Daur-II • 191

Ashabul Markesot

Anak-anak muda itu, Junit Toling Jitul Seger, tersadar bahwa awalnya tadi yang mereka coba gali dari para Pakde Paklik adalah “Siapa Mbah Markesot”. Latar belakang nasabnya, remang-remang masa silamnya, persisnya posisi sosial yang dijalaninya, termasuk kehidupan pribadinya, sejarah masa kecilnya, termasuk kehidupan pribadinya. Apa saja, yang memungkinkan anak-anak itu memiliki landasan dan perspektif untuk lebih memahami, dan dengan demikian lebih tepat pula mengambil pelajaran darinya.

Tetapi baru sampai satu pertanyaan awal tentang Mbah Sot, penelitian mereka berkembang ke berbagai ranah dan wilayah. Dianggap melenceng juga bisa. Dianggap seharusnya dialog itu memang begitu, masuk akal juga. Dan yang pasti belok ke manapun, melebar ke seluas tema apapun, terbukti tidak ada yang mereka biarkan tidak bermanfaat. Kepastian yang juga mereka alami adalah fakta dialog bahwa setiap langkah pikiran hati mereka selalu secara naluriah maupun karena keperluan rasional: terbimbing untuk menemukan Al-Qur`an padanya.

“Kita sudah berniat dan menata langkah kepada Pakde Paklik untuk menguak cakrawala pengetahuan tentang Mbah Sot”, kata Seger, “tetapi rasanya kita malah terperosok masuk ke dalam Gua…”

“Kita jadi Ashabul Markesot…”, Toling tertawa.

“Membuka keluasan, terkurung ke dalam kesempitan”, Jitul menambahkan.

“Tapi di dalam kesempitan itu malah terbentang keluasan yang tidak terdapat di luar Gua yang sekan-akan sangat luas”, Junit melengkapi, “…sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu”. [1] (Al-Kahfi: 17).

Toling tertawa lagi. “Menurut saya nggak apa-apa kita GR saja seolah-olah ayat itu untuk dan tentang kita. Sebab kalau kita hidup ini tidak untuk menemukan diri kita di kebun ilmu Al-Qur`an, lantas disuruh mencari diri kita di mana?”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra