Daur-II • 131

Yakin Karena Tak Mengerti

Terkadang penjelasan Markesot terdengar seperti dibikin-bikin, artifisial, atau bahkan bisa dituduh “othak athik gathuk”. Segala sesuatu disambung-sambung, disentuh-sentuhkan, dipertemukan, dibikinkan simpul-simpul sehingga tampak menjadi satu. Padahal belum tentu benar demikian.

Tapi teman-temannya terbuntu setiap kali mencoba membantah atau mempertanyakannya. Markesot selalu pakai tameng: “Jangan menagih saya hal kebenaran, karena kebenaran milik Allah, hanya ada di sisi-Nya atau di genggaman-Nya. Kita dan saya hanya diciprati sangat sedikit. Kewajiban saya dan kita hanyalah setia berproses mencarinya, bukan harus mencapainya”.

Dulu Sapron pernah bertanya tentang pernyataan Allah: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu[1] (Al-Baqarah: 147). “Bagaimana itu”, kata Sapron, “di satu pihak kita tidak boleh ragu pada kebenaran Allah, di lain pihak kita tidak pernah benar-benar mengerti atas kebenaran itu. Bagaimana kita tidak ragu terhadap sesuatu yang kita tidak sungguh-sungguh mengerti?”

Markesot tertawa mendengar kata-kata Sapron itu. “Justru karena kita tidak pernah benar-benar mengerti maka kita butuh meyakini. Dan untuk meyakini itu kita hanya perlu satu langkah, tidak perlu proses panjang, karena sesuatu yang perlu kita yakini berasal dan berada di tangan Allah. Kalau pada yang bukan Allah, mungkin kita tak akan pernah bisa meyakini”

Sapron membantah. “Kenapa terhadap yang kita tidak mengerti kita harus meyakini?”

“Justru karena tidak mengerti, solusi satu-satunya adalah mempercayai atau meyakini. Kalau kita mengerti, tak perlu meyakini, cukup mengerti”, jawab Markesot, “itulah sebabnya faktor utama dalam Agama adalah iman, sebab terlalu banyak yang tidak kita mengerti dari kehidupan yang kita jalani ini”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra