Daur-II • 192

Tarekat Kahfiyah

“Ainul Hurri justru seakan-akan disembunyikan oleh Tuhan dalam kesempitan Gua. Di luar Gua yang sangat luas, justru terbit kesempitan-kesempitan dan kedangkalan-kedangkalan. Di dalam Gua yang sempit dan remang, justru disediakan oleh Allah keluasan, dan para penghuni Gua dianugerahi Mata Kemerdekaan”, Junit menyimpulkan.

Pakde Brakodin tiba-tiba menanggapi. “Pasti saya tidak ikut GR terhadap istilah Ashabul Markesot serta berbagai subjektivitas pandangan kita terhadap Gua Kahfi dan Surat Al-Kahfi. Tetapi saya bisa kemukakan fakta bahwa Surat Al-Kahfi memang adalah salah satu favorit Mbah kalian Markesot…”

“Apakah ada Surat atau ayat di Al-Qur`an yang lebih penting atau lebih hebat dibanding lainnya sehingga Mbah Sot punya favorit Surat tertentu?”, Seger bertanya.

“Sejauh yang saya pernah dengar dari Mbah Sot”, jawab Pakde Brakodin, “semua sama pentingnya dan sama bermaknanya. Bahwa ada suatu titik atau wilayah di tengah-tengah Al-Qur`an yang seseorang merasakan secara khusus, itu dinamika proses pada setiap penghayat yang berbeda-beda. Setiap orang memiliki pertemuan gelombangnya masing-masing dengan firman Allah yang mana, bersesuaian dengan tahap-tahap psikologis, pencarian ilmu dan pengalaman hidupnya. Itu wajar, sebab Al-Qur`an begitu agungnya, sedang kita begini kerdilnya…”

“Sarujuk, Pakde”, Seger menjawab.

“Ketika Mbah Sot mendengar ada sejumlah orang yang bertanya apa aliran Tarekat Markesot, terkadang Mbah Sot entah serius entah guyon menjawab sambil tertawa kecil: Tarekat Kahfiyah. Kemudian dengan masih tertawa Mbah Sot mengutip: ‘Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal dalam gua itu’.[1] (Al-Kahfi: 12).

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra