Belajar Berpikir “Tidak Lazim” di Pengajian Padhangmbulan

“Mas, Pengajian Padhangmbulan tanggal berapa?” Sebuah pesan masuk melalui Whatsapp. Saya tidak langsung merespon karena menunggu “pengumuman” resmi. Biasanya empat atau tiga hari sebelum “Hari H”, Omah Padhangmbulan akan merilis flayer pelaksanaan Padhangmbulan.

Telisik punya telisik nomor yang kerap menanyakan kapan Pengajian Padhangmbulan itu milik seorang siswa Madrasah Aliyah di kota Jombang. Namanya Amal. Ia siswa kelas XI jurusan IPA. Saya berkesempatan ngobrol di teras masjid depan ndalem kasepuhan Mentoro. Profil jamaah Padhangmbulan yang didominasi generasi milenial sungguh benar adanya.

“Besok tetap sekolah, Mas,” jawabnya, ketika saya bertanya apa sekolah sedang libur sehingga pulang menjelang shubuh.

Amal tidak sendiri. Ia berangkat bersama tiga orang kawannya. Teman seperjalanan itu bisa ganti-ganti. Bergantung siapa yang longgar. Amal termasuk jamaah yang aktif menghadiri Pengajian Padhangmbulan.

Pada mulanya ia tertarik dengan kalimat-kalimat Mbah Nun di Sinau Bareng. Rasa penasaran dan ingin mengikuti pengajian Mbah Nun secara “live” mendorongnya hadir di Padhangmbulan sejak sekolah di MTs.

Apakah keaktifan hadir di Padhangmbulan sekadar didorong oleh rasa penasaran? Ternyata tidak. Amal mengaku bisa belajar cara berpikir yang tidak lazim. Saya sempat heran dengan pengakuannya.

“Tidak lazim bagaimana?,” tanya saya.

“Umumnya orang zaman sekarang itu kan saling menyalahkan, saling mengaku dirinya benar, seraya menjelekkan orang lain. Di Padhangmbulan saya belajar sesuatu yang tidak lazimnya orang zaman sekarang bersikap.”

“Maksudnya, Mas Amal tidak gampang menyalahkan orang lain?”

“Benar, Mas.”

Ini baru pengakuan seorang jamaah — belum kesaksian jamaah lainnya yang kerap disampaikan di atas panggung. Mulai curhat pribadi, motivasi, pencerahan atau pengalaman nyeleneh yang membawanya hadir di Pengajian Padhangmbulan.

Saya juga pernah ngobrol dengan seorang mahasiswa yang kuliah di kampus negeri Surabaya. Ia dituduh dosennya bersikap liberal. Apa pasal? Mahasiswa kita ini bernama Yaqien. Di tengah diskusi mata kuliah Agama Islam, sahabat kita ini tidak serta merta menyalahkan keyakinan agama lain. Bapak Dosen mengejar dengan pertanyaan, “Jadi semua agama itu benar?”

“Tidak tentu, Pak. Kalau konteksnya adalah pergaulan sosial, saya tidak memiliki kepentingan untuk menyalahkan agama orang lain yang berbeda dengan saya. Kalau konteksnya keyakinan pribadi, tidak ada agama selain Islam,” jawab Yaqien.

Saya geleng-geleng kepala mendengar argumen jawaban sahabat kita ini. Maiyah banget. Ia mengambil dasar berpikir yang kerap disampaikan Mbah Nun bahwa kebenaran letaknya di dapur. Tidak heran pula, ternyata semasa SMA, Yaqien aktif hadir di Pengajian Padhangmbulan.

Itulah beberapa tetes tahaddust binni’mah di tengah samudera ilmu, hikmah, cahaya yang bisa kita selami di Padhangmbulan. Selebihnya, mari tetap sregep dan istiqamah, belajar dan mempelajari, sembari terus bertanya dan mencatat keadaan.

Kita berjumpa lagi di Pengajian Padhangmbulan, hari Kamis, 9 Januari 2020 di Mentoro Sumobito Jombang.

Buku dan Merchandise