Menyulam, Menyelam, dan Mengolah Resolusi Pandang Zaman

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, 17 Februari 2019 (Bagian 2/selesai)

“Jangan sampai ada kata keluar dari mulut anda yang tidak mengandung dialektika keberkahan dengan Allah Swt,” demikian yang Mbah Nun ucapkan pada malam yang penuh dialektika, sulaman keindahan berkah dan ilmu ini. Sudah lewat jam 23.00WIB ketika Mbah Nun berada di panggung. Sebelumnya sajian ilmu dihantarkan oleh Pak Toto dan Mas Helmi yabg ternyata juga terjadi peristiwa dialektis, di mana Pak Toto merasa mendapat tambahan angle dari seorang jamaah yang mencoba menjawab pertanyaan dengan bekal ilmu nahwu-shorof.

Di atas panggung kemudian ada Mas Sabrang, Kiai Muzammil yang malam ini didapuk menjadi moderator walau agak kurang moderat karena bagaimanapun tetep kental NU dan Maduranya. Juga ada Pak Mustofa W Hasyim yang malam ini menyibaklah misteri apa kepanjangan huruf “W” di tengah nama beliau itu.

Adalah pengalaman Kiai Muzammil selama beberapa tahun di Bahtsul Masail yang membuat beliau diangkat menjadi moderator malam ini. Karena Bahtsul Masail kerjanya adalah membahas permasalahan real yang dihadapi masyarakat maka wajarlah kalau kita menyangka orang-orang yang terlibat di dalamnya dituntut untuk memiliki kemampuan menganalisa, mengayomi dan mengemong. Tapi ternyata menurut Kiai Muzammil, personel Bahtsul Masail tidak perlu punya kemampuan analisis yang mendalam, “Hanya perlu bisa mencari rujukan ke kitab.”

Nah ini menarik, tampak ada persoalan di sini dan Mbah Nun sangat peka melihat hal ini. Terjadilah dialog singkat, Mbah Nun bertanya dan sedikt mempertanyakan. Wajar, kita tahu rata-rata kitab itu sudah berusia sangat lama makanya menguning, seberapa dia update pada permasalahan masyarakat? Dan menurut Kiai Muzammil dalam lembaga tersebut semua pertanyaan hanya berhenti manakala ditemukan rujukannya dalam kitab tertentu. “Ada yang pernah menanyakan kalau kitab itu dari kitab yang mana merujuknya?” tanya Mbah Nun dan Kiai Muzammil menjawab tidak ada.

Bagi Kiai Muzammil, itu berbeda dengan di majelis Maiyah di mana orang dilatih berpikir dan menganalisa. “Di Maiyah kita bukan mau bantah. Kita mau rasio, mau logic” ungkap Mbah Nun. Dari awal sudah terjadi sulaman keilmuan ini dan kita menyelam ke dalamnya. Kita tidak perlu mengulang sejarah pra-Islam di mana kitab para imam Yahudi naik pangkat pensakralan sehingga daya pikir ummat kritis dikubur tanpa pernah benar-benar hidup. Butuh waktu berabad-abad hingga akal manusia berevolusi dan kembali dihidayahi tauhid Islam. Bila kita mengulang hal semacam ini, artinya kita hanya berjalan mundur dalam proses evolusi tauhid.

Persoalan kemudian dalam fenomena pensakralan kitab-kitab adalah terjadinya relasi kuasa yang beku dalam hal siapa yang berhak menafsirkan dan memegang otoritas ilmu. Mungkin itu yang disebut oleh Al-Qur`an sebagai ahli kitab. Ahli menderes turats Torah, tapi mapan dengan otorisasi, sehingga tidak siap pada pembongkaran dan kebaruan. Pensakralan juga berkaitan erat dengan mitologisasi sosok, sehingga sosok yang dikeramatkan salah baca doa saja bisa jadi perdebatan tingkat nasional, bukankah itu hal yang wajar andai tidak ada masalah pemitosan? Padahal menurut Mbah Nun, Al-Qur`an turun dengan diperuntukkan bagi seluruh ummat manusia. Bahwa ada perbedaan kualitas dalam menangkap maksud, itu adalah perbedaan dalam resolusi pandang saja. Tapi apakah resolusi adalah segalanya? Pada saatnya di penghujung acara ada dialog antara Mbah Nun dengan Mas Sabrang yang sedikit membuka sibak ini.

Mas Sabrang dipersilahkan oleh Pak Kiai Moderator untuk memberi hantaran. Soal logika yang banyak dibahas oleh Mas Sabrang malam ini. Kata siapa spiritualitas tidak butuh logic? Mas Sabrang memulai dari cara kita berpikir, perlu lebih serius dan presisi kata-kata. Karena kata yang tersusun menjadi kalimat adalah resolusi terendah dalam menangkap dan menyampaikan fenomena dan makna.

“Ada nyata, ada fakta dan ada makna,” begitu Mas Sabrang mulakan. Al-Qur`an bukan buku fakta tapi dia sangat nyata karena dia membuat orang lebih bermakna ketika aktor memaknai. Maka adalah persoalan serius ketika kelas-kelas sosial tertentu dengan berbagai legitimasi memandekkan otentisitas manusia dalam memaknai Al-Qur`an. Di negri seberang memang sedang ada perbincangan yang ramai soal “Kitab suci itu fiksi”. Kata fiksi menjadi masalah. Persoalan ini terjadi menurut Mas Sabrang karena orang mempertentangkan fiksi dan yang nyata.

Buku Cak Nun