Menderita Karena Maiyah

Sejak beberapa bulan silam, terutama sesudah tanggal 20-an Oktober kemarin saya sudah, sedang dan terus menuliskan sangat banyak tetes-tetes Balada Baladi.

Ilmu Allah melimpah ruah mengalir dari langit memasuki kantung semesta di atas leher di belakang kepala saya. Kantung itu tidak ada batas volumenya, kecuali membesar mengecil atau memuai meluas seukuran dengan yang dilimpahkan oleh yang Allah mengalirkannya dari langit-Nya.

Akan tetapi saya diliputi oleh rasa tidak tega kepada Jamaah Maiyah dan siapapun yang mendapatkan, dilimpahi atau yang mereguk tetesan-tetesan kekayaan ilmu Allah itu. “Azizun ‘alaihi ma ‘anittum, harishun ‘alaikum bil mu`minina ro`ufun rohim”.

Berhari-hari saya merenung, di tengah kegembiraan ber-Maiyah. Bermalam-malam saya bersujud, di kedalaman kekhusyukan ber-Maiyah. Berwaktu-waktu saya berprihatin, beriringan dengan dinamika perjuangan dan ujian Maiyah.

Sungguh saya bersedih jangan-jangan dengan ber-Maiyah anak-anak cucu-cucu ku menjadi ghuroba`.
Menjadi terasing dari masyarakatnya, bahkan keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Menjadi tidak nyambung lagi dengan komunikasi bebrayan lingkungannya.
Menjadi teralienasi dari struktur masyarakat dan ummat di sekitarnya.
Menjadi terputus-putus kebersambungannya dengan komunitas seputarnya.
Menjadi terpinggirkan dari keasyikan interaksi budayanya.
Menjadi kehilangan peluang-peluang kariernya.
Menjadi terlempar-lempar perjalanan kariernya.
Menjadi sempit kemungkinan-kemungkinan perannya dalam kehidupan ber-Negara.
Menjadi tergeser shaf shalat jamaahnya jauh ke pojok belakang.
Menjadi sangat terbatas kesejahteraan duniawi yang diperolehnya.
Menjadi tidak melimpah kenikmatan keduniaannya.
Menjadi susah hidupnya bersama keluarganya.

Sungguh saya mencemaskan keadaan hidup anak-anak cucu-cucu ku Jamaah Maiyah. Kalau sampai dengan ber-Maiyah mereka justru menjadi menderita, bersedih, sakit, stressed, tertekan dan terhimpit oleh tekanan-tekanan yang mereka tidak kuat menanggungnya — bagaimana kelak saya mempertanggungjawabkannya kepada Allah swt.

Apalagi kalau sampai mereka mengharapkan sesuatu dari saya yang saya tak mampu memberikannya. Menginginkan suatu tindakan atau perubahan yang saya tidak sanggup untuk mewujudkannya. Terlebih-lebih kalau itu menyangkut keadaan Negara dan Pemerintahannya, Bangsa dan Kepemimpinannya, ummat manusia dan dambaan-dambaan masa depannya — yang saya tidak berada dalam posisi atau berkekuatan untuk memenuhinya.

Apalagi Maiyah menghamparkan pandangan hidup yang hampir secara keseluruhan berbeda atau bahkan berbalikan dengan yang berlangsung dalam sejarah kehidupan manusia.

Maiyah menuturkan pemaknaan baru tentang kehidupan, dunia akhirat, Demokrasi, Negara, Islam dan manusia serta apa saja yang secara mendasar dan menyeluruh tidak “berjodoh” dengan kehidupan manusia yang sedang berlangsung di Bumi.

Baik yang menyangkut nilai-nilai “sangkan paran”, filosofi, ilmu dan aplikasi-aplikasi perikehidupan ummat manusia. Dan khususnya yang menyangkut perikehidupan Kaum Muslimin, Islam, AlQuran dan wacana-wacana lainnya.

Lantas bagaimana Jamaah Maiyah bisa berdiri tegak menjalani kehidupan di zaman ini di permukaan Bumi?

Saya rela dan berusaha memafhumi apabila Jamaah Maiyah mengambil keputusan untuk menjauhi Maiyah, meninggalkan Maiyah atau bahkan membuang Maiyah.

Kemudian kembali ke Dunia, menyatu kembali dengan kehidupan sebagaimana ummat manusia dan Kaum Muslimin pada umumnya. Menikmati arus “hubbud dunya”, materialisme, kapitalisme, hedonisme, “Demokrasi”, “Pembangunan”, “Modern”, “Kemajuan”, “Sukses”, “Berprestasi” dan semua apa saja yang gegap gempita di muka Bumi “sewajarnya”.

Berhentilah ber-Maiyah kalau itu membuatmu sengsara dan kesepian!

Buku Cak Nun Majalah Sabana