Tidak Offside dalam Fastabiqul Khairat

Catatan Majelis Ilmu Mocopat Syafaat, 17 Februari 2019 (Bagian 1)

Seperti bulan lalu, tanggal 17 kali ini juga sedang berlangsung debat calon presiden di negeri seberang sana. Seperti yang lalu juga, hal semacam itu tidak terasa relevansi dan urgensinya bagi manusia yang datang di TKIT Alhamdulillah, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Tanggal 17 Februari 2019 seperti tanggal 17 setiap bulan manusia-manusia lebih memilih untuk bergembira, belajar, menggali dan mencari bersama dengan seotentik-otentiknya, dengan energi kedaulatan yang selalu diutuhkan lagi dan lagi. Baru saja terdengar ada hal yang mengejutkan di dekat lokasi debat capres. Tapi tampaknya itu bukan urusan yang penting untuk kita pikirkan bagi manusia-manusia yang jiwanya merdeka dari kungkungan negara manapun.

Ternyata tanpa terasa ini sudah menjelang dua puluh tahun majelis Mocopat Syafaat. Mas Helmi membuka pada pukul 21.00 WIB lewat sedikit, setelah deresan ayat suci bersama Mas Ramli dan sholawatan yang dibersamai oleh Mas Islami. Mas Helmi bersama Pak Toto Rahardjo di panggung. Mas Helmi membuka sedikit kenangan mengenai awal-awal terjadinya Majelis Mocopat Syafaat pada era dua puluh tahun lalu. Bahkan Mas Helmi bercerita baru saja bertemu pemuda yang alumni TKIT Alhamdulillah dan sejak TK punya kenangan tentang lokasi bersinarnya majelis ini. Dua puluh tahun dan kemesraan tetap terjalin. Kebalikan di negeri tetangga yang tujuh puluh tahun isinya lebih banyak persaingan, perlombaan, pertandingan dan memuncak perdebatan serta pertengkaran. Tapi kita tidak bersaing dengan yang sana karena tolok ukur menang-kalah kita berbeda.

“Sekarang perdebatan bukan hanya diperlombakan tapi juga dipertontonkan.” Marja’ analisis kritis kita, Pak Toto Rahardjo kemudian memulakan bahasan mengenai pola pikir kompetitif pada manusia modern. Pak Toto adalah guru besar yang penuh gugatan dan petualangan analisis yang tidak sekadar berkutat pada ide. Beliau selalu memulai dari hal yang konkret dan penyataan Pak Toto ini memang diakui karena sedang ada fenomena aneh bernama debat capres. Tapi bukan itu saja, sebagai praktisi pendidikan, Pak Toto melihat bahwa pola pikir saling bersaing itu telah ditanamkan sejak dini di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan.

Sinau Bareng atau majelis-majelis Maiyah memang seperti laboratorium. Laboratorium di mana semua yang datang ikut terlibat dalam berekspresi, bereksperimen dan menemukan hikmah-hikmah ilmu bersama. Pak Toto melempar pertanyaan berkenaan dengan persaingan dalam hidup dan apakah ada perintah untuk bersaing dalam Al-Qur`an. Mencuatlah ayat “fastabiqul khoirot” dan para sedulur-sedulur JM ternyata punya berbagai macam jenis elaborasi dari yang kejawen sampai yang akademisi pesantren hingga filsafati.

Pak Toto sendiri walau beliau berada di panggung tidak mengambil posisi sebagai sosok yang harus dianut bahkan ketika seorang jamaah menjelaskan kata “fastabiq” dengan bekal ilmu nahwu-shorof Pak Toto merasa sebagai ustadz yang ngaji di panggung.

Dalam sesi pembukaan saja, yang dibimbing bersama oleh Mas Helmi dan Pak Toto, kita kemudian telah menemukan berbagai macam pendapat, menyempurnakan pemahaman yang lama serta melengkapi yang belum lengkap. Kita diajak menemukan bahwa ternyata selama ini kita sering bias dalam meresapi kata-kata, apalagi yang termaktub dalam kitab suci. Nanti pada sesi selanjutnya Mas Sabrang akan melengkapi dengan bahasan tentang rasional dan logika. “Kita tidak membantah siapa-siapa, tapi Maiyah mencari yang rasional, yang logic.” Sempat juga Mbah Nun mengungkapkan semacam itu.

Tanpa sadar ternyata kita sering mengalami offside dalam memaknai banyak hal. Ketika telah di panggung selepas lewat pukuk 23.00 WIB, Mbah Nun sampaikan bahwa kata kunci dalam ayat mengenai berlomba dalam kebaikan adalah pada kebaikannya.

Bias-bias kita dalam memahami fenomena teks bisa berasal dari berbagai faktor. Itu dijelaskan pada babak selanjutnya yang dimoderatori oleh Kiai Muzammil, ini bukan babak perlombaan dan persaingan. Tapi babak kemesraan. Salah satu bias itu akibat kita juga lebih banyak meresapi teks dengan jalur makelar.

“Sekarang kita dibuat membaca Al-Qur`an lewat agen-agen. Orang tidak boleh otentik padahal ayatnya untuk semua manusia.” Mbah Nun sempat ungkapkan semacam itu, yang akan dituangkan dalam reportase selanjutnya.

Buku Cak Nun