26 Tahun Padhangmbulan, Menturo Sumobito Jombang, 13 Oktober 2019

Semua Diberi Kursi, Agar Potensi Dholuman Jahula Perlahan Terkurangi

Di zaman yang semakin tidak karu-karuan ini, ibu Padhangmbulan mengajak jamaah untuk sama-sama bermuhasabah diri. Di usia yang ke-26 tahun malam tadi, jamaah diajak untuk kembali membaca diri. Apakah tanpa kita sadari, selama ini kita justru diam-diam ikut berpartisipasi menambah kekeruhan zaman, disebabkan ke-banget-annya kebodohan dan kedzaliman yang bersemayam? Ataukah bagaimana?

Menyibak Potensi Dholuman Jahula

Cak Fuad mengajak jamaah untuk memerhatikan firman Tuhan QS. Al-Ahzab ayat 72. “Sesungguhnya Kami (Allah) sudah menawarkan amanat ini kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Tetapi mereka menolak (tidak mau) memanggul amanah. Karena mereka takut tidak bisa menjalankan amanah. Kemudian amanah itu diambil oleh manusia. Sesungguhnya mereka (manusia) adalah orang-orang yang sangat dzalim dan sangat bodoh.”

Amanah yang dimaksud pada ayat ini adalah amanah untuk taat kepada Allah dan menjalankan semua kewajiban-kewajibannya. Berdasarkan kemampuannya menjalankan amanah, menurut Cak Fuad, manusia dapat dikategorikan menjadi tiga golongan. Kaum munafiq, musyrik, dan mukmin.

Ketika kita menerima amanah dan menyanggupinya, akan tetapi diam-diam kita sengaja menelantarkannya, ada baiknya kita waspada terhadap diri kita. Jangan-jangan kita termasuk bagian dari kaum munafiq. Atau, ketika kita memang sengaja mengingkari amanah yang diberikan Tuhan, menolak untuk taat dan menjalankan semua kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan Tuhan, saat itu barangkali kita telah mulai memasuki pintu gerbang kemusyrikan. Yang selalu disemogakan adalah kita menjadi bagian dari orang-orang yang mengimani amanah yang diberikan Tuhan, dan terus berusaha menjalankannya dengan sebaik-baiknya kemampuan. Adalah orang-orang yang masuk ke dalam golongan orang-orang beriman, yang terus belajar memperbaiki taat dengan sebaik-baiknya ketaatan.

Setiap manusia memang berpotensi untuk menjadi dholuman jahula. “Kecuali orang-orang yang memperoleh petunjuk dari Allah.” Sebelum berbicara lebih jauh, Cak Fuad mengajak jamaah untuk menelisik makna dholuman jahula itu sendiri. Dholuman adalah bentuk superlatif dari kata dhalim. Pun jahula yang merupakan bentuk superlatif dari jahil. Dholuman jahula berarti orang-orang yang sangat dzalim dan sangat bodoh.

Dzalim sendiri merupakan lawan kata dari adil. Kalau adil itu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, berarti dzalim dapat diartikan menempatkan segala sesuatu tidak pada tempatnya. Secara garis besar, dzalim dapat terjadi antara kita dengan Tuhan, artinya dzalim kepada Tuhan, bisa juga dzalim kepada sesama manusia, atau dzalim kepada diri sendiri. Ya, di segala ranah, ada potensi munculnya kedzaliman dari diri yang harus kita waspadai. Entah itu dzalim kepada Tuhan, sesama manusia, ataupun kepada diri sendiri.

Sedang perihal ke-jahiliyah-an, tak cukup sekali saat Maiyahan kita diingatkan dengan tipe-tipe orang. Termasuk tadi malam, Mbah Nun dan Cak Fuad kembali mengajak jamaah bercermin akan apa yang kita ketahui. Termasuk yang mana kah, kita? Orang yang tahu apa yang diketahui, tahu apa yang tidak diketahui, tidak tahu apa yang diketahui, ataukah tidak tahu apa yang tidak diketahui? Eh, tapi kalau zaman sekarang ada tambahan satu golongan lagi. “Tidak tahu, tapi tetap ngeyel kalau dia tahu. Ini yang bahaya,” Canda Cak Fuad yang disambut gelak tawa jamaah. Mau dibilang becanda, tapi kok kalau dipikir-pikir ada benarnya juga, yaa.

Bukan Musik Dominasi

Untuk mengurangi potensi dholuman jahula dalam diri, jamaah diajak untuk belajar dari musik KiaiKanjeng. Kenapa kok mesti belajar kepada musik KiaiKanjeng? Setidaknya kita belajar berlaku adil dari seni yang mempertontonkan keindahan. Bukankah keindahan adalah puncak dari keadilan? Ketika sesuatu berada pada tempat yang pas, waktu yang tepat, kondisi dan situasi yang pas, apa namanya kalau bukan keindahan yang akan dipancarkan?

Jamaah perlahan diajak untuk memasuki dapur musikalitas KiaiKanjeng. Dan sangat terbuka lebar bagi jamaah yang berkecimpung dalam bidang musik, untuk bertanya dan menggali.

Dapur dipertunjukkan agar kita sama-sama tahu, bahwa segala yang indah itu bukanlah sesuatu yang ujug-ujug ada begitu saja. Ada proses ‘pemasakan’ di dalamnya. Syukur-syukur kita bisa sedikit belajar ‘memasak’ juga, mengelola apa yang ada di sekitar kita biar bisa menjadi lebih indah juga.

Di dalam dunia musik, setidaknya kita akan mengenal istilah ritme, bunyi, melodi, harmoni. Bahwa setiap alat musik akan mengeluarkan bunyi. Kemudian, jika bunyi-bunyi tersebut dimainkan secara teratur akan menghasilkan nada. Permainan tinggi rendah nada ini nanti akan menghasilkan melodi. Dari sini, nantinya akan bisa menghasilkan lagu-lagu ataupun mantra.

Yang perlu digarisbawahi, keindahan musik KiaiKanjeng bukanlah muara tujuan. Ini hanyalah bagian dari wasilah untuk menjembatani komunikasi dengan masyarakat. Dan yang tidak kalah penting lagi, menurut Pak Nevi, dalam memainkan seni kita harus mempunyai kepekaan rasa yang lebih tinggi.

Pak Ari turut menambahkan, bahwa pada dasarnya, hasil karya musik itu ada dua macam. Ada musik modern yang berbau industri, dan ada musik tradisional atau klasik. Sementara, KiaiKanjeng meliputi keduanya, sehingga dapat dikatakan bahwa KiaiKanjeng bersifat global. Gamelan KiaiKanjeng mempunyai susunan nada yang khas, yang mengglobal untuk merespons segala khasanah musik.

“Seluruh dunia ini hanya dominasi.” Mbah Nun menyatakan bahwa yang berlaku di dunia ini hanyalah dominasi. Fakultatif. Yang satu menidakkan yang lain. Karenanya, di sini kita belajar universitas. Kita belajar menerima semua. Dan KiaiKanjeng telah mencontohkan itu. “KiaiKanjeng memberi contoh. Semua diberi kursi.”

Workshop KiaiKanjeng malam itu tidak hanya disampaikan melalui teori-teori saja, melainkan langsung ditunjukkan praktiknya juga. Seperti dalam salah satu penjelasan mengenai susunan diatonis murni, Mbah Nun meminta Pak Dhe-Pak Dhe KiaiKanjeng untuk memberikan contoh langsung musik yang menggunakan susunan nada diatonis murni. Dan itu berulang kali, agar jamaah lebih memahami dan mampu menangkap gradasi-gradasi dari satu musik dengan musik lainnya lagi.

Bagaimanapun, keberhasilan KiaiKanjeng tidak terlepas dari campur tangan dari para Pak Dhe-Pak Dhe KiaiKanjeng, terlebih Pak Nevi Budianto. “Keberhasilan KiaiKanjeng itu karena kecerdasan Pak Nevi yang katanya tidak serius itu tadi.” Begitu tutur Pak Jijit malam itu. Semoga kita mampu sedikit demi sedikit belajar meneladani beliau-beliau, bahwa di balik indahnya pelayanan melalui seni yang disuguhkan, ada keseriusan dan kesungguhan proses yang diupayakan yang tak semua orang mampu dan mau bersusah payah mengijtihadi dengan mengerahkan pemikiran dan kecerdasan.

Buku Cak Nun