahi murid. Ketika murid mengumpulkan tugas dan meminta maaf atas keterlambatannya, sang guru dengan penuh kerendahhatian justru mengatakan, “Tidak, kamu tidak salah. Saya yang salah karena terlalu cepat meninggalkan kelas.”

Kemudian soal ujian. Ada yang perlu diperhatikan. Selama ini, ketika murid belum tuntas dalam memahami suatu materi pelajaran yang diukur berdasarkan nilai KKM, muridlah yang harus melakukan ujian ulang. Padahal, menurut Cak Mif, remidi itu ada dua. “Remidi ada dua, dan mestinya harus dilakukan kedua-duanya. Kalau ada murid yang nilainya kurang, seharusnya dilakukan remidi learning, baru remidi test. Kebanyakan hampir di semua sekolah hanya melakukan remidi test.”

Sebagai gambaran, di sekolah yang diceritakan Mbah Nun, ketika ada murid yang belum tuntas memahami materi, murid tersebut diwajibkan mengikuti kelas ekstra selama setengah jam. Dalam kelas ekstra ini, murid-murid yang sudah tuntas mendampingi murid yang masih kurang untuk mendalami materi.

Mengenai pendidikan saat ini, Cak Nas punya sebuah refleksi. “Allah itu sekarang sedang menitipkan hidayah orangtua itu kepada anak-anak. Anak-anak kita sekarang banyak yang pintar bertanya, sementara tak jarang kita sebagai orangtua dan guru kesulitan menjawabnya,” katanya.

Sementara itu Cak Dil menambahkan, “Salah satu fakta dunia pendidikan di negara kita sekarang ini adalah bahwa semakin tinggi kelasnya, seorang murid semakin tidak mampu bertanya dan menemukan pertanyaan.”

Di situlah terletak arti penting pendidikan menurut Mbah Nun. “Gunanya sekolah adalah untuk meneliti kembali apa yang sebenarnya kita sudah tahu. Sebenarnya kita sudah mengerti jawaban. Ketika kita lahir, Allah menghapus jawaban itu untuk kita temukan kembali dalam kehidupan melalui kemampuan kita menemukan pertayaan-pertanyaan.”

Demikianlah sedikit dari sekian banyak refleksi tentang pendidikan yang dapat dipetik dari Majelis Ilmu Padhangmbulan tadi malam.

Buku dan Merchandise