Menyulam, Menyelam, dan Mengolah Resolusi Pandang Zaman

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, 17 Februari 2019 (Bagian 2/selesai)

Menurut Mas Sabrang yang perlu dilakukan dalam menanggulangi bencana hoaks adalah membangun atmosfer berpikir logis dan rasional, karena algoritma hoaks sangat rumit. Bisa saja kronologisnya benar secara fakta tapi kesimpulannya abu-abu sehingga jadi hoaks. Contohnya yang diajukan Mas Sabrang adalah bayangkan di sebuah desa biasanya ada slametan, tahun ini tiba-tiba tidak slametan. Itu fakta satu. Ternyata tahun yang sama terjadi bencana, itu fakta juga. Keduanya fakta, tapi bisa dibuat menjadi hoaks kalau kronologi fakta itu disimpulkan menjadi, misalnya, karena tahun ini tidak slametan desanya tertimpa bencana. Itu mungkin baru logika sederhana “algoritma hoaks sudah sedemikian runit sehingga hampir sangat sulit bagi kita mengidentifikasi mana hoaks dan mana yang bukan hoaks”. Maka latihan menyulam logika dan menyelami rasio sendiri sangat perlu. Mungkin begitu kesimpulannya, semoga yang ini bukan konklusi hoaks. Subjektif penulis, pasti. Pembaca harap punya kedaulatan sendiri dalam memaknai.

“Untuk berlogika anda perlu partner, agar bisa menguji kebenaran anda kalau tidak anda hanya onani pikiran,” dan istilah terakhir ini dikembangkan oleh Mbah Nun menjadi “Nyabun intelektual”. Dan meledaklah tawa. Malam mendung tipis, bulan agak bertirai awan. 

Ada yang sempat bertanya, apakah Al-Qur`an itu fakta, nyata atau makna. Di sini terjadi sedikit beda angle antara Mas Sabrang dan Mbah Nun. Wah ternyata langsung terjadi, latihan logika itu. Bagi Mas Sabrang, bukti bahwa Al-Qur`an itu pasti benar karena dilihat dari kualitas resolusinya yang bertahan hingga berabad-abad. Mbah Nun menanyakan, “Sepertinya perlu sesuatu yang lebih dalam dari resolusi, karena sebenarnya ada juga hoaks yang berlangsung sangat tahan lama”.

Para teknisi handphone pasti tahu, bahwa jumlah resolusi bukan segalanya dalam menentukan kualitas gambar. Beberapa kamera handphone yang jumlah resolusinya tidak seberapa, bisa menghasilkan gambar yang lebih jernih dibanding beberapa jenis kamera handphone lain yang menurut data jumlah resolusinya lebih tinggi, kenapa? Karena di balik resolusi, ada ISP (Image Signal Procesor) yang mentransmisikan data cahaya untuk diterjemahkan jadi bahasa digital ke DSP (Digital Signal Procesor). Dua ini ada di dalam prosesor utama, dan dia bekerja dengan hukum algoritma. Semakin rumit logika yang menyusunnya semakin mungkin dia menyulam titik-titik pixel menjadi lebih jernih.

Di Mocopat Syafaat dan di berbagai majelis Maiyah rupanya kita bukan sekadar meng-upgrade resolusi pandang, tapi melatih logika penyusun itu sehingga kualitas penangkapan terhadap cahaya yang jauh lebih presisi dan kalau bisa bahkan mungkin seperti kamera dengan kemampuan AI deep learning. Apapun itu, bagaimanapun analoginya, di sini kita coba menyempurnakan terus. Semua itu disulam menjadi jalinan yang penuh kebersamaan dan sulaman persambungan ilmu, tawa dan keberkahaan.

Buku dan Merchandise