Tidak Perlu Khawatir Mbah, Negara Sudah Kami Pegang di Tangan Kiri

Sejak seminggu terakhir, tulisan simbah membuat bulu kuduk leher merinding tiada terkira, mulai tulisan DJD yang bikin penasaran, karena dalam tulisan tersebut simbah menyiapkan hadiah buat teman-teman pembaca setia website caknun.com bagi yang menemukan jawaban dari arti tulisan dengan “clue” DJD dari Mbah Nun, hingga sehari sesudahnya dipaparkan secara gamblang dalam tulisan berikutnya apa itu DJD yang dimaksud oleh beliau.

Selang berapa hari kemudian, Mbah Nun menulis tentang kekhawatiran dalam ber-Maiyah bagi anak cucunya, tidak butuh waktu lama ketika saya membaca tulisan tersebut, terbayang tulisan yang terbaca oleh mata saya seperti ucapan langsung dari Mbah Nun dengan perasaan yang mendalam serta suara yang lirih tersampaikan melalui gelombang semu yang langsung menyentuh dalam hati.

Tidak menjadi hal yang baru ketika Mbah Nun mengajarkan bahwasanya di dunia tidak ada yang mutlak tentang baik dan buruk, mereka selalu beriringan, bahkan tidak mudah disimpulkan dalam waktu yang singkat, begitu juga dalam ber-Maiyah.

Namun setelah dibisiki kekhawatiran Mbah Nun tersebut, sampai tengah malam ini saya menulis, tidak dapat menemukan madhorot-madhorot yang ditimbulkan seperti yang dikhawatirkan Mbah Nun pada diri saya, meski contoh yang saya utarakan adalah bagian terkecil, bahkan sangat kecil jika harus dibandingkan dengan jumlah jamaah yang tersebar di pelosok negeri.

Pengalaman hidup saya sangat ekstrim, di umur 23 tahun ini saya melewati beberapa hal yang tidak semestinya bisa saya lewati, mengerjakan yang semestinya tidak bisa saya kerjakan, namun tidak bisa saya uraikan detail disini hal-hal tersebut, yang pasti itu semua berkat pembentukan mental dan manajemen akal pikiran baik rohaniyah dan jasadiyah yang bisa saya dapatkan melalui stimulus-stimulus yang dirangsang oleh pemikiran simbah, meski Allah adalah subjek utama dalam hal itu semua. Maka sungguh bersyukurnya saya ini dipertemukan dengan Mbah Nun dan Maiyah.

Tapi setelah membaca Tajuk dari Mbah Nun tersebut, mungkin berikut ini respons yang bisa saya sampaikan, karena saya sendiri pun mungkin tidak berani menyampaikannya secara langsung jika berada di hadapan Mbah Nun.

Mbah, Negara dan pemerintah sudah kami pegang di tangan kiri, Allah dan Muhammad sudah kami siapkan space di darah untuk mengalir. Meski bibir, mata, tangan dan kaki masih sesekali terkontaminasi perbuatan-perbuatan yang tidak diridhoi Allah, ya sesekali kesandung batu terus spontan untuk misuh kencang, karena kami tidak bisa membenci dan memusuhi setan seperti yang simbah ajarkan”.

Mugi tansah keparing sehat bergas waras kersane saget ngemong kulo ugi putu-putunipun njenengan Mbah Nun”.

Alfatihah

Grobogan, 27 Oktober 2019

Buku Cak Nun Majalah Sabana