Daur-II • 133

Qorunumania

Sebenarnya, itulah “kesalahan” utama Markesot dan komunitas Patangpuluhan. Dulu, dan sampai sekarang, di manapun sebaran atau metamorfosisnya.

Mereka ini segolongan manusia yang mungkin saja salah tempat atau salah zaman. Entah karena takdir Allah atau karena proses alamiah kecenderungan mereka sendiri, yang terlalu serius memikirkan nilai-nilai, terutama yang berasal dari Tuhan.

Padahal mereka hidup di tengah masyarakat yang fokus kebudayaannya adalah berhala. Masyarakat yang tujuan pembangunannya adalah kemewahan harta benda. Masyarakat yang merasa bahwa sukses peradabannya adalah keberhasilan keduniawian yang berbinar-binar dan gegap gempita.

Mereka bergembira ria dengan kehidupan dunia, padahal dibanding kehidupan akherat, kehidupan dunia hanyalah secuil kesenangan belaka”. [1] (Ar-Ro’d: 26). Tak kurang Allah mengulang-ulang menegaskan: “Apakah kamu puas dengan kehidupan dunia ini sebagai ganti dari kehidupan akhirat? Padahal kehidupan dunia amat sepele dibanding kehidupan akhirat[2] (At-Taubah: 38).

Markesot tertawa. “Kalau digali sampai ke lubuk hati kebanyakan orang, sesungguhnya idola mereka adalah Qorun. Idaman utama hidup mereka adalah harta Qorun”. Markesot menertawakan kenyataan itu, meskipun ia dan teman-temannya juga sadar bahwa justru mereka yang ditertawakan oleh kebanyakan masyarakat.

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: ‘Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar’[3] (Al-Qashash: 79). Itulah “hawa” di rumah keluarga-keluarga, di kantor-kantor usaha, di gedung-gedung industri, di bangunan-bangunan pemerintahan nasional regional lokal, di dalam Sidang Kabinet, rapat Menteri, bahkan bisa juga di balik halaqah para Ulama.