26 Tahun Padhangmbulan, Menturo Sumobito Jombang, 13 Oktober 2019

Belajar Menjadi Manusia Sorogan dari Gamelan KiaiKanjeng

Langit Menturo begitu cerah, bulan purnama menyambut jamaah Padhangmbulan yang datang dari berbagai kota. Semalam, “Ibu” Maiyah mensyukuri perjalanan 26 tahun. Forum majelis ilmu yang telah menjadi wahana komunikasi sosial, yang telah merangkum hampir seluruh dimensi nilai actual yang dialami oleh para pelaku Maiyah.

Padhangmbulan awalnya hanya sebuah forum temu kangen keluarga dan sanak saudara Cak Nun. Pada awal 90’an, Cak Nun adalah sebuah nama yang fenomenal di Indonesia. Padatnya jadwal acara yang mengundang Cak Nun pada akhirnya memunculkan inisiatif yang digagas oleh Cak Dil, adik Cak Nun, untuk membikin sebuah forum agar Cak Nun setidaknya dalam satu bulan sekali bisa pulang ke Menturo. Forum yang awalnya berlangsung secara getol tular, informasi hanya dikabarkan dari mulut ke mulut, ternyata diminati banyak orang. Dari yang awalnya hanya 50-60 orang yang datang, berganti bulan berganti tahun, jamaah yang datang mencapai ribuan, bahkan puluhan ribu.

Pada malam bulan purnama seakan menjadi malam hari yang membahagiakan di Menturo. Sejak sore hari, para pedagang sudah mulai menggelar lapak dagangannya. Mulai dari tahu solet, penthol, es tebu, kacang rebus, hingga peci berjejeran di pinngir jalan desa Menturo. Para pedagang menyambut kdatangan jamaah Padhangmbulan, mereka menjemput rejeki di malam purnama.

Begitu juga tadi malam, pada perayaan tasyakuran 26 tahun Padhangmbulan, sejak siang hari bahkan jamaah yang dari luar kota Jombang sudah berdatangan. Alat musik KiaiKanjeng sudah tertata rapi sejak sore hari. Pada malam harinya, prosesi tasyakuran pun dilaksanakan. Sederhana saja, hanya potong tumpeng, secara simbolis diserahkan oleh penggiat Padhangmbulan kepada Cak Fuad, Cak Mif dan Cak Nun.

Seperti halnya forum majelis ilmu Maiyah pada umumnya, Padhangmbulan tadi malam juga mengulas berbagai ilmu dari segala sudut pandang. Cak Fuad mengawali pembahasan diskusi melalui pijakan Tajuk yang dirilis secara khusus untuk merayakan 26 tahun Padhangmbulan; Istiqomah Ber-Maiyah.

Yang istimewa dari perayaan 26 Tahun Padhangmbulan semalam adalah workshop tentang seluk-beluk musikalitas KiaiKanjeng. Mas Jijit, Mas Ari Blothong, Mas Yoyok, Mas Patub, Pak Joko Kamto hingga Pak Nevi berbagi khasanah ilmu musikalitas KiaiKanjeng tadi malam. Mas Ari Blothong yang memiliki latar belakang pendidikan musik menjabarkan dasar-dasar nada. Kemudian beriringan Mas Yoyok, Mas Jijit dan Mas Patub menjelaskan perbedaan antara nada diatonis dan pentatonis. Dan jamaah pun lebih banyak yang bengong dan mengangguk, seperti mahasiswa yang sedang diajari dosen musik, dan mereka sepertinya juga  memahami apa yang dijabarkan oleh personel KiaiKanjeng di atas panggung. Ah, paham atau tidak urusan belakangan, yang penting mereka bergembira.

Ada satu hal yang menarik dari yang dijabarkan oleh Pak Nevi tadi malam. Konsep Sorogan dalam Gamelan KiaiKanjeng yang merupakan salah satu produk kejeniusan Pak Nevi menjadikan Gamelan KiaiKanjeng bisa singkron dengan semua genre musik. Jangan tanya bagaimana Pak Nevi merumuskan konsep sorogan itu. Menurut Pak Nevi, konsep sorogan itu lahir berdasarkan intuisi musik yang berlandaskan roso. Pak Nevi menyebutnya Ngeng. Konsep sorogan ini secara mudahnya adalah, dalam Saron dan Demung Gamelan KiaiKanjeng ada bilah yang diganti dengan bilah yang menghasilkan nada lain. Konsep inilah yang membuat Gamelan KiaiKanjeng bisa masuk di banyak genre musik.

Buku Cak Nun