Memahami Manajemen Pemimpin Rabbani

Liputan Majelis Maiyah Padhangmbulan, 20 Januari 2019

Setelah tadarus yang dibaca Bapak Abdullah Qayim dilanjutkan Wirid Padhangmbulan dan Hasbunallah, pengajian Padhangmbulan dibuka oleh Mbah Nun yang memberikan pengantar.

Cak Fuad, Cak Mif, Cak Nas, Cak Nang, Cak Yus, dan Kyai Muzammil telah pinarak di hadapan jamaah. Ada juga mas Muhammad Masyhudi, adik almarhum Mas Zainul. Ada apa ini keluarga Mentoro hadir nyaris lengkap?

Hal itu berkaitan dengan tema pengajian malam ini, yakni Pemimpin Rabbani. Ingatan kita langsung tertuju pada surat An Naas, di mana pada ayat pertama, kedua, dan ketiga Allah menggunakan tiga sebutan yang berbeda. Rabb, Malik dan Ilah adalah terminologi cara berpikir dan cara bersikap.

Lantas, apa kaitan surat An Naas dengan tema Pemimpin Rabbani? Mbah Nun menyampaikan pengantar: “Berpikir dan bersikaplah secara utuh kepada manusia atau ketika memahami apa saja.”

Utuh atau jangkep disimulasikan Mbah Nun melalu cara memandang hendaknya tidak menggunakan mata fisik saja. Mata rohani dan mata batin hendaknya digunakan untuk melihat sesuatu yang tidak tampak oleh mata fisik.

Penampilan Nanik Sawitri, muslimah maestro tari, di Mocopat Syafaat beberapa waktu lalu dijadikan Mbah Nun sebagai wasilah untuk mengantarkan pemahaman tentang keutuhan cara memandang.

Juga kehadiran keluarga Mbah Nun malam ini akan bersama-sama memaparkan akar sejarah terkait bagaimana Ayah Muhammad dan Ibu Halimah mewariskan pola asuh yang aktual hingga sekarang.

Bukan hanya terkait bagaimana mengelola lembaga pendidikan, melainkan bagaimana keluarga Mentoro sejak zaman Ayah Muhammad melayani masyarakat dengan melibatkan potensi warga tanpa dihalangi oleh sekat-sekat ideologi, partai atau ormas.

Ibu Halimah adalah pengurus Aisyiah, namun Beliau juga penggerak jamaah Yasinan, Barzanji, Dibaan di desa Mentoro.

Pengalaman sejarah itu akan dituturkan langsung oleh Cak Mif, Cak Nas, Cak Nang, Cak Yus.

Tentu kita bisa mengasosiasikan tema perbincangan ini pada situasi kekinian ketika atmosfer dialog publik dipenuhi oleh hiruk-pikuk pertanyaan: “Kamu pilih nomor berapa?”

Dan ternyata menjatuhkan pilihan tidak sesederhana itu. Kita telah tiba pada situasi yang menurut Cak Nun: “Mosok menerapkan kebenaran hasilnya kebencian.”

Untuk itu, malam ini Cak Fuad berbagi ilmu, cara pandang, sikap pandang, hingga panduan ringkas tapi padat dan cespleng bagaimana menentukan sikap di tengah situasi yang mengkooptasi kita.

Cak Fuad mengurai akar ijtihad karena memilih presiden dan wakilnya perlu dipandu oleh cara berijtihad yang benar. Akar tersebut adalah niat atau motivasi dan ilmu.

Yang kelak akan ditanya Allah adalah bagaimana niat kita memilih pemimpin serta bagaimana ilmu yang kita gunakan untuk melandasi pilihan tersebut, demikian Cak Fuad menekankan pentingnya niat dan ilmu.

Terkait dengan pemimpin Cak Fuad merujuk pada Al-Quran surat Al-Qashash 26, An-Nisa 58, Ali Imron 79 dan surat Al-Fatihah.

Menyimak cerita Mbah Nun, Cak Mif dan Cak Nas, jargon yang kini tengah populer: toleransi, pluralisme, multi kulturalisme, bukan barang baru di Mentoro bahkan sejak orang belum mengenal istilah tersebut.

Lantas, bagaimana detail pemaparan Cak Fuad menjelaskan pertimbangan ijtihad yang bisa kita terapkan dalam hidup sehari-hari? Simak terus laporan pengajian Padhangmbulan malam ini.