Seberapa Besar Resolusimu Saat Memandang Islam?

Catatan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 19 Februari 2019, Bagian 1

Apa kabar sedulur Maiyah? Malam ini, Selasa 19 Februari 2019, kita kembali melingkar di Majelis Masyarakat Maiyah Padhangmbulan. Saya datang lebih awal ketika halaman SMK Global belum dipadati sepeda motor jamaah. Keluar dari SMK Global jalan menuju halaman pengajian telah ramai oleh para pedagang. Lampu pedagang berderet-deret menyala sepanjang jalan. Pemandangan yang khas adalah lampu obor pedagang tahu solet. 

Kegembiraan malam ini telah dimulai usai maghrib. Jalan di sebelah barat perempatan desa Mentoro yang pada hari biasa sepi dan lengang, setiap malam pengajian Padhangmbulan ramai layaknya ada pasar malam.

Saya belum tahu malam ini Padhangmbulan akan mengangkat tema apa. Biasanya saya memperoleh informasi tersebut beberapa menit setelah Bapak Abdullah Qoyim tadarusan membaca Al-Qur’an dan Cak Luthfi melantukan shalawat mahallu qiyam.

Penampilan santri TPQ Halimatus Sa’diyah dan pemutaran film dokumenter perjuangan pahlawan pada peristiwa 10 November, saya nikmati bersama segelas kopi di belakang panggung. Shalawat pembuka yang dibawakan Mbak Yuli dan Mbak Nia bersama Lemut Samudro menghadrikan suasana yang lebih khusyuk. Mas Pram menghampiri saya sambil memberi isyarat. Saya paham lalu bergegas menuju ndalem kesepuhan. 

Di ndalem kesepuhan Mbah Nun, Cak Fuad, Kyai Muzamil, Pak Dudung dan beberapa orang terlibat pembicaraan yang santai tapi serius. Mbah Nun menyampaikan tema seputar resolusi. Usai bersalaman dengan Marja’ dan para sesepuh Maiyah, saya mencatat beberapa poin yang disampaikan Mbah Nun. Tugas saya dan Pak Dudung adalah mbeber kloso untuk jamaah sebelum tema Resolusi dikembarai Mbah Nun, Cak Fuad dan Kyai Muzamil.

Jamaah menyemut. Sejauh mata saya menyapu pemandangan di depan panggung, sedulur Maiyah meluber hingga pagar dan jalan di luar halaman pengajian. Shof paling depan bahkan telah terisi sejak usai shalat Maghrib. Saya dan Pak Dudung menyapa jamaah, mengajak mereka memasang kuda-kuda agar siap menerima “jurus-jurus” resolusi. Kata kunci sudah ketemu, dilontarkan oleh salah seorang jamaah: resolusi. Pak Dudung menyambung dengan pengertian resolusi dalam dunia fotografi untuk mempertegas pengertian denotasi. 

Prinsipnya, semakin rendah resolusi sebuah kamera, gambar yang dihasilkan akan semakin rendah pixel dan kualitasnya. Semakin tinggi resolusinya, gambar yang dihasilkan akan semakin tinggi pixel dan kualitasnya. Gambar atau objek boleh sama, tapi hasil pemotretan bisa berbeda-beda kualitasnya, bergantung dari resolusi kamera yang digunakan.

Dari logika fotografi tersebut kita bisa menggunakan terminologi resolusi sebagai perspektif, cara pandang, sikap pandang untuk melihat, memahami, sekaligus me-muhasabah-i sebesar atau sekecil apa resolusi kita saat “memotret” fakta hidup sehari-hari, mensikapi pembusukan politik, menatap nasib Indonesia, hingga memahami variabel-variabel yang tumpang tindih, misalnya antara fiqih dan syariat Islam, tafsir dan tadabur, dunia dan akhirat. 

Mbah Nun juga berpesan agar jamaah mulai menghitung resolusi diri mereka saat melihat dan menyikapi pengajian Padhangmbulan. Untuk itu, dipersilakan empat orang dari jamaah menyampaikan isi pikiran dan rasa hati mereka terkait pengajian yang diselenggarakan setiap malam bulan purnama ini. Apa harapan dan penilaian mereka terhadap Cak Fuad, Mbah Nun, dan Kyai Muzamil? 

Mengapa dan untuk apa? Untuk menjajaki atau syukur-syukur bisa mengukur resolusi cara berpikir kita masing-masing, karena berapapun resolusi yang dimiliki setiap orang, setiap jamaah, setiap siapapun yang hadir di Padhangmbulan—ada siswa SMP, siswa Aliyah, santri pondok pesantren, mahasiswa, petani, pedagang yang menawarkan “kopi, kopi, kopi”— resolusi mereka tidak untuk saling dipertandingkan siapa yang unggul.

Jadi, tema Padhangmbulan malam ini bukan semacam kuliah umum tentang fotografi dan resolusi foto. Resolusi tentang resolusi yang selama ini dipahami sebatas resolusi sebuah foto ditingkatkan resolusinya, ditambah jumlah dan dirapatkan jarak antar pixelnya, agar diperoleh detail kualitas terhadap fakta dengan kualitas gambar yang bukan hanya “cling” dan jernih tetapi juga meluas dan mendalam, meninggi dan merendah, melangit dan membumi, linier dan melingkar.

Mbah Nun menyodorkan simulasi praktik ibadah orang NU dan Muhammadiyah saja tidak bisa dipisah secara linier. Terdapat variabel yang tidak kasat mata antara orang NU dan Muhamadiyah ketika mereka menjalankan shalat. Pada kasus dan konteks tertentu ada orang NU yang mengerjakan shalat “model” orang Muhamadiyah karena lebih ringkas, cepat, gampang.

Islam adalah agama yang resolusinya sangat-sangat tinggi, memiliki berlapis-lapis elemen, beragam-ragam variabel, berbagai-bagai nuansa, bertingkat-tingkat kelembutan. Hidup begitu luas dan detail. Itu semua tentu tidak cukup dihakimi dengan menggunakan palu benar atau salah, karena yang sesungguhnya terjadi adalah kembali pada seberapa besar resolusi kita memandang dan memahami Islam. Resolusi yang rendah menghasilkan kesimpulan dan sikap berpikir bahwa fiqih adalah syariat Islam. Padahal antara fiqih dan syariat Islam—apabila dipotret menggunakan resolusi tinggi—adalah dua “maqam”, level, bahkan variabel yang berbeda. Fiqih adalah sekumpulan hasil ijtihad, sedangkan syariat Islam adalah tata cara yang berasal dari Allah Swt.  

Sayangnya, baru pada memahami tataran yang kasat mata, antara fiqih dan syariat Islam, resolusi kita sudah kedodoran sehingga tidak sanggup menangkap detail-detail kelembutan di dalamnya. Tidak heran apabila yang terjadi selanjutnya adalah Islam ditampilkan dengan resolusi rendah—dibelah jadi dua dikotomi: sunah dan bid’ah, muslim dan kafir, surga dan neraka. Cara pandang dengan resolusi rendah itu, tragisnya, kini, merambah hampir setiap lini hidup manusia: mulai dari pendidikan, ekonomi, politik, hiruk-pikuk “copras-capres” hingga urusan pelaminan.

Dan di tengah malapraktek resolusi rendah itu, Padhangmbulan tidak pernah kehabisan bahan untuk bergembira dan berbahagia. Adalah jamaah bernama Wawan membuat saya mengerutkan kening. Ia menceritakan pengalamannya mengikuti Maiyah dan Padhangmbulan yang baru beberapa bulan. “Saya merasakan manfaat yang luar biasa. Dari tidak pernah berangkat ke masjid, saya sekarang rajin ke masjid,” ungkap Cak Wawan. “Dahulu tidak berani adzan, sekarang saya nekat adzan. Setelah itu saya membaca pujian yang saya pelajari dari shalawatan KiaiKanjeng. Kalau ditanya soal revolusi, ya itu, pokoknya itu revolusi saya.”

“Revolusi apa resolusi?” tanya jamaah yang lain.

“Lha ya itu, revolusi saya tentang Padhangmbulan.”

Tertawa jamaah pun meledak karena dia terpeleset mengucapkan resolusi menjadi revolusi. Dalam hati saya meng-iya-kan: untuk meningkatkan resolusi diperlukan revolusi diri. (bersambung…)

Buku Cak Nun