Mata Air Padhangmbulan

Menjelang tahun reformasi, 1998, jamaah pengajian Padhangmbulan membludak luar biasa. Berduyun-duyun orang, dari berbagai strata dan kalangan, status dan golongan, madzhab dan aliran, tumplek blek di Mentoro.

Pengendara motor, mobil, hingga jamaah yang dimot truk mengular panjang mulai rel sepur desa Sebani. Jalan belum diaspal. Deru debu beterbangan. Semuanya menuju desa Mentoro.

Saya ngumani fenomena itu karena setiap bulan menyempatkan pulang dari Malang ke Jombang. Dan benar saja–jamaah mencapai ribuan. Belum lagi antusiasme masyarakat menyaksikan public figure yang hadir di Padhangmbulan.

Penyeimbang Informasi

Jamaah didorong oleh rasa penasaran dan ingin tahu situasi politik aktual. Mbah Nun dianggap orang yang mengetahui situasi “di balik layar” perpolitikan waktu itu. Informasi yang tidak diberitakan oleh media mainstream–rezim Orde Baru mengontrol arus informasi pemberitaan. Validitas informasi dari Mbah Nun dinilai akurat, jujur dan bebas dari pamrih kepentingan atau kekuasaan.

Tidak berlebihan, menjelang Reformasi meletus, Padhangmbulan menjadi penyeimbang informasi ketika hegemoni kekuasaan menjadi agen tunggal yang memproduksi narasi informasi.

Akurasi informasi dan makna peristiwa yang ditampung Padhangmbulan, diperdalam maknanya, dihikmahi nilainya, diselami samudera kesadarannya oleh Mbah Fuad dan Mbah Nun melalui tafsir tekstual dan kontekstual dari Al-Quran.

Ringkasnya, di tengah gonjang-ganjing politik menjelang dan usai Reformasi, Padhangmbulan tegak (qiyam) dengan kuda-kudanya. Tidak miring, tidak condong, tidak pula terkooptasi, apalagi terpolarisasi pada salah satu kutub kepentingan politik.

Bagaimana dengan saat ini?

Padhangmbulan, saya yakin dan kita semua tahu, tetap tegak bermartabat, tidak menganggap dirinya besar sembari mengecilkan yang lain. Padhangmbulan tidak membesarkan Padhangmbulan, ungkap Mbah Nun.

Padhangmbulan tetap menjadi dirinya yang apa adanya, di tengah padatan sejarah yang menghimpun diri karena pamrih ada apanya. Sedangkan kita telah berlatih dan dilatih selama 26 tahun untuk tidak mencari udang di balik batu.

Pengajian di desa Mentoro itu adalah pengajian di pelosok desa, dengan nuansa perdesaan yang khas, tetap mbembet (kata Mbah Nun), serta bagi sebagian orang tidak terkesan intelektual.

Rezim Informasi

Hingga perjalanan tahun ke-26 ini, kita menjumpai Padhangmbulan adalah mata air bagi sesama hamba Allah. Ibunda dari simpul-simpul Maiyah Nusantara maupun dunia. Hanya itu? Tentu saja tidak. Padhangmbulan lebih dari sekadar pengajian rutin.

Kita cermati saja identitas kelompok makin memadat. Setiap kelompok mengibarkan bendera tinggi-tinggi. Hal itu makin diperparah oleh gejala kamar gema (echo cambers) dan bias konfirmasi (confirmation bias).

Padhangmbulan berada di tengah cuaca di mana kebenaran satu kelompok diraih dengan cara menyalahkan kelompok lain. Bahasa kerennya, posttruth, politik pascakebenaran. Padahal, ia tidak lebih sekadar benere dhewe. Masih ingat terminologi benere dhewe, benere wong akeh, bener kang sejati?

Belum lagi pasukan anonymous, buzzer, kaum pendengung, atau apapun namanya–kekuatan tidak kasat mata yang menjadi penyangga rezim informasi.

Padahal, pekerjaan para pendengung, tidak lain, adalah nabok nyilih tangan. Siapa yang ditabok? Kelompok sebelah, rombongan oposisi, jamaah penentang, paguyuban makar. Yang semua makna etimologi, terminologi dan epistemologinya diberangkatkan dari narasi benere dhewe.

Rezim informasi menggiring konsumen masuk ke dalam kotak-kotak, sekat-sekat, kurungan-kurungan, tembok-tembok. Ironisnya, garis pemisah itu hanya dua: “kami” dan “mereka”.

Dunia pun ribut dan bising oleh teriakan, makian, klaim, narasi yang kian mempertegas bahwa kita tengah berada di peradaban dholuman jahula.

Tidak heran, toleransi yang rendah di Indonesia menjadi makanan empuk bagi riset internasional. Misalnya, Sosial Progress Index melaporkan, tahun 2017 angka toleransi di Indonesia berada di kategori rendah: 35,47 dari 100.

Sebagian ilmuwan bahkan berpendapat, narasi ideologi agama menjadi katalisator ampuh bagi terciptanya gesekan sosial, intoleransi hingga aksi terorisme. Benarkah demikian?

Mereguk Mata Air

Wacana-wacana seperti ini menjadi salah satu mozaik pembahasan di Padhangmbulan, juga di lingkar simpul lainnya. Formula berpikir seperti, waspada terhadap denotasi dan konotasi kata, qiyam dan indzar dari Padhangmbulan, talbisul haqqa bil baathil, talbis, silmi, dan sebagainya–mengisi perjalanan selama 26 tahun.

Narasi agama di Padhangmbulan, menurut Mbah Fuad, tidak hanya berkutat pada pembahasan syariat yang baku. Bukan sekadar tanya jawab soal fikih, meski hal ini tidak berarti abai terhadap aturan syariat. Lebih dari itu, Mbah Fuad menekankan tauhid dan akhlak sebagai pemandu perilaku individual maupun komunal.

Bahkan, agama yang menawarkan eskatologi, penyelamatan terhadap siksa yang pedih serta hidup kekal abadi (khalidina fiha abada) dimaknai lebih mendalam melalui perspektif yang baru dan berbeda. Mbah Nun menawarkan keseimbangan manajemen dunia akhirat yang aplikatif tanpa kehilangan akar makna filosofis.

Demikianlah secuil potret dinamika rohani, intelektual, sosial, kultural berlangsung di Padhangmbulan. Betapa luas dan dalam lanskap cakrawalanya, yang hari-hari ini kita tasyakuri bersama.

Matursembah nuwun Mbah Fuad, Mbah Nun serta keluarga besar Bani Muhammad Mentoro atas jariyah ini. Kami, anak cucu, masih terbata-bata mengeja alif ba ta muatan ilmu melalui pintu Majelis Masyarakat Maiyah Padhangmbulan.

Kami yang dholuman jahula sedang dan akan mereguk mata air Padhangmbulan, demi menuntaskan dahaga hutang cinta kami kepada Allah dan Rasulullah.[]

Jagalan, Oktober 2019

Buku Cak Nun