Prigel Bertanya, Kunci Menjalani Proses Belajar

Perasaan syukur tampak menyelimuti jamaah Padhangmbulan. Wajah-wajah sumringah menyambut kehadiran Mbah Nun. Tadi malam, Kamis (9/1/2020), Mbah Nun, Cak Mif, Cak Dil, Cak Nas dan Cak Yus membersamai jamaah. Temanya tentang pendidikan.

Setelah penampilan santri TPQ, pembacaan ayat Al-Qur’an dan wirid pembuka, tepat pukul  21.30 WIB Mbah Nun menyapa jamaah. Tidak langsung tancap gas, Mbah Nun memetakan usia, asal kota, pendidikan, pekerjaan jamaah. Meskipun rata-rata yang hadir anak-anak muda, ternyata mereka memiliki latar belakang yang heterogen.

Mengawali tema pendidikan Mbah Nun memaparkan terminologi dasar tentang simbol harga diri manusia, filosofi wudlu hingga sejumlah pertanyaan kritis tentang peran manusia sebagai khalifah di bumi.

“Apa beda jaa’ilun dan khaliqun? Mengapa dalam rangkaian ayat innii ja’ilun fil ardli khalifah, Allah tidak menyebut kata “manusia”? Jadi, apa sesungguhnya khalifah itu?” tanya Mbah Nun.

Pertanyaan yang diajukan dari rangkaian ayat ke-30 surat Al-Baqarah itu menjadi pijakan untuk memahami ayat selanjutnya, yakni wa ‘allama adamal asmaa-a kullaha. Kita bisa mencatat beberapa pengertian kunci dari ayat ke-31 surat Al-Baqarah. Di antaranya, siapa yang pertama kali mengajari Nabi Adam? Apa pelajaran yang diterima Nabi Adam? Seberapa luas dan lengkap pelajaran itu? Setelah proses penciptaan selesai, apa yang pertama kali dilakukan Allah kepada Nabi Adam?

Jawaban-jawaban tersebut menjadi pintu masuk sekaligus fondasi untuk menjawab kompleksitas persoalan pendidikan. 

Tentu saja, dalam proses belajar kita bisa menerangkan semua hal tanpa mengajukan sederet pertanyaan terlebih dahulu. Namun, belajar adalah proses menemukan jawaban dari sejumlah pertanyaan yang diajukan. Untuk itu, Mbah Nun berpesan supaya kita prigel mengajukan pertanyaan. Jawaban atas sebuah pertanyaan tidak akan ditemukan apabila kita tidak mengerti pertanyaannya.

Pengajian Padhangmbulan sungguh gayeng manakala para jamaah menyampaikan pikiran mereka tentang pendidikan. Tak ayal, sepuluh jamaah yang menyampaikan isi pikiran dan uneg-uneg mereka seperti air yang deras mengalir. Curhat belajar di sekolah, rapuhnya sistem pendidikan nasional, sembrono memahami pengertian dasar pendidikan dan pengajaran, kaburnya makna denotasi education dan school, kualitas guru hingga sekularisme mata pelajaran — mengemuka dalam sesi berbagi pengalaman dan pikiran.

Sumbatan-sumbatan itu pun akhirnya ambrol. Dafa, jamaah asal kota Kediri, menyatakan: “Sekolah itu tempat belajar apa yang saya belum bisa. Tapi, kalau saya belum memahami pelajaran mengapa Bapak atau Ibu Guru malah memarahi saya?”

Cak Mif sebagai manusia pendidikan mengemukakan pandangan yang progresif. Cak Dil mengajukan pilihan metodologi Sinau Bareng sebagai kemungkinan model bagi gerakan pemberdayaan pendidikan di masyarakat. Cak Nas menguatkannya dalam bidang kebudayaan. Cak Yus menekankan ketelatenan orangtua melayani pertanyaan anak-anak mereka.

Semalam, pengajian Padhangmbulan nyinauni pendidikan secara jangkep dan seimbang: teori dan fakta, filosofi dan realitas, rohani dan jasmani, akhirat dan dunia. Rajin bertanya adalah salah satu kuncinya.

Buku dan Merchandise