Daur-II • 193

Seolah Allah Tak Tahu

“Maksudnya bagaimana kok Mbah Sot mengutip firman sambil tertawa?”, Toling penasaran.

“Kalau orang tertawa mestinya ya karena bergembira atau bersyukur”, jawab Pakde Brakodin, “kalau menertawakan, itu baru masalah…”

“Kenapa Mbah Sot tertawa?”

“Saya menyimpan sejumlah catatan lepas Mbah Sot. Semacam coretan-coretan saja, tapi terkadang seakan-akan itu puisi. Mbah Sot seperti tidak sengaja melatih kami berpikir silang dan lipatan: melihat suara, mendengarkan batu, kosong penuh warna, kelemahan menyimpan kekuatan, kegelapan dalam cahaya, sinar memancar dari kegelapan…macam-macam seperti itu. Untuk mencicipi betapa kaya dan agung sesungguhnya ciptaan Allah”

Pakde Brakodin bercerita tentang ayat yang dikutip Mbah Sot sambil tertawa itu, yakni “Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah…[1] (Al-Kahfi: 12), mungkin membuat kita terlena. Ada pernyataan ‘agar Kami mengetahui’, kita bisa terjebak menyimpulkan ada sesuatu yang Allah tidak mengetahui sehingga Ia berkata ‘agar Kami mengetahui’. Seakan-akan Allah memerlukan penelitian kepada perilaku manusia dan proses sejarahnya. Kalau kita berpikir linier, lurus-lurus, tidak peka terhadap lipatan dan tikungan, kita akan mudah terjebak oleh suatu formula informasi. Cobalah hitung di Al-Qur`an berapa banyak pernyataan Allah Maha Mengetahui sebagai kepastian absolut. Bahkan Maha Mengetahui itu merupakan salah satu simpul primer dari karakter-Nya, di mana berbagai tali-tali sifat lainnya terikat oleh patok Maha Mengetahui. Misalnya Maha Pencipta dan Maha Mengetahui [2] (Al-Hijr: 86), Maha Halus dan Maha Mengetahui [3] (Al-Mulk: 14), Maha Mendengar dan Maha Mengetahui [4] (Fushshilat: 36) dan di banyak Surat lainnya”.

search cart twitter facebook gplus whatsapp youtube image ornamen-left ornamen-right ornamen-center iqra