Daur-II • 132

Tauhid, Wahid, Ahad

“Memang terasa ganjil: kita meyakini karena tidak mengerti. Kita beriman karena Allah jauh di luar jangkauan”, Markesot melanjutkan penjelasannya kepada Sapron dan semuanya, “mungkin rumus gampangnya adalah: kalau tentang Allah, tinggal dibalik saja logikanya, meskipun bisa tidak selalu demikian”.

“Dibalik bagaimana, Cak?”, Brakodin mengejar.

“Misalnya soal ganjil dan genap tadi. Genapnya Allah justru karena Ia Maha Ganjil. Ganjilnya Allah itulah genapnya atau sempurnanya. Kalau selain Allah, supaya genap perlu memecah diri menuju genap. Dari satu ke dua. Kemudian melewati tiga lagi, genap ganjil genap ganjil lagi. Padahal kelak di ujung paran perjalanan manusia dan kehidupan, genapnya menyatu menjadi atau dalam ganjil”

“Kita ini bergenap-genap, bermilyar-milyar manusia hidup bersama, berjuang untuk menyatu dengan Maha Sangkan Kehidupan. Ketika penyatuan itu terjadi, yang berlangsung bukan bersama lagi, bahkan bukan menyatu lagi, melainkan Satu. Kalau bersama harus tidak satu. Kalau menyatu berarti belum satu. Tapi kalau Satu, sudah sirna kebersamaan, sudah tiada kegenapan, tinggal Ahad”.

Markesot mengurai perjalanan dan perjuangan Tauhid, bisa ber-Tauhid bisa men-Tauhid, tergantung konteks dan posisinya. Dalam Bahasa Negara Indonesia itu disebut Penyatuan. Sampai tercapai Wahid, yakni Persatuan. Akhirnya akan Ahad, kita meng-Ahad. Tinggal Satu Subjek Tunggal. Yang selain Allah sirna menjadi Ahad.

Katakanlah Ia adalah Allah yang Ahad. Ia tempat bergantung[1] (Al-Ikhlas: 1-2). Baiklah semua orang mengasosiasikan bergantung kepada Allah hal nafkah penghidupan, rezeki, dan karier. Tak apa. Tapi ada hakiki wujud dinamis yang lebih inti: Ahad menciptakan gantungan Wahid, para makhluk menelusuri dan mengarungi Tauhid di rentang Wahid, menuju Ahad. Sangkannya Ahad, parannya Ahad, pusat gantungannya Ahad”.